Tampilkan postingan dengan label mungkin cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mungkin cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Agustus 2011

jalan hati (cerita...)

Jalan Hati

“kau tikam aku dengan cintamu dan rasanya manis sekali, rasanya manis sekali, kau beri aku surga dunia, dan rasa ingin kuulangi, rasa ingin kuulangi….”
Suara band winner terdengar dari telpon gengamku, sebuah nada panggil khusus yang kutujukan hanya untuknya.
“hallo”
“hallo juga” jawabku.
“nanti malam setelah jam kerja kita ketemu di hotel tempat biasa ya, aku sudah booking tadi.”
Tanpa menunggu jawabanku telpon itu telah terputus.
***
Memang, jam istirahat makan siang seperti ini selalu kami pergunakan untuk saling menelpon, atau mengatur janji untuk bertemu setelah usai jam kerja, selalu, sejak pertama kali ia kembali kedalam kehidupanku. Tepatnya, satu tahun yang lalu ketika tiba-tiba ia menelponku dan bercerita tentang apa yang dirasakannya, sebuah penyesalan. Rasa sesal atas sebuah keputusan yang diambilnya dulu, rasa sesal ketika ia lebih memilih logika dan keluarganya daripada perkataan hatinya.
Memang, tiga tahun yang lalu, ia memutuskan untuk mengikuti keinginan orangtuanya untuk menikah dengan pilihan mereka dan memutuskan hubungan kami yang sudah cukup lama, enam tahun, ya enam tahun, bukanlah waktu sebentar untuk sebuah hubungan. Tetapi, yang lebih tak bisa kuterima dari itu semua; bahwa kami saling menyayangi dan saling membutuhkan satu dengan yang lain. Namun, saat itu tak ada yang mampu kuperbuat, karna apalah yang bisa di lakukan seseorang yang tak mempunyai kekuatan apa-apa, seseorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Maka, kurelakan ia pergi dan memilih untuk menghilang. dan satu tahun yang lalu tiba-tiba ia datang kembali.
Mungkin memang begitulah hati; mempunyai caranya sendiri untuk menemukan jalannya, jalan yang membimbingnya untuk pulang, pulang kemana ia seharusnya bermukim. Dan begitu juga dengan cinta, ia tak akan pernah benar-benar mati, mungkin ia hanya bisa ditidurkan sebentar, hingga suatu hari ia bangun kembali dan mencari serta menyusun kembali keeping-keping kisah yang pernah terpecah. Dan tak ada kekuatan yang mampu menghentikan, seperti saat ini, ketika kau dan aku bertemu kembali.
***
Jalanan Jakarta ketika jam pulang kerja seperti ini sangat macet, vespaku melaju dengan ragu, seperti mengerti atas apa yang ada dipikiranku saat ini, keraguan atas telponnya siang tadi, tidak seperti biasanya ketika ia mengakhiri percakapannya denganku, biasanya setiap ia mengakhiri telponnya selalu mengucapkan kerinduan dan rasa cintanya. Tapi, kali ini sepertinya ia terburu-buru dan suaranya berat dan seperti seseorang yang mengucapkan dengan terpaksa.
Setelah satu jam-an bergelut dengan kemacetan jalan dan keraguan di pikiranku, akhirnya aku memasuki lobby hotel juga. Lobby hotel sepi, hanya terlihat beberapa pegawai hotel yang duduk-duduk di ruang resepsionis, memang di hari-hari kerja seperti saat ini hotel ini tidaklah begitu ramai, sangat berbeda ketika akhir pecan. Dan karna tidak terlalu ramai itulah makanya kami suka janjian ketemu di sini, di hari kerja tentunya.
Aku langsung menuju ke kamar yang dia sebutkan melalui sms yang ia kirim kepadaku, setelah telponnya siang tadi.
***
Entah sengaja atau tidak ternyata memang pintu kamar itu tak terkunci, tidak seperti biasanya, dimana pintu kamar selalu terkunci ketika ia yang datang lebih dulu ke hotel ini dan aku harus mengetuknya terlebih dahulu, namun kali ini pintu tidak terkunci. Dengan sedikit ragu kubuka juga pintu kamar, kulihat kau duduk di salah satu kursi yang berada di samping tempat tidur, kau hanya diam dan menatap kepadaku, ada yang aneh, ketika kutatap wajahmu kau mengelengkan kepalamu seakan menyuruhku untuk tidak masuk ke dalam kamar, dan tentunya saat itu aku tak memperdulikan perasaan itu. Aku masuk ke kamar dan menutup pintu.
Airmata menetes darimatamu seiring langkah kakiku mendekat ke-arahmu, wajahmu semakin memucat, ketegangan tampak di wajah tanpa senyum itu, tidak seperti biasanya ketika kau menyambutku datang, selalu penuh dengan kecerian dan senyuman. Tapi kali ini semua sangat berbeda. Langkahku berhenti menujumu ketika sebuah benda dingin menempel di kepala sampingku, sebuah benda bulat, ujung pistol, aku terdiam tak mampu bergerak.
Airmata semakin deras menetes dari kedua matamu, tapi tak ada kata yang keluar dari mulutmu, kau memandang lekat kearah lakilaki yang wajahnya tak mampu kulihat yang berdiri di sampingku sambil menodongkan pistol ke kepalaku. Pandangan mata dengan kebencian yang teramat sangat, pandangan yang tak pernah kusaksikan sebelum hari ini.
“dorrr…”.
Keheningan terpecah oleh suara pistol yang meledak itu. Tak ada kesakitan, hanya kakiku seakan tak mampu lagi menahan berat tubuhku, dan pandangan mata yang semakin nanar, tetapi pandangan mataku tak pernah lepas dari wajahmu.
Sebelum tubuhku roboh, aku tersenyum ketika melihat wajahmu ikut tersenyum ketika pistol yang baru saja meledak itu juga mengarah kearahmu, dan itu adalah senyuman terindahmu semenjak kita bertemu kembali, seakan semua beban yang mengikutimu selama ini terlepas dari hatimu, sehingga hanya menyisakan cinta kita. Hanya cinta kita.

