Rabu, 09 Februari 2011

sebuah catatan iseng ketika aku mengingatmu

Kembali kepada siang ini, tak ada degup yang menyimpang di dadaku, masih seperti hari kemarin, selalu saja sepi yang memainkan peran penting di setiap detik waktu yang berdetak di hidupku. Mungkin aku telah kalah atau mungkin waktu yang mengalahkanku, telak, hingga untuk bangkitpun seakan kakiku tak mampu menahan beban yang tertempa di bahu, tetapi, satu yang membuatku takkan pernah dan takkan ingin menghentikan detak dan detik yang berdetak di jantung dan hariku. Kamu. ya, kamu, wanita yang datang tibatiba, membawa kembali semua rasa yang pernah kuanggap telah tiada.

Ini sebuah kejujuran diri yang selama ini kusimpan jauh dan memilih tertawa dalam kekosongan, melangkah dalam kebersamaan yang asing, dan menertawakan dunia yang mencipta cerita negeri dongeng, dimana hidup selalu mempunyai cinta, serta ikut meneteskan airmata ketika hujan turun, karna aku sangat tahu, rinai hujan membuatku terpojok sendiri di pojok kerinduan, entah kerinduan akan apa dan kepada siapa? Tapi, kerinduan yang tak pernah punya alasan, sampai kau datang ke dalam kehidupanku. Dan kini kutahu pasti, kerinduan yang asing selama ini adalah kerinduanku akan hadirmu.

Ini catatan yang tumbuh dari keterasingan dan kerinduanku akanmu. Sebuah catatan yang menemaniku melewati panas terik siang ini, dimana puisipuisi mati di jiwa yang telah layu, untuk jiwa yang telah meniadakan cinta di dada mereka. Yang dulu sempat kurasakan, aku mati dikehidupanku, hingga kau datang membawa benih-benih yang kini kembali mekar di harihariku, sungguh, jika engkau adalah petani, maka kau adalah petani yang sangat berhasil dalam memanen bungabunga cinta di taman dadaku.

Semua terus tumbuh dan berkembang, di dadamu juga kubaca rindu yang serupa di dadaku, kita saling bermain di lingkaran yang hanya milik para dewa; cinta. Karna tak banyak yang mengerti arti kata itu sesungguhnya, seperti kita juga yang tak begitu mengerti, tetapi, dengan pasti kita bisa merasakannya, “semua yang tak terpikirkan tibatiba muncul ketika rasa itu menyelusup pelan di ruangruang kosong dadaku dan mu.”

Di nyatanya dunia saat ini, kita tahu, tak semua seperti apa yang kita inginkan, selalu ada luka yang kita harus dapatkan di tubuhku dan tubuhmu, namun selayaknya luka, selalu mampu membuat kita belajar untuk berdiri tegar menghadapi badai. Dan sungguh aku percaya, saat kita menyatu, kitalah pohon kokoh yang tumbuh di belantara cinta.

Senin, 07 Februari 2011

Nisan namaku di dadamu

sejak rindu
kau tancapkan
ke jantungku.

tak ada ketetapan
mampu mencabutnya

kecuali,
nisan kan bertuliskan
namaku, di dadamu.

X-andria

Jika kau masih mencintaiku, datanglah..

Jum’at Jam 09.00
Kantor Urusan Agama, Malang

X-andria


***
Setelah cukup lama memandangi dan mencoba mencerna isi dari sms itu, tibatiba baru kusadari hari ini adalah hari kamis sore, berarti aku harus segera berangkat ke stasiun, mengejar jam keberangkatan kereta api terakhir menuju Malang.

***
Tepat setengah jam sebelum keberangkatan kereta, aku sampai di stasiun gambir, dengan agak terburu-buru aku langsung menuju loket untuk membeli tiket, untuglah pada hari biasa begini, tidak perlu antri untuk mendapatkan tiket, seperti pada harihari libur atau hari besar keagamaan.
Stasiun gambir tak terlalu ramai malam ini, hanya ada beberapa calon penumpang yang terlihat menunggu keberangkatan kereta. Tak berapa lama menunggu, akhirnya kereta siap berangkat, sepertinya kereta hari ini berangkat cukup tepat waktu, semoga sudah baik sistem keberangkatan kereta apa di negeri ini.

***
Kesendirian perjalanan selalu menjadi waktu yang tepat untuk mengingat semua yang telah terlewat, seperti saat ini, ingatanku kembali membawaku berjalanjalan ke waktu tujuh tahun yang lalu, ketika secara tidak sengaja kita di pertemukan di bangku kereta ini oleh sebuah harapan untuk mampu mengubah jalan hidup. Ya, tujuh tahun yang lalu pertama kali aku mengenalmu ketika kau memilih duduk disampingku, ketika kereta berhenti di kotamu dan aku memaksakan diriku untuk mengajakmu mengobrol, untuk sekedar mengenalmu dan juga untuk membunuh waktu, agar tak terlalu angkuh mengurung kita dalam kesunyian yang senyap, yang tak cukup kedap untuk meredam getargetar antar gerbong yang mendekat-rengang, serupa ketakutan yang diamdiam menjalar di dada kita akan hari esok di kota yang tak pernah kita sentuh sebelumnya.
Jakarta, kau menyebutkan tujuanmu, yang juga menjadi tujuanku atau tujuan sebagian besar para pemuda-pemudi di negeri ini, setelah bergumul cukup lama dengan pendidikan, Jakarta selalu menjadi tempat yang tepat untuk menjalani ujian akhir dari keinginan untuk mencapai impian, sebuah pemikiran yang kuwariskan dari para pemuda pendahulu-pendahulu di desaku, yang saat ini malah aku tak tahu nasib mereka di kota Jakarta, tetapi, masih saja kulakukan apa yang telah mereka tanamkan di kepalaku, Jakarta adalah tempat segala impian akan tercapai. Ahh, sebuah pemikiran yang tak beralasan saat ini, karna, saat ini ternyata Jakarta telah mencuri semua impianku.

***
Ternyata, hidup di Jakarta jauh dari apa yang ada di pikiranku. Tiga bulan sudah aku berusaha untuk mencari pekerjaan sesuai dengan ijazahku, sarjana ekonomi dengan IPK diatas rata-rata dan lulusan universitas yang cukup ternama di kotaku, Surabaya, tak mampu juga untuk membuatku mendapatkan perkejaan yang sesuai dengan harapanku, tanpa kenalan memang cukup susah untuk mendapatkan perkerjaan di kota ini. Akhirnya, untuk membiayai hidup, karna sisa tabungan yang kukumpulkan waktu berkerja sambil kuliah dulu telah habis, aku bekerja sebagai operator di sebuah pabrik gelas, dan tetangga kontrakkanku yang sepertinya cukup kasihan melihat seorang sarjana ekonomi terluntalunta memasukkanku kerja ditempat ia bekerja, kebetulan ia kenal dengan bagian HRDnya. Tetapi, kau lebih beruntung, dengan wajah yang cantik, sangat mudah bagimu untuk mendapatkan perkerjaan sebagai front-liner di sebuah bank yang cukup lumayan besar di negeri ini.
Di antara kerasnya kehidupan Jakarta, ternyata putikputik cinta bermekaran di hati kita, entahlah, aku juga binggung kenapa kau lebih memilihku daripada temantemanmu yang jelas mempunyai banyak kelebihan daripada seorang operator di pabrik gelas.
Mungkin di saat ini aku percaya bahwa cinta itu buta.

***
Satu tahun setelah kita memutuskan untuk menjadi kekasih, kau meminta agar diperbolehkan tinggal bersamaku, tepatnya, setelah paman dan bibimu menyuruh untuk kembali ke kotamu di karenakan disuruh oleh kedua orangtuamu, yang telah menjodohkanmu dengan seorang yang sangat kaya dan terpandang di kotamu. Dan sebagai seorang kekasih aku meluluskan permintaanmu dengan satu syarat bahwa kita akan bertemu dengan orangtuamu dan aku akan mencoba meminta kepada mereka agar memperbolehkanmu untuk menjadi istriku.