Rabu, 06 April 2011

aku hidup, ketika kau milikku

Aku sangat mencintainya. Sungguh. Dan untuk perasaanku kepadanya aku tak akan pernah berbohong kepada siapapun termasuk kalian. Terlebih saat ini aku tak perduli lagi kepada perkataan siapapun. Dia, Lelaki yang menjadi kekasihku sejak aku masih duduk di kelas 2 SMA, tujuh tahun dia menjadi kekasihku, cukup lama memang, cukup lama untuk membuat dirinya abadi dan tak tergantikan di hatiku, bahkan sampai saat ini dan mungkin juga nanti.
Kukatan juga, bersamanya, waktu terasa cukup cepat berlalu, sepertinya takkan pernah cukup waktu dalam sehari. Entah mengapa, dialah satu-satunya lelaki yang mampu membuatku tertawa dan menangis dalam satu waktu, ahh, betapa aku sangat mencintai dan tak bisa tanpanya di sampingku.
Namun seiring waktu berjalan lambatlaun aku tahu hidup terlalu singkat hanya untuk sebuah cinta saja, masih banyak hal di luar dari itu, ada kebahagian-kebahagian lain selain dari cinta. Dan kebahagian itu yang tak kudapatkan dari lelaki yang sangat aku cintai. Aku mulai mencari kebahagian lain itu, pas ketika aku sudah kuliah dan melaksanakan praktek kerja lapangan ada seorang lelaki yang mendekati dan ingin menjalin hubungan denganku, lelaki yang membawa kebahgian lain selain dari kebahagian cinta, lelaki yang mempunyai pekerjaan tetap dan jabatan cukup tinggi di tempatku melaksanakan praktek kerja lapangan, dan juga laki-laki yang mengunakan kemeja dan celana panjang bahan. Sangat berbeda jauh dengan lelaki yang kucintai, sebagai mahasiswa di sebuah universitas dan bersifat cuek, ia seakan tak pernah mengenal kemeja dan celana bahan.
Tak lama hubungan sembunyiku dengan lelaki yang satu kantor denganku, mungkin karna baru pertama kali menjalani hubungan seperti itu, akhirnya lelaki yang aku cintai itu mengetahui hubungan kami, ia akhirnya mengambil keputusan untuk mengakhir hubungan yang sudah lama kami jalani, tetapi, aku yang tidak menyetujuinya, dengan meminta maaf dan memberi alasan apa saja agar ia mau memaafkanku serta juga dengan mengiba kepadanya, ia pun akhirnya mau kembali bersamaku, tentu dengan syarat aku harus mengakhiri hubungan sembunyiku itu, yang tentu saja aku akhiri.
Setelah lulus kuliah dengan bermodal ijazah dari sebuah akademi sekretaris yang cukup ternama dan juga dengan wajahku yang cukup cantik, banyak orang yang berkata seperti itu kepadaku, dengan mudah bisa kudapatkan pekerjaan sebagai seorang sekretaris muda di sebuah perusahaan di bilangan thamrin. Jarak yang cukup jauh rumah dan kantor, lelaki yang kucintai dengan senang hati antar-jemputku, karna memang waktu itu dia masih mengangur dan belum punya kesibukan apa-apa.
Sebagai seorang sekretaris aku mulai dekat dengan bosku, seorang lelaki yang tak terlalu tua, masih sekitar 40 tahunan, lelaki yang sudah beristri tapi belum di karuniai seorang anak. Karna cukup dekat dan kebetulan rumahku dan rumahnya se-arah jadi dia menawarkan untuk pergi dan pulang bersamanya. Dan akhirnya aku menerima ajakannya setelah agak bersusah payah memberi alasan kepada lelaki yang kucintai, karna bagaimanapun menurutnya, pasti kalo seperti itu terus akan terjadi kecemburuan oleh karyawan lainnya. Atau mungkin tepatnya ia juga cemburu.
Mulai saat itu aku selalu dijemput-antar oleh bosku, di karenakan seringnya kebersamaan kami akan semakin dekat, kedekatan ini membuat pemikiran yang sempat aku hilangkan dulu kembali lagi, bahwa kebahagian itu bukan hanya tentang cinta, ada banyak kebahagian di luar itu, seperti saat ini, dimana bosku selalu memanjakanku dengan kemewahan, membelikan barangbarang mahal, makan siang dan makan malam di tempat mahal, dan saat itu aku menikmatinya, sangat menikmatinya, menurutku saat itu, sangat wajar seorang wanita menyukai kemewahan, karna dengan kemewahan itulah dia akan tampak lebih cantik dan indah.
Dengan cara bosku yang memperlakukanku seperti itu, akhirnya hubungan kami tak lagi seperti seorang atasan dan bawahan, kami lebih mirip seperti sepasang kekasih, tetapi kami sepakat ketika libur kerja, kami tidak saling menghubungi dan waktu kami sepenuhnya buat orangorang di sekitar kami. Hubungan ini berjalan cukup lama.
Namun, tak ada kebohongan yang benar-benar abadi, suatu hari pasti akan ketahuan, seperti saat itu, ketika pulang kerja, aku dan bosku mampir ke sebuah hotel yang cukup mewah di daerah casablanca, entah kenapa malam itu sebenarnya aku agak malas untuk ikut kesana, tetapi karna ajakan bosku akhirnya aku ikut, benar saja firasatku, ketika baru saja sampai di lobby hotel aku berpapasan dengan lelaki yang aku cintai, disana dia baru saja menghadiri undangan pesta ulang tahun teman waktu kuliahnya, dia berjalan ke arah keluar sedangkan aku berjalan arah masuk ke hotel, sekilas pandangan kami beradu, aku merasakan kakiku lemas dan jantungku seakan berhenti berdetak, pasti akan terjadi keributan besar pikirku, tetapi tidak, dia hanya memandangku sekilas dengan tatapan benci dan terus berjalan keluar, mataku terus mengikutinya, dia berjalan tanpa menoleh ke arahku, saat itu aku tahu apa yang ada dipikirannya, tanpa berpikir lagi aku lari menyusulnya dan memangil namanya, tapi ia tak menoleh sedikitpun terus berjalan keluar, sampai akhirnya aku menghentikan tubuhnya.
Seluruh mata di lobby hotel ini memandang kearah kami, aku tak perduli, aku benarbenar tak ingin kehilangannya di hidupku, sungguh aku sangat mencintainya.
Dia berhenti dan memandang kearahku, tapi tak mengeluarkan satukata apapun, yang aku ingat, saat itu aku terus menangis dan memohon kepadanya untuk mendegarkan semua alasan yang aku berikan, tapi ia tetap tak memperdulikan, aku terus menangis bahkan sampai bersujud di kakinya untuk meminta maaf, ia tetap tak perduli dan terus melangkahkan kakinya sambil mengucapkan sebuah kalimat. “kini, tak ada apa-apa lagi antara kita berdua.” Aku tak terima atas perkataannya, sungguh, aku sangat mencintainya dan tak bisa tanpa dia ada di sampingku.
“jika memang kau tak bisa bersamaku lagi, sebaiknya aku mati saja.” Tanpa pikir panjang lagi aku berteriak kepadanya.
Masih kurasakan tatapan mata heran dan seribu pertanyaan yang hinggap di kepala orang-orang yang berada di lobby hotel, termasuk bosku sendiri yang hanya mampu berdiri mematung melihat yang aku lakukan. Sungguh, aku tak perduli, kalo tentang dia, lelaki yang aku cintai, aku takakan memperdulikan lainnya. Tetapi lelaki itu tetap tak perduli dengan katakataku, ia tetap berjalan keluar, hingga ketika ia mendengar suara benturan cukup keras baru ia berlari ke-arahku.
Saat itu, tibatiba sebuah tangan menahan tubuhku, ya, tangan lelaki yang sangat aku cintai, kurasakan jantungku kembali berdetak ketika tangannya merangkul tubuhku, aku juga merasakan tangannya menyentuh bagian kepalaku, terasa perih, tapi demi bisa untuk bersamanya lagi aku rela merasakan puluhan kali perih dari perih ini. Darah terus mengucur dari luka di kepalaku, luka akibat benturan atau tepatnya sengaja kubenturkan antara kepalaku dan dinding tembok di pintu masuk hotel, darah mengalir membasahi bajuku kami, matanya seakan menatap kasihan kepadaku.
“kembalilah kepadaku, jika tidak aku tak ingin hidup lagi dan terus akan melakukan ini.”
Aku tahu, dia tak akan pernah ingin melihatku menderita. Dan aku sangat tahu itu.
***
Setelah kejadian malam itu aku memilih berhenti bekerja di perusahaan itu dan juga berhenti berhubungan dengan mantan bosku. Aku memilih menjalani hubunganku dengan lelaki yang aku cintai, membangun kembali hubungan kami yang dulu, aku berusaha keras untuk itu, tetapi tetap saja pandangan mata itu tak pernah berubah sejak kejadian malam itu, cara lelaki yang kucintai itu telah berubah ketika memandangku, seakan semua perasaannya telah ikut berubah pula, aku tak perduli, karna yang aku tahu, dia tetap ada di sampingku, itu sudah cukup.
***
Tak lama setelah berhenti dari pekerjaan aku kembali mendapatkan perkerjaan di daerah perkantoran di bilangan sudirman, sebuah perusahaan yang bergerak dibidang asuransi. Keadaan memang telah berubah, lelaki yang kucintai tak pernah mau antar-jemputku lagi, sehingga mau tak mau aku harus berusaha sendiri untuk sampai ke kantor, untungnya, di depan perumahanku banyak mobil omprengan pribadi yang ke-arah sudirman. Sebuah mobil yang sepertinya sengaja diperuntukkan untuk para karyawan yang bekerja di daerah sudirman.
Di mobil itu, dikarenakan seringnya naik mobil omprengan yang sama, akhirnya aku kenal dengan seorang lelaki, ia berkerja di sebuah perbankan yang cukup ternama di negeri ini, sebagai seorang karyawan bank ia berpenampilan sangat rapi, apalagi dengan posisi yang ia jabat. Hari ke hari akhirnya kami semakin dekat, mulai sering telponan, BBM-an, serta sekalikali kami janjian makan siang.
Aku menikmati kedekatan itu, hingga suatu hari aku sadar, lelaki yang aku cintai seperti menghilang dariku, tak ada kabar lagi darinya, nomor telponnya pun tak aktif, bahkan ketika aku tanya kepada keluarga dan temantemannya, mereka pun bilang tak ada yang tahu kabarnya.
Satu bulan sudah aku mencari kabarnya, tetapi tetap tak kutemukan sedikitpun berita tentangnya, ia seperti hilang ditelan bumi. Namun, aku yakin suatu saat ia akan kembali kepadaku, jadi selama menunggu ia kembali aku tetap menjalani kedekatanku dengan lelaki yang kutemui di mobil omprengan itu.
***
Delapan bulanan tepatnya tak jua kudapatkan kabar dari lelaki yang kucintai itu, hingga suatu hari seorang temannya mengantarkan sebuah undangan kepadaku, sebuah surat undangan pernikahan, temannya tidak mengatakan apa-apa, setelah memberikan surat undangan itu, ia bergegas pergi.
Jantungku berdetak dengan cepat, kakiku lemas seakan tak mampu menahan bobot tubuhku, aku terjatuh dengan tangan tetap mengengam surat undangan itu, namanya tercantum disana, nama lelaki yang kucintai.
Seharian itu, aku tak tahu apa yang harus kulakukan, beribu pikiran melayang bebas di kepalaku, sungguh aku sangat mencintai, aku tak bisa hidup tanpanya, apalagi menerima kenyataan bahwa dia akan menjadi milik oranglain. Aku tak bisa menerima semua kenyataan ini.
***
Tiba-tiba esok harinya ia datang menemuiku, kulihat pandangan di matanya telah berubah, pandangan mata itu kembali seperti dulu, pandangan mata lembut yang penuh dengan kasih sayang, tatapan mata yang dulu sangat kusukai, tetapi saat ini tatapan mata itu sangat aku benci, karna tatapan itu bukan lagi untukku, tetapi untuk seorang wanita yang berjalan di sampingnya.
Dia dan wanita itu terus berjalan ke arahku, aku cemburu, sangat cemburu, aku benci wanita itu, sangat. Tetapi, aku hanya bisa terdiam terpaku tanpa mampu melakukan apapun.
Kini mereka tepat di hadapanku. Lelaki yang kucintai itu, kini berlutut di hadapanku dan mengengam tanganku, kepalanya tertunduk, cukup lama ia menundukkan kepalanya, hingga aku lihat ada yang terjatuh dari matanya, airmata, oh, ia menangis, benar ia menangis, dan saat itu aku sadar bahwa ia juga masih mencintaiku.
Airmatanya terus mengalir jatuh ke lantai, diantara doa-doa yang berkumandang dalam ruang tamu rumahku, airmata itu menjadi pertanda bahwa ia juga kehilangan sepertiku.
“sayang kembalilah kepadaku, sungguh, aku tak bisa hidup tanpa memilikimu.” Katakata itu keluar dari mulutku, tapi sepertinya ia tidak mendengar. Berulang kali kuulang katakataku dan semakin kencang, sepertinya aku mengucapkan hingga berteriak, tetapi ia tetap acuh, seperti tak mendengar katakataku.
Cukup lama aku mengulang katakataku sendiri, hingga kusadari lelaki yang kucintai itu berdiri dan melepaskan gengamannya di tanganku dan beranjak pergi. Ahh, sekejap kulihat ada garis luka di sekitar pergelangan tanganku, aku binggung.
Belum selesai kebinggunganku tentang luka di pergelangan tanganku, tiba-tiba orang-orang beramai-ramai mengotong tubuhku dengan doa-doa keluar dari mulut mereka.

Senin, 07 Februari 2011

X-andria

Jika kau masih mencintaiku, datanglah..

Jum’at Jam 09.00
Kantor Urusan Agama, Malang

X-andria


***
Setelah cukup lama memandangi dan mencoba mencerna isi dari sms itu, tibatiba baru kusadari hari ini adalah hari kamis sore, berarti aku harus segera berangkat ke stasiun, mengejar jam keberangkatan kereta api terakhir menuju Malang.

***
Tepat setengah jam sebelum keberangkatan kereta, aku sampai di stasiun gambir, dengan agak terburu-buru aku langsung menuju loket untuk membeli tiket, untuglah pada hari biasa begini, tidak perlu antri untuk mendapatkan tiket, seperti pada harihari libur atau hari besar keagamaan.
Stasiun gambir tak terlalu ramai malam ini, hanya ada beberapa calon penumpang yang terlihat menunggu keberangkatan kereta. Tak berapa lama menunggu, akhirnya kereta siap berangkat, sepertinya kereta hari ini berangkat cukup tepat waktu, semoga sudah baik sistem keberangkatan kereta apa di negeri ini.

***
Kesendirian perjalanan selalu menjadi waktu yang tepat untuk mengingat semua yang telah terlewat, seperti saat ini, ingatanku kembali membawaku berjalanjalan ke waktu tujuh tahun yang lalu, ketika secara tidak sengaja kita di pertemukan di bangku kereta ini oleh sebuah harapan untuk mampu mengubah jalan hidup. Ya, tujuh tahun yang lalu pertama kali aku mengenalmu ketika kau memilih duduk disampingku, ketika kereta berhenti di kotamu dan aku memaksakan diriku untuk mengajakmu mengobrol, untuk sekedar mengenalmu dan juga untuk membunuh waktu, agar tak terlalu angkuh mengurung kita dalam kesunyian yang senyap, yang tak cukup kedap untuk meredam getargetar antar gerbong yang mendekat-rengang, serupa ketakutan yang diamdiam menjalar di dada kita akan hari esok di kota yang tak pernah kita sentuh sebelumnya.
Jakarta, kau menyebutkan tujuanmu, yang juga menjadi tujuanku atau tujuan sebagian besar para pemuda-pemudi di negeri ini, setelah bergumul cukup lama dengan pendidikan, Jakarta selalu menjadi tempat yang tepat untuk menjalani ujian akhir dari keinginan untuk mencapai impian, sebuah pemikiran yang kuwariskan dari para pemuda pendahulu-pendahulu di desaku, yang saat ini malah aku tak tahu nasib mereka di kota Jakarta, tetapi, masih saja kulakukan apa yang telah mereka tanamkan di kepalaku, Jakarta adalah tempat segala impian akan tercapai. Ahh, sebuah pemikiran yang tak beralasan saat ini, karna, saat ini ternyata Jakarta telah mencuri semua impianku.

***
Ternyata, hidup di Jakarta jauh dari apa yang ada di pikiranku. Tiga bulan sudah aku berusaha untuk mencari pekerjaan sesuai dengan ijazahku, sarjana ekonomi dengan IPK diatas rata-rata dan lulusan universitas yang cukup ternama di kotaku, Surabaya, tak mampu juga untuk membuatku mendapatkan perkejaan yang sesuai dengan harapanku, tanpa kenalan memang cukup susah untuk mendapatkan perkerjaan di kota ini. Akhirnya, untuk membiayai hidup, karna sisa tabungan yang kukumpulkan waktu berkerja sambil kuliah dulu telah habis, aku bekerja sebagai operator di sebuah pabrik gelas, dan tetangga kontrakkanku yang sepertinya cukup kasihan melihat seorang sarjana ekonomi terluntalunta memasukkanku kerja ditempat ia bekerja, kebetulan ia kenal dengan bagian HRDnya. Tetapi, kau lebih beruntung, dengan wajah yang cantik, sangat mudah bagimu untuk mendapatkan perkerjaan sebagai front-liner di sebuah bank yang cukup lumayan besar di negeri ini.
Di antara kerasnya kehidupan Jakarta, ternyata putikputik cinta bermekaran di hati kita, entahlah, aku juga binggung kenapa kau lebih memilihku daripada temantemanmu yang jelas mempunyai banyak kelebihan daripada seorang operator di pabrik gelas.
Mungkin di saat ini aku percaya bahwa cinta itu buta.

***
Satu tahun setelah kita memutuskan untuk menjadi kekasih, kau meminta agar diperbolehkan tinggal bersamaku, tepatnya, setelah paman dan bibimu menyuruh untuk kembali ke kotamu di karenakan disuruh oleh kedua orangtuamu, yang telah menjodohkanmu dengan seorang yang sangat kaya dan terpandang di kotamu. Dan sebagai seorang kekasih aku meluluskan permintaanmu dengan satu syarat bahwa kita akan bertemu dengan orangtuamu dan aku akan mencoba meminta kepada mereka agar memperbolehkanmu untuk menjadi istriku.

***
Di stasiun kota baru, Malang. Dadaku berdegup dengan cepat, mataku hanya mampu memandang ke-arah lantai, terpaku kepada sebuah ketakberdayaan, sesekali airmata mengalir pelan kearah sudut bibir, asin, seasin hidup yang terlalu nyata untuk sebuah kehilangan. Masih teringat jelas jawaban kedua orangtua-mu ketika kuminta kau untuk menjadi istriku kepada mereka. Darimana bisa kudapatkan uang limapuluh juta rupiah sebagai penganti dirimu, belum lagi biaya pesta yang harus mewah, karna keluargamu mengharuskan sebuah pesta yang sangat besar untuk menjaga nama keluarga mereka. Ahh, permintaan yang tak mungkin akan bisa kukabulkan, betapa kerasnya aku akan mencoba. Meminta warisan kepada keluargaku, walau aku anak mereka satusatunya, tentu takakan bisa, bahkan dengan semua harta yang mereka miliki mungkin tak akan sebesar itu, keluargaku hanya keluarga petani musiman, yang mengarap tanah milik tuan tanah dan ketika panen hasilnya di bagi dengan pembagian yang tak cukup adil menurutku, setelah cukup lamalama bersusahsusah orangutaku hanya mendapatkan duapuluh lima persen dari keuntungan. Hanya cukup untuk biaya hidup mereka berdua, tak lebih.
Ada rasa ragu yang menyelimuti dadaku ketika kutinggalkan kau di pintu rumahmu, namun, ketakmampuanku lebih besar daripada rasa ragu itu sendiri. Betapa, saat ini semua telah di perdagangkan, semua seperti mempunyai nominal, bahkan termasuk cinta, sebuah kegaiban rasa yang entah berasal dari mana.
Baru saja ingin kulangkahkan kaki kedalam gerbong kereta, ketika sebuah tangan dengan kuliat yang sangat halus mengengam erat tanganku dengan refleks kupandang kearah samping, sebuah senyum terhias di sebuah wajah yang sangat kukenali, wajahmu, wajah yang mampu membuat semua luka yang kurasakan saat ini hilang secara tibatiba. Kau memilih untuk tetap bersamaku dan meninggalkan semua yang kau miliki.
Kaulah wanita pejuang yang selama ini kucari.
***
Lima tahun kita tinggal bersama, di sebuah rumah mungil pinggir kota, rumah yang kita beli dengan cara mencicil, yang pembayaran awalnya di talangi oleh kantormu, rumah yang menjadi impian kita untuk membangun keluarga kecil, keluarga kecil yang tak akan mungkin mendapat restu dari orangtuamu. Ya, sudah lima tahun berlalu sejak peristiwa aku memintamu kepada orangtuamu, sejak saat itu kita mulai mejalani kehidupan sendiri, kehidupan yang hanya ada aku dan kamu, walau sekalikali kita pulang ke rumah orangtuaku, yang selalu menerima kita, karna mungkin mereka tak pernah tahu bahwa kita sudah tinggal bersama. Rumah persembunyian kita, selayaknya persembunyian suatu saat pasti akan di ketahui juga, seperti hari ini, ketika seorang kakak lelakimu dan lima pemuda yang berbadan tegap secara tibatiba membuka pintu, tepatnya di buka dengan paksa, dan dengan gerakan seperti terlatih tibatiba lima lelaki tegap itu langsung memegangi tubuhku, dan kakakmu memegangmu, menarikmu secara paksa untuk ikut bersamanya, tentunya aku melawan tapi apalah artinya tenaga satu orang melawan lima orang yang bertubuh kekar dan tegap, di tengah pergumulanku melawan lima orang, karna ketidak-tegaanmu melihatku yang sudah mengeluarkan darah di sudut bibir dan hidung dan mungkin memang hampir sekarat, karna lamalama semua yang kulihat terasa kabur dan dibawah ancaman kakakmu untuk tak segansegan ingin membunuhku jika kau tidak ikut bersamanya kembali ke kotamu, akhirnya kau menyetujui untuk ikut bersamanya.

***
Berbulan-bulan kemudian aku mendengar kabar dari teman kerja yang baru saja masuk kerja ditempatku bekerja, mengabarkan bahwa kamu sudah menikah dengan pria yang dulu dijodohkan oleh orangtuamu, kebetulan teman kerjaku itu satu kota denganmu dan kebetulan juga kenal dengan suamimu, lagian siapa yang di kota itu tidak mengenal suamimu. Ahh, mungkin kau sudah bahagia sekarang, hidup dengan penuh kecukupan, jadi kubatalkan rencana untuk mencarimu.
Hingga, sebuah sms yang kuterima dengan tercantum namamu dibawahnya.

***
Matahari baru saja menampakkan wajahnya di kota ini, udara dingin yang menyegarkan menelusup ke paruparuku ketika baru saja kulangkahkan kakiku keluar dari gerbong kereta, masih ada cukup waktu untuk mengisi perutku yang mulai meminta untuk minta di perhatikan, setelah sepanjang perjalanan aku tak sempat untuk memperhatikannya.
Setelah mengisi perutku dengan sarapan yang secukupnya dan menanyakan kepada para penduduk arah kantor urusan agama kota Malang, aku langsung menuju kesana.

***
Jarum jam di jam tanganku menunjukkan angka 8:30, setidaknya begitulah angka yang terpampang di jam digital murahan produk dari negeri cina di tanganku, ketika aku tiba di kantor urusan agama kota Malang, dengan jantung berdebar tak beratur dan seribu pertanyaan hinggap di benak kepala, dengan sedikit paksaan kulangkah kaki memasuki ruangan. Ruangan gedung masih begitu lengang sepagi ini, hanya terlihat beberapa petugas yang mengunakan batik terlihat mondar-mandir, entah apa yang sedang mereka kerjakan, aku masih saja berdir tak bergerak sesampainya memasuki ruangan, aku binggung, kepada siapa dan apa yang harus kutanyakan, karna sms yang kuterima darimu tak mengabarkan apa-apa. Hanya menyuruhku kesini.
Mataku terus memandang sekeliling ruangan, tanpa tahu harus berbuat apa, ahh, betapa bodohnya aku, kenapa aku langsung percaya pada isi sms itu, tanpa berusaha menelpon balik ke nomor telponmu dan menanyakan ada apa waktu itu. Baiklah, akhirnya aku mengeluarkan telpon gengamku, mencari nomormu dan menekan tombol yang berwarna hijau, dan hampir disaat bersamaan kudengar sebuah telpon gengam berbunyi di ujung ruangan, telpon gengam seorang wanita yang sedang duduk membelakangiku, jadi aku hanya bisa melihat sebagian besar rambutnya, rambut hitam lurus dengan panjang sebahu, aku tersentak kaget, ketika dia menjawab hallo, karna ruangan di sini cukup tertutup jadi suaranya cukup terdengar sampai ketempatku berdiri, bukan suaranya yang membuat kutersentak, tapi suara hallo itu sama dengan suara yang kudengar di telpon gengamku. Wanita itu terus mengucapkan “hallo” dan sekali-kali memangil namaku dengan pelan, aku masih tak bisa berbuat apaapa, hanya berdiri dan mematung, seperti ada sebuah gaib yang menyihirku menjadi patung. Akhirnya, setelah bersusah payah ibu jari tangganku bisa juga kugerakkan memencet tombol yang berwarna merah; untuk menghentikan percakapan.