***
Di stasiun kota baru, Malang. Dadaku berdegup dengan cepat, mataku hanya mampu memandang ke-arah lantai, terpaku kepada sebuah ketakberdayaan, sesekali airmata mengalir pelan kearah sudut bibir, asin, seasin hidup yang terlalu nyata untuk sebuah kehilangan. Masih teringat jelas jawaban kedua orangtua-mu ketika kuminta kau untuk menjadi istriku kepada mereka. Darimana bisa kudapatkan uang limapuluh juta rupiah sebagai penganti dirimu, belum lagi biaya pesta yang harus mewah, karna keluargamu mengharuskan sebuah pesta yang sangat besar untuk menjaga nama keluarga mereka. Ahh, permintaan yang tak mungkin akan bisa kukabulkan, betapa kerasnya aku akan mencoba. Meminta warisan kepada keluargaku, walau aku anak mereka satusatunya, tentu takakan bisa, bahkan dengan semua harta yang mereka miliki mungkin tak akan sebesar itu, keluargaku hanya keluarga petani musiman, yang mengarap tanah milik tuan tanah dan ketika panen hasilnya di bagi dengan pembagian yang tak cukup adil menurutku, setelah cukup lamalama bersusahsusah orangutaku hanya mendapatkan duapuluh lima persen dari keuntungan. Hanya cukup untuk biaya hidup mereka berdua, tak lebih.
Ada rasa ragu yang menyelimuti dadaku ketika kutinggalkan kau di pintu rumahmu, namun, ketakmampuanku lebih besar daripada rasa ragu itu sendiri. Betapa, saat ini semua telah di perdagangkan, semua seperti mempunyai nominal, bahkan termasuk cinta, sebuah kegaiban rasa yang entah berasal dari mana.
Baru saja ingin kulangkahkan kaki kedalam gerbong kereta, ketika sebuah tangan dengan kuliat yang sangat halus mengengam erat tanganku dengan refleks kupandang kearah samping, sebuah senyum terhias di sebuah wajah yang sangat kukenali, wajahmu, wajah yang mampu membuat semua luka yang kurasakan saat ini hilang secara tibatiba. Kau memilih untuk tetap bersamaku dan meninggalkan semua yang kau miliki.
Kaulah wanita pejuang yang selama ini kucari.
***
Lima tahun kita tinggal bersama, di sebuah rumah mungil pinggir kota, rumah yang kita beli dengan cara mencicil, yang pembayaran awalnya di talangi oleh kantormu, rumah yang menjadi impian kita untuk membangun keluarga kecil, keluarga kecil yang tak akan mungkin mendapat restu dari orangtuamu. Ya, sudah lima tahun berlalu sejak peristiwa aku memintamu kepada orangtuamu, sejak saat itu kita mulai mejalani kehidupan sendiri, kehidupan yang hanya ada aku dan kamu, walau sekalikali kita pulang ke rumah orangtuaku, yang selalu menerima kita, karna mungkin mereka tak pernah tahu bahwa kita sudah tinggal bersama. Rumah persembunyian kita, selayaknya persembunyian suatu saat pasti akan di ketahui juga, seperti hari ini, ketika seorang kakak lelakimu dan lima pemuda yang berbadan tegap secara tibatiba membuka pintu, tepatnya di buka dengan paksa, dan dengan gerakan seperti terlatih tibatiba lima lelaki tegap itu langsung memegangi tubuhku, dan kakakmu memegangmu, menarikmu secara paksa untuk ikut bersamanya, tentunya aku melawan tapi apalah artinya tenaga satu orang melawan lima orang yang bertubuh kekar dan tegap, di tengah pergumulanku melawan lima orang, karna ketidak-tegaanmu melihatku yang sudah mengeluarkan darah di sudut bibir dan hidung dan mungkin memang hampir sekarat, karna lamalama semua yang kulihat terasa kabur dan dibawah ancaman kakakmu untuk tak segansegan ingin membunuhku jika kau tidak ikut bersamanya kembali ke kotamu, akhirnya kau menyetujui untuk ikut bersamanya.

***
Berbulan-bulan kemudian aku mendengar kabar dari teman kerja yang baru saja masuk kerja ditempatku bekerja, mengabarkan bahwa kamu sudah menikah dengan pria yang dulu dijodohkan oleh orangtuamu, kebetulan teman kerjaku itu satu kota denganmu dan kebetulan juga kenal dengan suamimu, lagian siapa yang di kota itu tidak mengenal suamimu. Ahh, mungkin kau sudah bahagia sekarang, hidup dengan penuh kecukupan, jadi kubatalkan rencana untuk mencarimu.
Hingga, sebuah sms yang kuterima dengan tercantum namamu dibawahnya.

***
Matahari baru saja menampakkan wajahnya di kota ini, udara dingin yang menyegarkan menelusup ke paruparuku ketika baru saja kulangkahkan kakiku keluar dari gerbong kereta, masih ada cukup waktu untuk mengisi perutku yang mulai meminta untuk minta di perhatikan, setelah sepanjang perjalanan aku tak sempat untuk memperhatikannya.
Setelah mengisi perutku dengan sarapan yang secukupnya dan menanyakan kepada para penduduk arah kantor urusan agama kota Malang, aku langsung menuju kesana.

***
Jarum jam di jam tanganku menunjukkan angka 8:30, setidaknya begitulah angka yang terpampang di jam digital murahan produk dari negeri cina di tanganku, ketika aku tiba di kantor urusan agama kota Malang, dengan jantung berdebar tak beratur dan seribu pertanyaan hinggap di benak kepala, dengan sedikit paksaan kulangkah kaki memasuki ruangan. Ruangan gedung masih begitu lengang sepagi ini, hanya terlihat beberapa petugas yang mengunakan batik terlihat mondar-mandir, entah apa yang sedang mereka kerjakan, aku masih saja berdir tak bergerak sesampainya memasuki ruangan, aku binggung, kepada siapa dan apa yang harus kutanyakan, karna sms yang kuterima darimu tak mengabarkan apa-apa. Hanya menyuruhku kesini.
Mataku terus memandang sekeliling ruangan, tanpa tahu harus berbuat apa, ahh, betapa bodohnya aku, kenapa aku langsung percaya pada isi sms itu, tanpa berusaha menelpon balik ke nomor telponmu dan menanyakan ada apa waktu itu. Baiklah, akhirnya aku mengeluarkan telpon gengamku, mencari nomormu dan menekan tombol yang berwarna hijau, dan hampir disaat bersamaan kudengar sebuah telpon gengam berbunyi di ujung ruangan, telpon gengam seorang wanita yang sedang duduk membelakangiku, jadi aku hanya bisa melihat sebagian besar rambutnya, rambut hitam lurus dengan panjang sebahu, aku tersentak kaget, ketika dia menjawab hallo, karna ruangan di sini cukup tertutup jadi suaranya cukup terdengar sampai ketempatku berdiri, bukan suaranya yang membuat kutersentak, tapi suara hallo itu sama dengan suara yang kudengar di telpon gengamku. Wanita itu terus mengucapkan “hallo” dan sekali-kali memangil namaku dengan pelan, aku masih tak bisa berbuat apaapa, hanya berdiri dan mematung, seperti ada sebuah gaib yang menyihirku menjadi patung. Akhirnya, setelah bersusah payah ibu jari tangganku bisa juga kugerakkan memencet tombol yang berwarna merah; untuk menghentikan percakapan.