***
Wanita itu tampak terkejut ketika sekilas memandang kebelakang, dengan reaksi yang sangat spontan ia membalikkan seluruh badannya kearahku, matanya tampak tak percaya, entah kenapa, tiba-tiba airmata mengalir dari mata itu, mata yang memandang kearahku, aku yang ia pandang lekatlekat, tak kalah terkejutnya, tubuhku tak mampu bergerak sedikit pun, kakiku bergetar dan seakan menancap kelantai, menahan tubuhku yang beratnya seakan bertambah sepuluh kali lipat secara ajaib. Cukup lama juga aksi tatap-menatap ini berlangsung, hingga akhirnya wanita itu berlari kearahku, kemudian memeluk erat tubuhku, sementara aku masih tak mampu bereaksi apa-apa, kurasakan tubuhku semakin bergetar dengan cepat.
Beginikah jika kerinduan yang begitu sangat di hati bertemu dengan orang yang kita rindukan.
“apa yang kau lakukan disini?”
Pertanyaan yang keluar dari bibir wanita itu hanya mampu kujawab dengan keheningan, karna memang saat ini otakku tak mampu untuk berpikir, apalagi untuk menjawab pertanyaan. Saat ini, ketika kerinduan itu bertemu, semua di sekeliling seperti tak ada, hanya ada kau dan aku yang melepaskan semua sesak yang selama ini tersimpan di dada, kita tak perduli beberapa pandang mata mengawasi kita, seakan juga ikut mencerna apa yang terjadi di ruang ini.
Dengan refleks wanita itu melepaskan pelukannya di tubuhku ketika seorang pria yang cukup tampan dan berumur kirakira empat puluh tahunan, menghampiri kearah aku dan dia.
“kenalkan ini suamiku.” Wanita itu memperkenalkan lelaki yang baru datang itu kepadaku.
“tepatnya, mantan suami.” Lelaki itu tersenyum memandang kearahku.
Wajah wanita itu berubah, seakan tak mengerti apa yang terjadi, sama persis dengan wajahku.
“akhirnya, semua sudah datang. Sengaja aku mengundang kalian semua kesini untuk menyelesaikan semuanya.”lelaki itu melanjutkan ucapannya.
lalu ia menatapku “ akulah yang mengundangmu kesini, dengan memakai telponnya.”sambil matanya memandang kearah wanita yang berdiri di sampingku.
Perlahan-lahan aku dan wanita disampingku mulai mengerti apa yang terjadi. Ahh, jadi semua ini dia yang melakukannya. Tapi, aku masih diam tak mampu untuk mengucapkan katakata apapun.
“tadi aku sudah berbicara dengan para petugas, kami sudah mempersiapkan semuanya.”
Perkataan lelaki itu kembali membuat aku dan wanita di sampingku kembali ke-keadaan tak mengerti.
“hari ini akan menjadi hari yang sangat penting untukku dan sekaligus untuk kalian berdua, hari ini aku sudah menceraikannya dan hari ini aku juga akan menjadi wali untuk acara pernikahan kalian berdua.”
Lelaki itu terus bicara dan mengindahkan wajah kami yang di selimuti oleh keterkejutan dan ketakmengertian.
Lalu, lelaki itu memandang kearah wanita yang berdiri di sampingku dan terdiam sejenak sebelum melanjutkan berbicara.
“aku mencintaimu, sangat.”wajahnya masih menatap kearah wanita itu. Dan dengan suara yang agak berat, ia melanjutkan ucapannya.
“aku mencintai semua yang ada padamu, tetapi, yang paling aku cintai darimu adalah ketika kau tersenyum bahagia, senyum yang tak pernah kulihat ketika kau bersamaku.”bola mata lelaki itu tampak berair, sepertinya ia menangis, tapi ia berusaha untuk menahan keinginan itu.
“sekarang mari kita masuk keruang itu.”sambil menuntun kami ke sebuah ruangan, tempat ia tadi keluar.”disana sudah menunggu petugas untuk menikahkan kalian. Dan untukmu..”ia memandang kearahku.” Setelah pernikahan hari ini, bawa dan jagalah ia, karna aku tahu, bersamamulah kebahagian dia sesungguhnya. Dan untuk urusan keluarganya, biar aku nanti yang memberi pengertian kepada mereka, tak usah kalian pikirkan itu.”
Sejak memasuki ruangan ini belum satu katapun yang keluar dari mulutku, namun aku telah mengerti apa yang terjadi, dan aku hanya bisa memeluk lelaki itu, lalu terus berjalan menuju ruangan untuk pernikahan itu sambil mengengam tangan wanita disampingku yang juga semakin mengengam erat tanganku.



Villa nusa indah.

Senin, 31 Januari 2011

keberpurapuraan hati.

Gelap mulai pupus terganti, semburat cahaya jingga di ujung timur mulai menampakkan kuasanya, udara dingin masih tersisa meraba kedinginan hati para pemimpi yang baru saja menyelesaikan mimpi-mimpinya dan kembali bangun untuk menampaki kenyataan yang memang harus ia jalani.

“dan semua sudah berakhir.” Kata terakhir yang kudengar sebelum pembicaraan melalui telepon gengam ini berakhir.

***
“hai sayang, nanti makan siang bareng ya, aku tunggu di tempat biasa.” Sebuah pesan singkat masuk ke telpon gengamku. Pukul sebelas lewat dua puluh tiga menit ketika kulirik jam di samping kanan laptop, sebentar lagi, aku mulai merapikan pekerjaan kantor yang belum selesai untuk kukerjakan, ini bisa menunggu, setelah selesai aku langsung keluar dari kantorku dan menitipkan pesan untuk sekretarisku, jika ada yang mencari dan menghubungiku katakan aku sedang ada urusan di luar dan suruh untuk melakukannya lagi setelah jam makan siang.

Aku melangkah cepat keparkiran mobil, karna tak ingin nantinya menghabiskan waktu lama di jalan, adalah hal yang sangat biasa ketika jam makan siang jalanan di penuhi oleh mobilmobil yang memaksa orang untuk bersabar dalam kemacetan. Sangat kontras memang yang terjadi dengan situasi di Negara ini, dimana sebagian banyak orang berpikir untuk makan apa hari ini dan sebagian lagi malah pusing memikirkan akan makan di restoran mewah yang mana hari ini. Apa urusanku, itu urusan pemerintah untuk memikirkan nasib mereka dan terserahlah mereka mau atau tidak untuk memikirkan kesejahteraan rakyat mereka, yang penting aku telah membayar pajak yang sudah menjadi kewajibanku sebagai penduduk yang tinggal di Negara ini untuk membayar gajigaji mereka, walau terkadang yang kudengar di berita mereka tak pernah perduli akan nasib rakyat dan malah sibuk memperkaya diri sendiri. Semua perbuatan akan dipertanggung jawabkan nanti setelah kematian.

***
“hi sayang, kamu udah datang duluan.” Lalu sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku.
“iya aku sengaja datang lebih cepat, menghindari macet.”
“kalo aku tahu kamu datang lebih awal, tadi aku juga akan keluar lebih cepat.”
“gak papa kok, aku juga memang hari ini ingin datang lebih cepat aja.” Ucapku yang membuat ia mengembangkan senyuman di bibirnya. Mungkin ia pikir aku datang karna aku merindukannya.
“udah pesan makanan belum?”
“belum, hanya segelas juice jambu ini.” Sambil kuangkat gelas yang sudah kosong, tadi berisi juice jambu yang memang sangat kusukai.
“ya udah, kamu mau makan apa?” dengan hanya sedikit anggukan seorang pelayan datang dengan cepat kemeja kami.
Setelah melihat daftar menu, aku memilih memesan stik ikan dan segelas juice jambu lagi.
“kamu kelihatan capek banget?”
“iya, tadi malam tidur agak larut, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Jawabku dengan kebohongan yang tak kuperlihatkan.
“jangan terlalu memaksakan diri, nanti kamu sakit lagi, lagian kenapa kamu gak menyuruh karyawab kamu aja untuk menyelesaikan pekerjaanmu?”
“mereka sudah mempunyai pekerjaan yang harus mereka urus, lagian bukan karna aku pemilik perusahaan aku harus seenaknya.”
“ya sudah, terserah kamulah.”
Tak lama kemudian pelayan mengantarkan makanan yang kami pesan tadi.
Waktu terasa berjalan begitu lama, cukup lama untuk berpura-pura memperhatikan dan menjawab pertanyaannya, sementara pikiranku melayang kekejadian tadi malam.
“oh ya, hari minggu temenin aku ke acara pernikahan ya.”
“siapa yang menikah?”
“aldi.”
“oo, sahabatmu itu, kenapa ia tak memberitahukanku juga ya.”
“mungkin ia sibuk, mengatur acara pernikahannya.”
“baiklah.”

***
Laju mobil kupacu begitu lamban, seakan tak ingin sampai ketempat yang akan membuatku kehilangan selamanya.
Di sebuah gedung yang cukup ternama dibilangan jalan gatot soebroto, aku memakirkan mobilku. Ternyata cukup ramai juga yang datang sampaisampai aku cukup lama berputarputar agar bisa memakirkan mobilku.
“tunggu sebentar ya, aku ingin merokok sebatang dulu.”
“ya sudah, tapi jangan terlalu banyak merokok ya, gak baik buat kesehatanmu.”

***
Langkah kaki terasa begitu berat untuk dilangkahkan langkah demi langkah. Cukup meriah pestanya, terbukti dengan design panggung, makanan yang beraneka ragam dan mahal pula tentunya dan juga para tamu yang cukup banyak. Dan terlebih lagi banyak para pejabat penting di Negara ini yang hadir dan aku cukup sering melihatnya tampil di acaraacara televisi.
Kaki terus melangkah dan kusadari semakin jauh aku melangkah kedalam pesta semakin dekat akhir dari cerita, yang telah lama kujalani, itulah di saat dimana aku bisa merasakan kebahagian sejati, kebahagian yang memang hanya dimiliki oleh hati, karna hatilah sumber kebahagian sejati bukan yang lain.
Berpasang-pasang mata tampak mengarah kepadaku, tetapi, tepatnya bukan kearahku karna mata mereka liar menatap seorang wanita yang sangat cantik berjalan di sampingku sambil mengandeng lenganku. Betapa beruntungnya lelaki itu. Ada keirian ditatapan mata mereka, padahal aku tahu bahwa banyak diantara mereka yang memiliki istri atau kekasih simpan lebih dari satu, tetapi memang seperti itulah kenyataan, harta, jabatan dan wanita selalu membuat kita lupa akan semuanya.
Perasaanku bercampuk aduk, ketika langkah kakiku mulai menaiki panggung, sepertinya, aku sangat mengutuki diriku sendiri karena telah memutuskan untuk datang ketempat ini, dan berjanji tak akan pernah memaafkannya. Satu per satu aku mulai menyalami keluarga para pengantin, kulihat tatapan kebahagian di mata mereka, betapa harapan mereka yang telah tersimpan sejak lama, mungkin sejak para pengantin belum menghirup udara dunia ini untuk pertama kalinya, sebuah perjanjian yang tak mengikuti para pengantin, sebuah kebahagian yang sampai saat ini sangat sulit untukku mengerti. Bukankah kebahagian itu adalah apa yang dirasakan dari hati.
Dari semua mata yang berdiri di atas panggung ini, hanya matamu yang memancarkan pandangan yang berbeda, pancaran mata yang terbebani oleh keterpaksaaan, katakmampuan melawan sebuah keadaan dan ketakberanian memperjuangkan keinginan, pancaran mata dengan kemengertian bahwa akan menjalani hidup keberpurapuraan sampai nafas terakhir di hidupnya. Adakah penderitaan melebihi keberpurapuraan seumur hidup.
Setelah menyalami semua yang ada diatas panggun, kakiku terasa bergerak dengan cepat untuk meninggalkan pesta pernikahan ini, dan mengengam tangan wanita yang berjalan di sampingku lebih erat, ia pun membalas gengam itu semakin erat. Mungkin ia berpikir aku setelah melihat pesta ini aku akan segera menikahinya.
Tapi, pikiran berkecamuk lain di kepalaku, pikiranku melayang pada pembicaraan di telpon gengam tadi malam. Dan kini dengan sangat aku mengertinya, aku membebaskanmu, apaun itu yang kaupilih untuk hidupmu, termasuk keberpurapuraan seumur hidupmu.
“maafkan aku untuk tak bisa lagi bersamamu, semua sudah berbeda kini, dan kita tak bisa lagi memeperjuangkan perasaan kita, mereka tak akan pernah mengerti tentang apa yang terjadi antara kita, termasuk apa yang dirasakan oleh hati kita, tapi, ketahuilah sampai kapanpun kau tetap kekasihku. Dan semua sudah berakhir.” Ucap lelaki yang menjadi pengantin hari ini kepadaku tadi malam.

Senin, 03 Januari 2011

Coretan Dinding.