***
Wanita itu tampak terkejut ketika sekilas memandang kebelakang, dengan reaksi yang sangat spontan ia membalikkan seluruh badannya kearahku, matanya tampak tak percaya, entah kenapa, tiba-tiba airmata mengalir dari mata itu, mata yang memandang kearahku, aku yang ia pandang lekatlekat, tak kalah terkejutnya, tubuhku tak mampu bergerak sedikit pun, kakiku bergetar dan seakan menancap kelantai, menahan tubuhku yang beratnya seakan bertambah sepuluh kali lipat secara ajaib. Cukup lama juga aksi tatap-menatap ini berlangsung, hingga akhirnya wanita itu berlari kearahku, kemudian memeluk erat tubuhku, sementara aku masih tak mampu bereaksi apa-apa, kurasakan tubuhku semakin bergetar dengan cepat.
Beginikah jika kerinduan yang begitu sangat di hati bertemu dengan orang yang kita rindukan.
“apa yang kau lakukan disini?”
Pertanyaan yang keluar dari bibir wanita itu hanya mampu kujawab dengan keheningan, karna memang saat ini otakku tak mampu untuk berpikir, apalagi untuk menjawab pertanyaan. Saat ini, ketika kerinduan itu bertemu, semua di sekeliling seperti tak ada, hanya ada kau dan aku yang melepaskan semua sesak yang selama ini tersimpan di dada, kita tak perduli beberapa pandang mata mengawasi kita, seakan juga ikut mencerna apa yang terjadi di ruang ini.
Dengan refleks wanita itu melepaskan pelukannya di tubuhku ketika seorang pria yang cukup tampan dan berumur kirakira empat puluh tahunan, menghampiri kearah aku dan dia.
“kenalkan ini suamiku.” Wanita itu memperkenalkan lelaki yang baru datang itu kepadaku.
“tepatnya, mantan suami.” Lelaki itu tersenyum memandang kearahku.
Wajah wanita itu berubah, seakan tak mengerti apa yang terjadi, sama persis dengan wajahku.
“akhirnya, semua sudah datang. Sengaja aku mengundang kalian semua kesini untuk menyelesaikan semuanya.”lelaki itu melanjutkan ucapannya.
lalu ia menatapku “ akulah yang mengundangmu kesini, dengan memakai telponnya.”sambil matanya memandang kearah wanita yang berdiri di sampingku.
Perlahan-lahan aku dan wanita disampingku mulai mengerti apa yang terjadi. Ahh, jadi semua ini dia yang melakukannya. Tapi, aku masih diam tak mampu untuk mengucapkan katakata apapun.
“tadi aku sudah berbicara dengan para petugas, kami sudah mempersiapkan semuanya.”
Perkataan lelaki itu kembali membuat aku dan wanita di sampingku kembali ke-keadaan tak mengerti.
“hari ini akan menjadi hari yang sangat penting untukku dan sekaligus untuk kalian berdua, hari ini aku sudah menceraikannya dan hari ini aku juga akan menjadi wali untuk acara pernikahan kalian berdua.”
Lelaki itu terus bicara dan mengindahkan wajah kami yang di selimuti oleh keterkejutan dan ketakmengertian.
Lalu, lelaki itu memandang kearah wanita yang berdiri di sampingku dan terdiam sejenak sebelum melanjutkan berbicara.
“aku mencintaimu, sangat.”wajahnya masih menatap kearah wanita itu. Dan dengan suara yang agak berat, ia melanjutkan ucapannya.
“aku mencintai semua yang ada padamu, tetapi, yang paling aku cintai darimu adalah ketika kau tersenyum bahagia, senyum yang tak pernah kulihat ketika kau bersamaku.”bola mata lelaki itu tampak berair, sepertinya ia menangis, tapi ia berusaha untuk menahan keinginan itu.
“sekarang mari kita masuk keruang itu.”sambil menuntun kami ke sebuah ruangan, tempat ia tadi keluar.”disana sudah menunggu petugas untuk menikahkan kalian. Dan untukmu..”ia memandang kearahku.” Setelah pernikahan hari ini, bawa dan jagalah ia, karna aku tahu, bersamamulah kebahagian dia sesungguhnya. Dan untuk urusan keluarganya, biar aku nanti yang memberi pengertian kepada mereka, tak usah kalian pikirkan itu.”
Sejak memasuki ruangan ini belum satu katapun yang keluar dari mulutku, namun aku telah mengerti apa yang terjadi, dan aku hanya bisa memeluk lelaki itu, lalu terus berjalan menuju ruangan untuk pernikahan itu sambil mengengam tangan wanita disampingku yang juga semakin mengengam erat tanganku.



Villa nusa indah.

Senin, 31 Januari 2011

Sebuah Pengharapan

; x-andria.


x-andria. Di perkenalan ini tak perlu kita basabasi yang ternyata memang sudah basi untuk dicicipi oleh para pencari kejujuran hati seperti puluhan puisi yang kusimpan di almari dan tak lagi punya arti. Malam ini, kita berdua samasama tahu tak ada cinta antara kau dan aku karna terlalu larut malam dan kita samasama lelah akan keberpurapuraan.

x-andria. Dari pesan yang kau kirim lewat kedipan matamu dapat kubaca tentang benih yang diamdiam mulai tumbuh di kepala, sebuah bibit pengharapan dari tak sempurna kisah masalalu.

x-andria. Di zaman ini dimana kemunafikan lebih lacur daripada cinta, kita coba menyusun sebuah asa, tetap menjaga kesucian arti dari sebuah perkenalan, yang kini mungkin telah menjadi sebuah pengharapan. Maka, nikmati saja bunyi detak waktu tak perlu buruburu karna memang kita tak lagi ikut lomba kecepatan waktu.

keberpurapuraan hati.

Gelap mulai pupus terganti, semburat cahaya jingga di ujung timur mulai menampakkan kuasanya, udara dingin masih tersisa meraba kedinginan hati para pemimpi yang baru saja menyelesaikan mimpi-mimpinya dan kembali bangun untuk menampaki kenyataan yang memang harus ia jalani.

“dan semua sudah berakhir.” Kata terakhir yang kudengar sebelum pembicaraan melalui telepon gengam ini berakhir.

***
“hai sayang, nanti makan siang bareng ya, aku tunggu di tempat biasa.” Sebuah pesan singkat masuk ke telpon gengamku. Pukul sebelas lewat dua puluh tiga menit ketika kulirik jam di samping kanan laptop, sebentar lagi, aku mulai merapikan pekerjaan kantor yang belum selesai untuk kukerjakan, ini bisa menunggu, setelah selesai aku langsung keluar dari kantorku dan menitipkan pesan untuk sekretarisku, jika ada yang mencari dan menghubungiku katakan aku sedang ada urusan di luar dan suruh untuk melakukannya lagi setelah jam makan siang.

Aku melangkah cepat keparkiran mobil, karna tak ingin nantinya menghabiskan waktu lama di jalan, adalah hal yang sangat biasa ketika jam makan siang jalanan di penuhi oleh mobilmobil yang memaksa orang untuk bersabar dalam kemacetan. Sangat kontras memang yang terjadi dengan situasi di Negara ini, dimana sebagian banyak orang berpikir untuk makan apa hari ini dan sebagian lagi malah pusing memikirkan akan makan di restoran mewah yang mana hari ini. Apa urusanku, itu urusan pemerintah untuk memikirkan nasib mereka dan terserahlah mereka mau atau tidak untuk memikirkan kesejahteraan rakyat mereka, yang penting aku telah membayar pajak yang sudah menjadi kewajibanku sebagai penduduk yang tinggal di Negara ini untuk membayar gajigaji mereka, walau terkadang yang kudengar di berita mereka tak pernah perduli akan nasib rakyat dan malah sibuk memperkaya diri sendiri. Semua perbuatan akan dipertanggung jawabkan nanti setelah kematian.