Setelah menyelesaikan tulisannya, ia terduduk di sudut kamar, merasakan lemas di seluruh badan, sementara tatatapannya nanar kearah tulisan yang baru diselesaikannya, sebuah tulisan tentang apa yang terjadi, tentang kenyataan hidup yang ia alami. Terlihat jelas kilatan dendam terpancar dari sorot mata yang tajam itu, mungkin lebih tepatnya sebuah kebencian, kebencian akan keadaan, kebencian akan sesuatu yang diluar kendalinya.
Detik terus berdetak seakan sunyi membuat setiap suara terdengar nyaring, bahkan suara nafaspun seakan tak ingin ketinggalan untuk tampil, terus memburu seperti ingin terlepas dari jantung yang sesak terhimpit oleh beban berat yang menekan kuat dada, yang dikirim oleh otak dan pikirannya.
Setelah hari itu, airmata seakan menjadi airterjun yang tak pernah berhenti mengaliri kedua matanya dan bersumber yang entah dari telaga mana di kornea mata itu, setiap kenangan adalah irisan tipis hatinya dari belati yang berupa kenyataan. Ada goresan yang tertinggal dan tak akan mungkin hilang oleh obat apapun.
“Kau hadirkan dia untukku, lalu dengan cepat Kau ambil kembali, setelah begitu kokoh cinta di hatiku berdiri.” ia berkata dengan setengah berbisik, namun kepalanya mendongak ke langit-langit ruangan, seakan menantang dan meminta penjelasan atas kepergian lelaki yang sangat ia cintai.
Tak ada kehilangan yang lebih hilang dari pada kehilangan orang yang kita sayangi, seakan separuh nyawanya ikut terbang bersama orang yang dia cintai dan meningalkan setengah jiwanya lagi untuk menjadi tawanan dari kepedihan hidup dimana nyata selalu saja menjadi luka yang teramat perih.
Ia kembali tertunduk, sementara darah terus mengalir keluar dari ujung jari telunjuknya, jari yang dengan sengaja ia lukai dan di pakai untuk menulis di dinding kamar dan darahnya di pergunakan untuk menjadi tinta.
“lalu, siapakah yang harus kusalahkan akan semua yang terjadi. Tak mungkin kusalahkan dia dan cinta yang tumbuh subur di hatiku, karena tak ada yang salah dari cinta, ia hadir tanpa pernah bisa di tentukan, ia hadir secara alami, ialah cahaya yang menerangi kelamnya hatiku, dan tiba-tiba kenyataan merampasnya cahaya itu dari hatiku.” Ucapnya kembali dengan kepala tertunduk dan suara tertahan seakan hanya berupa desisan saja.
Perlahan dia bangkit berjalan pelan kearah tempat tidurnya mengambil pelan gaun putih, sebuah gaun pengantin, gaun yang ia pakai di hari pernikahannya, di hari dimana seharusnya menjadi hari dimana puncak kebahagian menghampirinya, tetapi, kenyataan berkata lain. Hari itu, adalah hari dimana setiap mimpinya dan hatinya hancur dalam sekejap. Dan gaun pengantin itu di dekap erat ke dadanya, airmata terus mengalir di pipinya, deras membasahi gaun putih itu.
“selamanya, aku adalah istrimu dan kau adalah suamiku tanpa pernah perduli apa yang akan di katakan orang-orang dan juga aku tak pernah perduli akan norma masyarakat, di hatiku hanya ada cintaku dan kamu, hanya itulah hubungan kita, tak lebih.” Ucapnya lagi.
Lalu dengan perlahan ia duduk di tepi tempat tidur, tempat tidur yang telah ia persiapkan untuk malam pengantin dan malammalam seterusnya di hidupnya, namun itu semua hanya tinggal kenangan, kematian kekasihnya telah merengut semua harapan itu.
“kepadamu cintaku, aku berjanji untuk menjaga janin yang telah kau titipkan di rahimku, janin yang tercipta oleh cinta yang terkandung di hati kita dan sekalipun aku takkan pernah menyesali apa yang telah kita lakukan, bukankah memang begitu seharusnya mencintai, menerima semua apa yang telah terjadi, tanpa harus mengutukki kesalahan-kesalahan yang telah berlalu, hatiku menerimamu dengan ikhlas maka setiap kesalahan adalah pembelajaran bukan sesuatu yang membuat kebencian di hati, dimana cinta sejati tak pernah ada rasa dendam di dalamnya, bukankah begitu hakikat cinta sejati”. Perkataan yang ia ucapkan membawanya kembali ke masa-masa dimana ia merasa hari yang paling bahagia di hidupnya, ketika kekasih hati selalu ada di sampingnya, dimana tawa dan bahagia adalah waktu yang berdetak di harinya, begitulah ketika cinta saling berbalas, seakan tak ada yang lain yang lebih penting di dunia ini selain cinta mereka, hingga buah dari cinta itu bersarang di tubuhnya.
Cukup lama ia duduk terdiam di tempat tidur itu, hingga akhirnya ia berdiri dan memandang kembali sekeliling kamarnya, banyak kenangan yang telah tercipta di kamar ini, di kamar inilah dia selalu mencurahkan isi seluruh pikirannya dan juga tempat dia melepas semua keluh kesah hidup, kamar yang telah ia tempati sedari dia kecil dulu. Kamar yang seharusnya nanti ia wariskan untuk anaknya. Tapi, sekarang kamar ini harus ia tinggalkan untuk selamanya.
Matanya berhenti memandang sekeliling kamarnya ketika ia melihat sebuah pigura yang di dalamnya terdapat foto dia dan kekasihnya, kembali airmata turun membasahi kedua pipinya, terus ia pandangi foto itu, menatap lekat-lekat, ada banyak garis kemiripan di wajah mereka, garis wajah yang dulu sangat ia sukai, ketika orang-orang mengatakan itu adalah tanda mereka berjodoh, namun saat ini dia sangat membenci banyak kesamaan garis wajah diantara mereka.
Tiba-tiba tangannya terkepal dengan keras ketika ia kembali ingat ke hari pernikahannya, hari dimana semua persiapan telah di lakukan, hari dimana seharusnya seribu doa kebahagian terlantun, hari dimana seharusnya setiap nada menciptakan lagu-lagu cinta yang indah. Hari itu, di sebuah rumah ibadah yang sangat besar di kotanya, dengan hati yang sangat berdebar kencang ia menunggu kekasihnya datang untuk mengucapkan janji setia untuk selamanya, detik-detik waktu seakan berjalan lambat di antara kencangnya detak di jantungnya, inilah saat yang paling ia tunggu di hidupnya, saat dimana dia dan kekasih di jadikan satu dalam aturan masyarakat, karna sebelumnya memang mereka telah merasa disatukan oleh perasaan mereka.
Lima belas menit sebelum waktu yang telah di janjikan akhirnya kekasihnya datang, secara refleks bibirnya tersenyum melihat wajah kekasihnya dan begitu pula dengan kekasihnya, mata mereka beradu dalam seribu rasa yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, rasa yang hanya mereka berdua mengerti. Namun sekali lagi hidup memberi bukti, ketika kebahagian telah hampir sempurna maka saat itulah kesedihan mengambil peran, dan itu ia sadari ketika ia melihat ibunya menangis dan mengatakan pernikahan itu harus dibatalkan, melihat hal itu dia serta kekasihnya saling beradu tatap dan berada dalam kebingungan dan tentunya menolak pembatalan pernikahan itu, hingga akhirnya mereka di bawa ke sebuah ruang di samping rumah ibadah itu, dimana di sana hanya ada dia, kekasihnya, ibunya serta ayah dari kekasihnya.
Cukup lama juga ruang itu sunyi, mereka yang berada di dalamnya bergelut dengan pemikiran masing-masing, hingga akhirnya ibunya membuka pembicaraan dengan airmata menetes di matanya, raut wajahnya memancarkan keberanian yang seakan di buatbuat.
“kalian tidak boleh menikah.”ucap ibunya
“lalu apa alasannya kami tidak boleh menikah, kami saling mencintai dan kami telah sepakat takkan ada yang bisa memisah kami.”
“pokoknya kalian tak boleh menikah.” Ayah kekasihnya mulai membuka suara untuk pertama kalinya. Ada kilatan penyesalan terpancar di matanya.
“apapun yang terjadi kami harus menikah.” Jawab kekasihnya dengan suara yang agak meninggih. Sementara ia hanya bisa menangis mendengar perdebatan itu.
Pembicaraan itu terus berlangsung, hingga akhirnya sebuah kata membuat ruang itu kembali sunyi, sebuah kata yang di ucapkan oleh ayah kekasihnya, sebuah kata yang menyebutkan mereka adalah kakak beradik. Dan tentu saja ia dan kekasihnya tak dapat mempercayai perkataan itu dan tak menerimanya. Lalu, ibunya kembali membuka suara dan menceritakan semua kejadian masalalu, bahwa ibu dan ayah dari kekasihnya dulu adalah sepasang kekasih, mereka saling mencintai, tapi, kedua orang tua dari ibunya tidak menyetujui pernikahan itu, mereka menolak ayah kekasihnya untuk menjadi menantunya, hingga akhirnya ibunya menikah dengan seorang laki-laki yang menjadi pilihan orang tuanya dan tak lama kemudian ayah kekasihnya menyusul menikah dengan oranglain, mereka menikah dengan orang yang tak mereka cintai, beberapa tahun mereka tak pernah bertemu lagi, namun benar kata orang-orang bahwa dunia itu sempit dan mereka pun akhirnya bertemu kembali dan kembali juga cinta di hati mereka yang telah lama mereka pendam muncul ke permukaan dan mereka tak kuasa untuk melawannya, hingga terjadilah perselingkuhan yang menurut orangorang salah, tetapi menurut mereka itu adalah sesuatu yang tak salah, karna mereka tak mampu menahan keinginan hati mereka sendiri, perselingkuhan itu terjadi cukup lama hingga akhirnya ibunya hamil dan di ketahui oleh suami ibunya, di karenakan suami ibunya tak pernah bisa mempunyai keturunan di sebabkan oleh penyakit yang di indapnya, tetapi suami ibunya itu memaafkan ibunya dengan persyaratan tidak boleh menemui ayah kekasihnya lagi dan harus ikut untuk pindah ke kota yang lain bersamanya, sejak itu mereka tak pernah bertemu lagi dan berhubungan lagi hingga hari ini.
Setelah mendengar penjelasan dari orangtuanya itu, kekasihnya tak mampu menerima kenyataan bahwa mereka adalah kakak-adik terlebih mereka telah mempunyai buah dari cinta mereka yang kini telah terkandung di rahimnya. Merasa tak mampu menerima kenyataan itu kekasihnya berlari dan mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi, hingga akhirnya ia mendengar kekasihnya meninggal karna kecelakaan lalu lintas. Setelah mendengar kekasihnya meninggal ingin rasanya ia ikut menyusul kekasihnya terlebih mereka pernah berjanji untuk akan selalu bersama dalam hidup dan mati, tetapi janin di rahimnya membuat dia bertahan untuk tetap hidup, karna janin ini adalah buah dari cinta mereka, di janin inilah setengah dari diri kekasihnya hidup.
kembali ia berjalan kearah foto ia dan kekasihnya, mengangkatnya dengan pelan dan mencium lembut wajah kekasihnya, cukup lama ia melakukan itu dan akhirnya ia memasukkan foto itu kedalam tas yang telah ia persiapkan untuk menemani perjalanannya, meletakkannya diantara barang-barang kenangan mereka berdua.
“kekasihku, aku akan pergi meninggalkan kota ini ke tempat dimana tak seorangpun mengenalku. mungkin dunia ini tak dapat membuat kita satu, sabarlah untuk menungguku di tempatmu, akan kubesarkan anak kita dengan cinta yang telah kau ajarkan kepadaku, percayalah, takakan kubuat dia mengetahui asal-usulnya, biarkan dia mengenalmu dari ceritaku saja, betapa kau mencintainya dan ibunya, namun, takdir membuat ayahnya harus meninggalkannya hanya bersama ibunya.” Bisiknya sambil meraih tas itu ditangannya dan bersiap meninggalkan kamarnya.
Sebelum ia pergi dan menutup pintu kamarnya masih sempat ia baca tulisan yang ia tulisan di dindind kamarnya.