***
“hi sayang, kamu udah datang duluan.” Lalu sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku.
“iya aku sengaja datang lebih cepat, menghindari macet.”
“kalo aku tahu kamu datang lebih awal, tadi aku juga akan keluar lebih cepat.”
“gak papa kok, aku juga memang hari ini ingin datang lebih cepat aja.” Ucapku yang membuat ia mengembangkan senyuman di bibirnya. Mungkin ia pikir aku datang karna aku merindukannya.
“udah pesan makanan belum?”
“belum, hanya segelas juice jambu ini.” Sambil kuangkat gelas yang sudah kosong, tadi berisi juice jambu yang memang sangat kusukai.
“ya udah, kamu mau makan apa?” dengan hanya sedikit anggukan seorang pelayan datang dengan cepat kemeja kami.
Setelah melihat daftar menu, aku memilih memesan stik ikan dan segelas juice jambu lagi.
“kamu kelihatan capek banget?”
“iya, tadi malam tidur agak larut, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Jawabku dengan kebohongan yang tak kuperlihatkan.
“jangan terlalu memaksakan diri, nanti kamu sakit lagi, lagian kenapa kamu gak menyuruh karyawab kamu aja untuk menyelesaikan pekerjaanmu?”
“mereka sudah mempunyai pekerjaan yang harus mereka urus, lagian bukan karna aku pemilik perusahaan aku harus seenaknya.”
“ya sudah, terserah kamulah.”
Tak lama kemudian pelayan mengantarkan makanan yang kami pesan tadi.
Waktu terasa berjalan begitu lama, cukup lama untuk berpura-pura memperhatikan dan menjawab pertanyaannya, sementara pikiranku melayang kekejadian tadi malam.
“oh ya, hari minggu temenin aku ke acara pernikahan ya.”
“siapa yang menikah?”
“aldi.”
“oo, sahabatmu itu, kenapa ia tak memberitahukanku juga ya.”
“mungkin ia sibuk, mengatur acara pernikahannya.”
“baiklah.”

***
Laju mobil kupacu begitu lamban, seakan tak ingin sampai ketempat yang akan membuatku kehilangan selamanya.
Di sebuah gedung yang cukup ternama dibilangan jalan gatot soebroto, aku memakirkan mobilku. Ternyata cukup ramai juga yang datang sampaisampai aku cukup lama berputarputar agar bisa memakirkan mobilku.
“tunggu sebentar ya, aku ingin merokok sebatang dulu.”
“ya sudah, tapi jangan terlalu banyak merokok ya, gak baik buat kesehatanmu.”

***
Langkah kaki terasa begitu berat untuk dilangkahkan langkah demi langkah. Cukup meriah pestanya, terbukti dengan design panggung, makanan yang beraneka ragam dan mahal pula tentunya dan juga para tamu yang cukup banyak. Dan terlebih lagi banyak para pejabat penting di Negara ini yang hadir dan aku cukup sering melihatnya tampil di acaraacara televisi.
Kaki terus melangkah dan kusadari semakin jauh aku melangkah kedalam pesta semakin dekat akhir dari cerita, yang telah lama kujalani, itulah di saat dimana aku bisa merasakan kebahagian sejati, kebahagian yang memang hanya dimiliki oleh hati, karna hatilah sumber kebahagian sejati bukan yang lain.
Berpasang-pasang mata tampak mengarah kepadaku, tetapi, tepatnya bukan kearahku karna mata mereka liar menatap seorang wanita yang sangat cantik berjalan di sampingku sambil mengandeng lenganku. Betapa beruntungnya lelaki itu. Ada keirian ditatapan mata mereka, padahal aku tahu bahwa banyak diantara mereka yang memiliki istri atau kekasih simpan lebih dari satu, tetapi memang seperti itulah kenyataan, harta, jabatan dan wanita selalu membuat kita lupa akan semuanya.
Perasaanku bercampuk aduk, ketika langkah kakiku mulai menaiki panggung, sepertinya, aku sangat mengutuki diriku sendiri karena telah memutuskan untuk datang ketempat ini, dan berjanji tak akan pernah memaafkannya. Satu per satu aku mulai menyalami keluarga para pengantin, kulihat tatapan kebahagian di mata mereka, betapa harapan mereka yang telah tersimpan sejak lama, mungkin sejak para pengantin belum menghirup udara dunia ini untuk pertama kalinya, sebuah perjanjian yang tak mengikuti para pengantin, sebuah kebahagian yang sampai saat ini sangat sulit untukku mengerti. Bukankah kebahagian itu adalah apa yang dirasakan dari hati.
Dari semua mata yang berdiri di atas panggung ini, hanya matamu yang memancarkan pandangan yang berbeda, pancaran mata yang terbebani oleh keterpaksaaan, katakmampuan melawan sebuah keadaan dan ketakberanian memperjuangkan keinginan, pancaran mata dengan kemengertian bahwa akan menjalani hidup keberpurapuraan sampai nafas terakhir di hidupnya. Adakah penderitaan melebihi keberpurapuraan seumur hidup.
Setelah menyalami semua yang ada diatas panggun, kakiku terasa bergerak dengan cepat untuk meninggalkan pesta pernikahan ini, dan mengengam tangan wanita yang berjalan di sampingku lebih erat, ia pun membalas gengam itu semakin erat. Mungkin ia berpikir aku setelah melihat pesta ini aku akan segera menikahinya.
Tapi, pikiran berkecamuk lain di kepalaku, pikiranku melayang pada pembicaraan di telpon gengam tadi malam. Dan kini dengan sangat aku mengertinya, aku membebaskanmu, apaun itu yang kaupilih untuk hidupmu, termasuk keberpurapuraan seumur hidupmu.
“maafkan aku untuk tak bisa lagi bersamamu, semua sudah berbeda kini, dan kita tak bisa lagi memeperjuangkan perasaan kita, mereka tak akan pernah mengerti tentang apa yang terjadi antara kita, termasuk apa yang dirasakan oleh hati kita, tapi, ketahuilah sampai kapanpun kau tetap kekasihku. Dan semua sudah berakhir.” Ucap lelaki yang menjadi pengantin hari ini kepadaku tadi malam.