“ Ia yang sejati, tak akan pernah mati
Selalu hidup dalam api abadi
begitulah, yang saling mencintai
tak akan pernah lagi mencari
Apapun itu, kita adalah kekasih
Tanpa norma dan keadaan
Karna cinta yang menikahkan kita
Dan cinta tak pernah salah”

Kamis, 16 Desember 2010

Puisi Terakhir

Sepagi ini kabut masih turun di kotaku, sesuatu yang sudah sangat jarang terlihat lagi di kota ini, mungkin karena saat ini perkembangan pembangunan dan penambahan kepadatan penduduk membuat perubahan terhadap suhu kota ini. Udara dingin yang lindap di sampingku membuat tubuhku agak mengigil, apalagi kendaraan melaju dengan laju yang agak kencang.
Tepat jarum jam menunjukkan jam 4:30 aku tiba di rumahmu untuk menjemput dan mengantarkanmu ke kostanmu dan tempat kerjamu di daerah Tangerang, seperti biasa kulakukan setiap hari senin, tapi pagi ini sengaja aku datang agak pagi karna hari ini aku ingin menikmati setiap detik perjalanan bersamamu.
Jalanan Depok sepagi ini masih lenggang tak begitu banyak lalulalang kendaraan, dengan tak begitu kencang kupacu motorku dengan mantap untuk melahap jarak sedikit demi sedikit, kurasakan lembut tanganmu memeluk pinggangku dan kurasakan sedikit kehangatan merambat pelan keseluruh sisi di hatiku, walau telah lama bersamamu tapi masih saja kurasakan debar jantungku seperti pertama kali cinta ini menetap dihatiku, tak pernah berubah sedikitpun.
Memasuki jalanan arteri pondok indah matahari telah terbangun dan cahaya terang sedikit demi sedikit terasa pasti menganti gelap malam, di sebuah perempatan lampu merah kuhentikan motorku ketika lampu berwarna merah menyala, diantara ramainya pengendara lain aku gengam jemarimu, merasakan setiap lembut kulit di telapak tanganmu, aku suka saat ini, saat kau membalas gengaman jemariku serasa kau juga mengengam hatiku, ada kedamaian menjalar diantara riuh degup jantungku yang semakin kencang, saat-saat seperti inilah yang selalu membuat aku semangat untuk tetap ingin mengantarkanmu, walau aku tahu waktu dan jarak yang kutempuh begitu jauh.
Roda motor terus berputar dengan pasti, sepasti kisah yang kita jalani selama lima tahun ini, dimana kebahagian selalu hinggap di harihari kita, bersamamu, senyum dan tawa selalu menjadi obat ampuh untuk melepaskan penat di setiap keletihan raga setelah seharian bergulat dengan urusan pekerjaan.
Di sebuah warung di jalan Ciledug raya kuhentikan laju motor, di warung ini kita selalu beristirahat untuk sedikit melepas lelah perjalanan atau sekedar istirahat untuk minum segelas kopi. Pagi ini sengaja aku duduk berhadapan denganmu, agar dengan leluasa kupandangi wajahmu, ahh, betapa cantiknya wajahmu, wajah yang selalu menghiasi setiap detik di harihariku dan wajah yang selalu membuat kerinduan di dadaku. Pagi ini juga tak banyak kata yang keluar dari mulutku, karna pagi ini, aku hanya ingin menikmati wajahmu dan setiap detik kebersamaan denganmu, setiap detik yang terasa begitu cepat berlalu, andai saja bisa kubunuh waktu agar tak bergerak dan membuat kebersamaan ini akan abadi selamanya. Tapi, laju waktu memang tak pernah bisa kita hentikan dan perjalanan harus kita lanjutkan.
Memasuki batas kota Tanggerang, laju motor semakin aku perlambat dan kurasakan pelukanmu semakin kencang di pinggangku seakan kau tak ingin melepaskan kebersamaan ini, dan aku kembali mengengam jemari tangan sebelah kirimu, kali ini aku gengam dan menempelkannya di dadaku agar bisa kau rasakan betapa jantungku selalu berdebar kencang ketika kumenyentuhmu dan juga agar kau tahu betapa besar rasa cintaku kepadamu, perlahan kurasakan mataku berair dan dadaku sesak. Dan tentu kau takkan pernah tahu, karna tak akan pernah kuperlihatkan itu semua di depanmu.
“gak ikut masuk?” ucapmu, sesampainya kita di rumah kostanmu.
“gak, aku menunggu disini aja, aku ingin menikmati lalulalang orangorang yang lewat.” Jawabku dengan alasan sekenanya saja.
“ya udah, tunggu sebentar ya.”
Sambil menunggumu menganti baju dengan seragam kerja, aku hafalkan bentuk rumah dan linkungan sekitar serta kebiasaan orangorang sekitar sini, tempat yang sangat nyaman dan para penduduk yang ramah, ahh, mengapa baru aku memperhatikannya. Tak berapa lama kau pun keluar dari rumah kostanmu, dan kau bertambah cantik dengan seragam kerjamu.
“lama ya nunggunya?” ucapmu. Sambil kubalas dengan tersenyum.
Lalu, aku mengandeng tanganmu untuk menyebrang jalan, karna tempat kerja dan kostanmu bersebrangan jalan, dan dadaku kembali berdebar dengan kencang.
“terima kasih sayang.” Ucapmu sesampainya di depan kantormu.
Aku kembali tersenyum.
“oh ya, ini untukmu.” Ucapku, setelah dari kantong baju kukeluarkan sebauh amplop berwarna biru, warna kesukaanmu.
“apa ini? Pasti puisi lagi ya? Tumben kali ini ngasih puisinya pake amplop, biasanya hanya kertas yang di coretcoret biasa atau hanya menandai di note facebook aja.” Ucapmu sambil tersenyum. Betapa cantiknya kau, bisik di hatiku.
“mungkin itu puisi, jika memang itu puisi maka itu adalah puisi terakhir yang kutulis dan aku tak ingin menulis puisi lagi.”ucapku.
“lohh, kenapa?. Padahal aku sangat suka dengan puisipuisimu, puisi yang selalu kau tujukan untukku, dengan puisimu aku bisa merasakan betapa kau menyayangiku.” Tanyamu.
“gak apaapa kok, ya udah gak usah dibahas.”jawabku.
“aku gak ngerti.” Ucapmu lagi.
“ya sudahlah, kamu masuk gih, ntar kamu telat lagi masuk kantornya.” Jawabku untuk menghindar dari pertanyaanmu.
“ya sudah, kamu hatihati ya ke kantornya, gak usah ngebut bawa motornya.” Ucapmu sambil mencium tanganku dan memintaku untuk mencium keningmu, sebuah kebiasaan yang selalu kita lakukan ketika bertemu dan berpisah.
“oh ya, jumat malam jangan lupa untuk memjemputku ya, aku sayang kamu dan pasti tak sabar menungu jumat malam untuk bertemu denganmu kembali.” Ucapmu. Dan aku hanya tersenyum mendengarnya.
Inilah untuk pertama kali aku tak membalas ucapan sayangmu.
Sambil berlari kecil kau masuk kekantormu.
Cukup lama aku tetap berdiri di depan kantormu, memandang kearah terakhir tubuhmu menghilang dari pandanganku. Secara perlahan kembali kulangkah kakiku menuju tempat motorku parkirkan, kembali kuhidupkan mesin motorku untuk menuju kekantorku di daerah Jakarta utara, namun, ketika tiba di persimpangan jalan aku tak jadi melanjutkan perjalan kekantorku, hari ini aku memilih untuk mengulang kembali jalan yang selalu kulewati bersamamu, namun kali ini aku ingin melewatinya sendirian dan mengingat kembali semua kenangan bersamamu di jalan itu.
di tengah perjalan pikiranku terus mengingat isi amplop biru yang kuberikan kepadamu, sebuah surat untukmu.



Untukmu, sayangku.

Sayang, ketika pertama kali mimpiku kau jadikan nyata dengan menerimaku menjadi kekasihmu, sungguh, tak ada selain itu yang aku inginkan dan sejak saat itu kau telah menjadi tujuan di hidupku. harihari bersamamu adalah kebahagian, tak pernah ada airmata yang pernah menetes di mata dan hatiku, untuk itu kuucapkan terimakasihku.

Sayang, terkadang waktu selalu menjadikan kita pelupa dan membuat kita harus memilih langkah mana yang harus kita pilih, seperti perjalanan selalu saja ada persimpangan yang selalu membuat kita tertarik dan melupa tujuan akhir dari sebuah tujuan awal dan memang begitulah kehidupan. Dan seperti layaknya sebuah pilihan akan selalu ada yang di korbankan, karna kita pasti samasama tahu untuk mendapat sesuatu kita harus kehilangan sesuatu, dan aku memilihkan itu untukmu.

Sayangku, rasa adalah sesuatu yang ikhlas tanpa pernah bisa dipaksa, sesuatu yang tak bisa di duga datang dan perginya. Tapi menurutku, rasa cinta tak akan pernah bisa hilang, mungkin hanya bisa berkurang kadarnya, karena kenangan adalah hal yang selalu akan tetap ada seperti sebuah ketetapan yang tak pernah bisa di rubah oleh apa dan siapapun.

Aku tahu, sayang. Saat ini hatimu sedang memilih dan aku tahu itu dari perubahan-perubahan sikapmu, walau kau berusaha untuk tak pernah merubah atau memperlihatkan itu kepadaku, tapi, tak ada kebohongan yang sempurna. Ingatkah kau sayang, dulu penah kukatakan kepadamu, aku bukan sebuah pilihan dan ketika hatimu sudah mulai memilih maka saat itu kau juga telah kehilangan diriku. Dan inilah aku sekarang, membebaskanmu untuk pergi.

Selamat tinggal, sayangku. Semoga bahagia dan tetaplah tersenyum.



Dengan cinta,


Yang tak bisa lagi bersamamu.

Kamis, 26 Agustus 2010

Sebuah Surat di pinggir kali.