Sabtu, 29 Januari 2011

Kali ini biarkan aku menghujat.

Kali ini akan kuhujat terik matahari yang menghitam-legamkan kulit anakanakku ketika siang membakar pikiran di kepala mereka di perempatan-perempatan lampu merah untuk berbelas iba dan mencuri rejeki dari pengendara kuda besi yang tak lagi mempunyai nurani, mencuri sesuatu yang mungkin sebagian adalah hak mereka.

Di Negeri yang tak mempunyai pemimpin ini adalah para aktor-aktor hebat yang memainkan kuasa persis pemeran bintang senitron di sinetron murahan yang setiap hari ditayangkan di layar kaca milik orang kaya di negeri sandiwara ini.

Tak ada yang peduli nasib mereka, para pemimpin menutup mata, hanya memikirkan berapa banyak nominal uang ketika akhir bulan slip gaji diselipkan di kantong celana dekat kemaluan mereka yang memang sudah tak punya malu.

Kali ini biarkan aku terus menghujat hingga nafasku lewat seperti syahwat para penguasa yang memilih tidur di hotel mewah ditemani modelmodel cantik yang wajah dan dadanya disumpal silikkon buatan para pekerja salon daripada pulang ke rumah dimana para nyonya sedang sibuk berlomba untuk mendapatkan perjaka di sebuah acara arisan yang memang menghadiahkannya.

Jumat, 28 Januari 2011

Menunggu pagi membunuhku.

Bila esok pagi kau terbangun
Sapalah endapan embun di kelopak mawar
Kuberharap, ia mampu berimu kelembutan
Sepercik kasih mewangikan harimu

Hati tak selamanya berjabat
Musim berganti
Tunastunas mulai tumbuh
Semua berubah, karna ialah yang abadi

Bila esok pagi tak kau temukan aku lagi
Mungkin mimpi membawaku pergi
Sepertimu, yang telah dicuri waktu dariku
Diculik ke-tak-berani-anmu

Sementara Sepingan sajak hatiku di meja makan
telah kau biarkan basi dalam sepi


kita samasama tahu
waktu adalah pisau bermata dua
dimana setiap sisinya selalu mencipta luka

kau tahu sayang,
malam ini begitu sunyi
udara dingin bekukan rindu di hatiku
lampulampu kota mematung dalam diam
dan aku berjalan dalam kesendirian
menanti pagi membunuhku.