Oleh : F. Pratama Fauzan

Biasanya gambaran dari sungai adalah air yang jernih, beriak mengalir, ikan-ikan kecil yang berenang kesana-kemari, berlawanan dengan apa yang sedang ada di depanku, air yang kotor, tak ada ikan yang hidup kecuali mungkin satu jenis ikan, yaitu ikan sapu-sapu, tak ada riak karena airnya telah dangkal oleh sampah-sampah sisa pembuangan sembarangan yang tak terurus dan berwarna kehitaman. Mungkin inilah gambaran dari keputusan yang telah ku ambil, dimana keputusan adalah aliran sungai yang mengalir ke muara tanpa pernah bisa berpulang ke hulu, sementara kotor dan sampahnya adalah gambaran dari resiko yang harus kutanggung dari sebuah keputusan yang salah.
Sudah tiga bulan belakangan ini aku tinggal di sini, di bawah kolong jembatan di pinggiran kali ciliwung , tepatnya sejak penyakit ini semakin mengerogoti tubuhku, tak terhitung biaya telah kukeluarkan bahkan tabungan yang telah kukumpulkan, tak ada yang bersisa, tak ada teman, tak ada saudara, tak ada siapapun yang aku kenal di sini, hidup dalam penyesalan dan kesendirian, hari ke hari hanya meratapi nasib.
Panggil saja aku Nadya, karena nama inilah yang aku pakai selama sepuluh tahun belakangan ini dan biarkan kalian mengenalku dengan nama itu saja, untuk nama asliku tak mungkin aku sebutkan, dikarenakan di belakang nama asliku ada nama keluarga yang mengikuti dan tak mungkin kubuat mereka malu dengan apa yang telah aku lakukan, cukup aku saja yang menangung semua ini, akibat dari keputusanku sendiri. Aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana di kampungku, tak kekurangan dan tak juga berlebihan. Bicara tentang masalalu aku sangat merindukannya, kampungku, hidup sederhana dan damai, dan juga ingatan tentang seseorang yang begitu mencintaiku dengan tulus, Indra, sebut saja seperti itu, seorang pemuda desa yang sederhana, jujur dan lugu, ahh, betapa aku merindukannya dengan sangat. Seandainya saja waktu bisa diulang aku akan bersedia hidup di kampung dengannya tanpa mengetahui kehidupan kota dengan kekejamannya, aku rela, tapi, nasi telah menjadi bubur.

***

Ceritaku bermula dari dua belas tahun yang lalu, ketika aku baru menamatkan sekolah menengah tingkat atas di desaku, terbesit di pikiranku untuk melanjutkan ke bangku kuliah di kota Jakarta, tapi, keadaan orang tuaku tak memungkinkan untuk melanjutkan, dan tak tega juga hatiku untuk memaksa mereka, karena masih ada tiga adikku yang masih bersekolah. Sebagai anak pertama aku sangat mengerti keadaan itu, apalagi waktu itu sedang terjadi krisis moneter di Indonesia dan akhirnya berpengaruh juga terhadap perekonomian keluargaku.
Enam bulan berlalu sejak kelulusanku, impian masih melekat di dadaku untuk bisa melanjutkan kuliah dan mengadu nasib di ibukota Jakarta, seperti yang aku lihat di sinetron-sinetron televisi, dimana kehidupan Jakarta sangat indah dan mewah. Dengan wajahku yang cantik, bukan karena aku percaya diri, tetapi, teman-temanku banyak yang mengatakan seperti itu, bahkan mereka menjulukiku dengan sebutan kembang desa, sangat banyak juga pemuda-pemuda desa yang tertarik denganku dan mereka berusaha dengan keras untuk menjadi kekasihku, tapi, sejak kelas tiga SMA aku telah jatuhkan hatiku kepada seorang teman sekolahku, Indra, ya, seorang pemuda yang baik dan sangat jujur. Sudah satu tahun kami berpacaran dan tak pernah ia membuatku marah. Dia selalu memberi semangat untukku, tapi satu yang tak pernah ia setujui, ialah cita-citaku untuk pergi ke Jakarta. Aku menerimanya saat itu.
Hingga suatu hari seorang mahasiswa tingkat akhir dari sebuah universitas besar di Jakarta datang ke desaku untuk mengumpulkan data untuk skripsinya, ia mengamati sistem perairan sawah yang kami gunakan dan membantu memperbaiki saluran irigasi itu. Memang, ia cukup pintar dan mampu membantu warga desa dalam perairan sawahnya, jadi desa kami tidak mengandalkan musim hujan lagi, karena aliran air sudah bisa di nikmati kapanpun.
Ya, nama mahasiswa itu adalah Adrian, ini memang benar nama aslinya, sengaja tak kusembunyikan nama aslinya, karena aku memang ingin orang-orang tahu siapa dia sebenarnya, agar setelahku tak ada lagi gadis-gadis yang mengalami nasib sepertiku saat ini.
Sebagai mahasiswa yang datang dari Jakarta, aku sering menanyakan kepadanya tentang Jakarta dan kehidupan masyarakatnya, dan bagaimana rasanya kuliah atau bekerja di sana, Adrian selalu menceritakan tentang keindahan kota Jakarta, hanya keindahannya saja, tak pernah kudengar dia berbicara tentang hal-hal yang jelek tentang Jakarta. Dan membuat impian yang sempat meredup kembali menyala di dadaku. Hari ke hari aku semakin akrab dengannya, hal ini membuat Indra cemburu dan melarangku untuk menjauhinya, ahh, seandainya saat itu aku mengikuti saran Indra mungkin keadaan seperti ini tak akan pernah ku alami, tetapi saat itu, aku tak pernah mendengarkan ucapan Indra, di dalam hatiku selalu mengatakan, mana mungkin tahu dia tentang Jakarta, dia hanya tahu tentang sawah dan ladang saja, sebuah kehidupan yang sangat membosankan, kata hatiku saat itu.
Seminggu sebelum Adrian mengakhiri praktek kerja lapangannya, dia tawarkan kepadaku untuk ikut bersamanya ke Jakarta dan mau menanggung biayaku selama di Jakarta, selama aku belum bekerja. Pertama kali aku menolak tawaran itu, tapi, dengan mulutnya yang manis dia terus merayuku, hingga akhirnya aku setuju ikut dengannya, juga di karenakan impian indah tentang Jakarta mulai membakar dadaku.
Aku berangkat ke Jakarta tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk kedua orangtuaku dan Indra, karena sudah dapat dipastikan mereka tak pernah akan mengizinkan. Aku dan Adrian bertemu di terminal antar-kota, karena memang Adrian tak ingin berangkat bersama-sama dari desa, yang kini baru aku ketahui alasannya, agar orang-orang desa tak menaruh curiga terhadapnya atas kepergianku dari desa.

***

Di Jakarta aku tinggal bersama Adrian di kontrakkannya, sebulan sudah aku di sini, Adrian memperlakukanku dengan begitu baik, ia juga menyuruhku untuk kursus bahasa inggris dan membiayai semua keperluanku, termasuk memberi uang jajanku perhari. Aku semakin terlena olehnya dan bayangan tentang orangtua dan Indra telah hilang di ingatanku.
Karena tinggal bersama dalam kontrakan, akhirnya kami menjalani kehidupan seks bebas, kami sudah selayaknya seperti suami istri tanpa surat nikah, yang rupanya kehidupan seperti itu di kota Jakarta sudah menjadi sangat biasa, malah sudah terlalu sangat biasa sepertinya, saat itu tak pernah ada kata menyesal di diriku dan dunia sepertinya memang begitu adanya, tapi, itu hanya sebuah kebahagian sementara saja, kebahagian di saat penyesalan masih menjadi belati yang sangat tumpul dan waktu terus mengasahnya hingga suatu hari nanti akan menjadi senjata yang sangat tajam untuk menyayat setiap detik dalam kehidupan yang akan terjalani.
Waktu terus berlalu, tak terasa sudah enam bulan aku di sini, dan juga mulai kurasakan akan perubahan sikap dari Adrian, dia menjadi kasar, sangat perasa dan suka marah tanpa alasan, dan rupanya itulah sifat aslinya. Hingga akhirnya tiba pada hari yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku, hari dimana Adrian menjualku kepada seorang germo seharga sepuluh juta rupiah. Ya, mungkin manusia sudah tak punya rasa, sehingga sudah jadi barang dagangan, dimana sistem perbudakan telah dihapus ratusan tahun yang lalu atau mungkin ribuan tahun yang lalu, tapi sepertinya itu hanya sebuah aturan yang tertulis saja, karena pada kenyataannya saat ini masih banyak terjadi perdagangan manusia.
Sejak saat itu tak pernah kulihat lagi keindahan Jakarta, nasibku menjadi seperti sapi perahan saja, setiap hari hanya melayani nafsu para lelaki hidung belang, aku memasuki dunia pelacuran tingkat atas, di karenakan kecantikanku dan keindahan tubuhku, banyak tamu yang menjadi pelangan, semuanya adalah orang-orang penting dan semuanya adalah orang kaya, tidak jarang juga para pejabat negara membokingku untuk menemani perjalanannya, para pejabat yang di televisi kulihat selalu bicara tentang kebenaran dan nasib rakyat, aku selalu tersenyum pahit ketika kulihat mereka di layar televisi.
Aku tidak tinggal di kontrakan bersama Adrian lagi, sejak dia menjualku tak pernah sekalipun aku bertemu dengan dia lagi karena tak pernah ingin kulihat wajahnya lagi, sudah terlalu besar dendamku kepadanya, sekarang aku tinggal di sebuah apartement di daerah kemayoran, seiring dengan pekerjaanku gaya hidupkupun ikut berubah, sebagai pelarian dari penderitaan di hatiku, akhirnya aku mulai suka mabuk-mabukkan, hari-hariku hanya di isi dengan melayani pelangan-pelanganku dan pesta-pesta di klub malam.
Tujuh tahun ku jalani hidup seperti itu hari ke hari, hingga suatu hari aku di diagnosa terkena penyakit, sebuah penyakit sampai saat aku menceritakan ceritaku ini, belum ditemukan obatnya, penyakit yang di sebabkan oleh penularan seksual ketika hubungan intim dengan berganti-ganti pasangan, mungkin aku ditulari oleh salah satu pelanganku, dikarenakan tidak semua dari pelanganku mau mengunakan alat kontrasepsi kondom ketika berhubungan, tidak enak kata mereka.
Setelah mengetahui aku terjangkit penyakit itu, germoku tak mau mengurusiku lagi, malah dia mencampakkanku seperti seorang yang tak punya arti sama sekali, padahal tak sedikit uang kuhasilkan untuknya selama aku menjadi pelacurnya, tapi inilah kehidupan, di dunia yang ku geluti saat itu, jika seseorang sudah tak bisa menguntungkan lagi, dibuang begitu saja.
Sempat beberapa kali aku menjalani pengobatan dan rehabilitasi, tapi semua itu tak ada yang dapat menyembuhkan penyakitku, malah menguras habis uang yang sempat aku tabung dan tak menyisakannya sama sekali. Sedikit demi sedikit tubuhku berubah, daging yang dulu menempel di badanku pergi entah kemana, seakan ikut jijik untuk melekat di tulangku, mukaku mulai terlihat seperti tua mendadak, aku menjadi hidup mengelandang, hidup dari belas kasihan orang-orang, tidur di sembarang tempat hingga akhirnya tak ada semangat di hidupku dan tak ada kekuatan untuk melanjutkan hidup lagi, dan belati penyesalan itu telah terasah dengan sangat tajam terus menghujam setiap sisi di hatiku, dan semua kejadian itu mengantarkan aku ke pinggir kali ciliwung ini.

***

Kembang desa ini telah tumbuh menjadi kembang hitam yang tak lagi wangi, sehitam kali di depanku. Belati itu terus menyayat tipis setiap sisi hatiku, tak ada lagi kekuatan dan semangat untuk menghadapi dunia ini, aku telah kalah, benar-benar kalah.
Dengan sisa kekuatan di hati, walau sebenarnya aku tak pantas untuk mengucapkannya, aku ingin meminta maaf kepada kedua orangtuaku, bukan kalian yang salah mendidik, tapi akulah yang salah melangkah.
Dan untuk laki-laki yang mencintaiku dulu, Indra, semoga engkau bahagia dan menemukan seseorang yang mencintaimu, dan cintailah wanita itu seperti kau mencintaiku dulu, dan sungguh aku tak pantas untuk mendapatkan cintamu.

***

Kutulis kisah perjalanan hidupku ini tanpa bermaksud apa-apa, hanya inginku, tak ada lagi wanita yang terjerumus sepertiku, hanya karena keinginan, kita buta akan yang lain. Terkadang, karena sebuah keinginan berlebih akan “sesuatu” kita lupa bahwa kita sebenarnya telah memiliki “sesuatu” yang terbaik di hidup kita.

Siapapun yang menemukan surat ini, sungai ini telah membawaku ke muara, ke akhir hidupku, ke akhir penyesalanku.

Jumat, 20 Agustus 2010

Perjalanan Mengenang kenangmu.

Bekasi – Bandung. Jalan raya cianjur begitu lengang malam ini, hanya lampu jalan dan sesekali bis-bis antar kota menemani kesendirian perjalanan, terasa kadang angin sampaikan aroma wangi tubuhmu, sebentar saja, lalu kembali lindap di sampingku. Masih bisa kurasakan, pelukan tanganmu erat di pinggangku, seakan tak pernah ingin kau lepaskan, serupa cinta yang ada di dada kita. Namun takdir beri arti lain kepada harapan.
Vespa berjalan dengan kecepatan tak kencang, mengerti setiap pergelutan kenangan di ingatanku. Setiap jarak yang terlewat adalah kebersaman kenang, tertawa dan menangis dan debu jalanan yang terlipat rapi di kantong saku jaketku sebagai tanda engkau ada bersamaku. Sayang, ingatkah kau waktu kita memilih warna untuk vespa ini? Kita pilih warna putih dan biru karena biru adalah warna kesukaanmu dan putih adalah tanda kesucian cinta kita, tapi kita binggung untuk warna biru mana, ternyata terlalu banyak jenis warna biru, hingga suatu hari kita lewat di depan kuburan dan menemukan pecahan keramik dari salah satu makam kawanku, biru laut muda, ya, akhirnya kita setuju dengan warna itu. Saat itu, aku melupa bahwa itu adalah pertanda kepergianmu.
Malam telah beranjak dewasa ketika aku memasuki kota Bandung, se-dewasa pedih yang tumbuh subur di hati, ketika kesunyian tak mampu mengajarkan arti kegaduhan sementara kenanganmu tetap abadi di dada. “ aku mencintaimu, mencintai segala yang telah ada, yang baru, yang kau ajarkan padaku, dan di sinilah aku untuk pertama kali, memandang kota dan mu.” Masih kuingat dengan jelas kalimat yang pertama kali kau ucapkan untukku dan kota ini, dan untuk pertama kali juga kau pecahkan keperawanan kota Bandung di perjalanan hidupmu.
Waktu terus berdetak dan roda terus berputar, Meninggalkan semua dan menjadikannya kenangan. Udara malam terasa begitu dingin menusuk ke badan, tapi, ingatan tentang dirimu yang membuat hatiku beku. Dari tempat ini, Lembang, lampu-lampu kota tampak menari-nari, rerimbun daun teh seakan menyimpan abadi kenangan kita, rapat, hanya kau dan aku yang tahu dimana tersimpan, hati kita. Di sini, kita pernah menikmati segarnya udara perbukitan, memanaskan badan dengan segelas wedang jahe dan jagung bakar, mengunyah kehidupan dalam bahagia dan tawa, senyummu selalu menjadi purnama tak berkesudahan, malam itu.
Hujan mulai mengumbar kerinduannya akan bumi dan malam semakin tua di pelupuk mata, di keriputnya aku selipkan doa-doa kerinduan untukmu. Ingin sekali aku ikut berdansa di dalam hujan, ketika di derasnya hujan kulihat kau menari, seperti yang sering kau lakukan dulu, menari di dalam hujan, wajahmu begitu lugu, begitu gembira, dan kau tertawa bersamanya, dan aku suka melihat hujan dan tawamu. Udara semakin dingin dan hatiku semakin membeku.
Hujan selesai tepat setelah wajahmu memudar dan tarimu berhenti. Di depan penginapan yang dulu menjadi tempat kau dan aku mengakhiri malam, tempat kita saling menyentuh dan bertukar nafas agar terselaras detak di jantung , kita menyatu untuk pertama kali. sesudah itu, kau rebahkan mimpi dan citamu di bidang dadaku, dan kuletakkan semua di kepalan tangan, kuucapkan selamat malam dikeningmu, kau dan aku memiliki mimpi yang sama malam itu. aku hentikan vespa, merekam kembali semua itu di dada dan ingatanku.
***
Bandung – Bekasi. Kali ini arah kepulangan terasa sangat jauh, sejauh kepergian harapan yang telah kita ucapkan di kota ini, putaran roda vespa seperti tak beraturan, mengerti gundah yang telah menjadi dewa di pikiranku dan batas kota Bandung melambaikan tangannya sambil meneriakan kata-kata perpisahan yang terdengar begitu memuakkan di telinga. Aku suka kota ini dan aku suka kenangan indah bersamamu di kota ini dan aku benci ketika kenyataan mengharuskan berpisah dengan kalian.
Matahari sudah mulai mengurangi keangkuhannya, dan cahayanya tak begitu keras lagi menegur para pemimpi. Vespa terus melaju, liukan jalan di bukit kapur, Padalarang, mengingatkanku akan hidup yang tak selalu lurus dan tak selalu sesuai keinginan, setiap kelokan adalah irisan perih di hati, karena di sisi dinding bukit pernah kita tulis mimpi dan harapan, bahkan gambar wajahmu masih terlukis jelas di sana. Di sini pernah kita nikmati manisnya air kelapa muda, semanis kisah kita dahulu dan semuda kisah kita.
Jalan semakin menanjak dan menurun ketika aku sampai di daerah Jonggol, kanan kiri hutan membuat pemandangan yang begitu indah, mengingatkanku akan lembat rambutmu, tempat kau sembunyikan resahku dan di teduhnya hutan kutemukan matamu yang selalu saja mampu memberi harap ketika semangatku mulai lesap.
Roda vespa mulai semakin goyah ketika memasuki jalan Cicariu, di sebuah tikungan tajam kuhentikan laju roda dan kupakirkan vespa, sejenak aku berdiri menikmati pemandangan sawah di kanan kiri jalan, melihat petani menanam bibit-bibit harapan di sawah mereka, pemandangan yang sangat indah dan terasa sangat kontras dengan panorama di hatiku, selama lima tahun ini. Lima tahun sudah kuulang perjalanan ini di tanggal yang sama, setiap melakukan satu kali perjalanan ini, maka aku butuhkan satu tahun lagi untuk memberanikan diri melewati jalan ini, jalan yang dulu kita lewati bersama.
Badanku bergetar, kakiku seakan menancap ke dasar bumi, bulir-bulir airmata mulai deras membasahi pipiku, bukan karena aku cengeng, tapi, aku tak pernah sanggup menatap tempat ini, tempat terakhir kau di pelukanku. Di sini, lima tahun yang lalu, kau menghembuskan nafas terakhirmu dalam pelukanku, Masih ku ingat jelas kejadian itu, ketika dari arah berlawanan sebuah bis melaju dalam kecepatan tinggi, bis itu melaju dengan oleng karena sopirnya berkendara dalam keadaan mengantuk dan kita sedang menikmati pemandangan persawahan yang indah dan kebahagian canda diantara kita, ketika tiba-tiba kulihat bis itu melaju tepat kearah kita, sempat ku hindari bis itu, tapi, sebuah lobang besar di pinggir jalan yang rusak membuat kita terlontar, aku terhempas ke dalam selokan sementara kau tergelatak di tengah jalan, sempat kau berdiri namun seketika sebuah mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi menyambarmu dan membuatmu terpental ke pingir jalan, mobil terus melaju tanpa memperdulikan tubuhmu yang tergelatak, aku berlari kearahmu, memelukmu, menanggis, tapi kau sama sekali tak bergerak, terus-menerus kuteriakkan namamu berulang kali tanpa pedulikan sekitar kita, sempat kau membuka mata, memandang kearahku, merintih kesakitan, namun bibirmu tersenyum diantara darah yang keluar, sampai saat ini aku masih tak tahu apa yang membuatmu tersenyum waktu itu, dan waktu itu juga kau paksa bibirmu untuk mengucapkan sebuah kata yang tak pernah bisa kulupakan dan terus terngiang di telinggaku, “aku mencintaimu dan aku bahagia, terima kasih, sayang.” Kata terakhirmu di hembusan terakhir nafasmu.
Senja mulai melukis warna merah di ufuk barat, setelah kepergianmu entah kenapa aku tak suka ketika senja hari tiba, kulihat di merahnya isyaratkan luka dan perpisahan. Dari dalam tas kukeluarkan semua barang kenangan tentang kita, mengusap lembut semua, karena ku tahu tanganmu pernah singgah disana, orang-orang yang lewat memperhatikanku, meraba-raba apa yang aku lakukan di sini, tapi aku tak peduli karena kutahu kau ada di sini, di sampingku, mengengam tanganku.
“sayang, aku datang.” Ucapku, dan aku tahu kau mendengar dan menjawabnya, walau dalam bahasa sepi, bahasa angin yang lindap di telingaku.
“sayang, banyak hal yang terjadi lima tahun ini, ingin kubagi semua bersamamu, semua telah berubah, kecuali rasaku untukmu. Ketahuilah sayang, mereka seperti mengerti apa yang aku inginkan, tapi, sesunguhnya mereka tak pernah tahu, karena yang aku inginkan hanya bersama dirimu dan bersama dirimu. mereka bisa mengobati luka di ragaku, tapi, mereka tak akan pernah bisa mengobati luka di hatiku.”aku terus berkata, sementara airmata terus mengucur di pipiku dan aku tahu kau juga ikut menangis bersamaku.
“sayang, hari ini kubawakan semua barang kenangan tentang kita, kuletakkan di tempat terakhir kita bersama, terimalah, kuberikan semua barang kenangan kita bukan untuk melupakanmu, karena kau telah abadi di hatiku, selamanya.” Ucapku sambil meletakkan barang kenangan itu di tempat terakhir kita bersama.
“sayang, ini terakhir kali aku menemuimu, sungguh, bukan untuk melupakanmu, tapi, hidup terus berjalan dan aku tak bisa selamanya terdiam akan kenangan kita, karena hidup bukan aku dan kau saja, ada kebahagian orang lain yang berhubungan dengan diri kita dan itu orang tuaku. Sayang, orang tuaku telah memilih seseorang untuk menjadi pendamping hidupku, mereka bilang aku akan bahagia, tetapi sesunguhnya mereka tidak pernah tahu bahwa kebahagianku telah mati bersama kematianmu.”
“aku mencintaimu dan aku bahagia, terima kasih, sayang.” kudengar halus suara angin di samping telingaku seakan kau menjawab kata-kataku.
Malam baru saja terlahir dari rahim hari, vespa berjalan pelan meningalkan jalan Cicariu, meninggalkan semua kenangan kita dan sepi mengambil alih hidupku untuk selamanya.


Beny Fauzan
Bogor, 20/08/10

Selasa, 17 Agustus 2010

Juliet

"Juliet, akulah yang membunuh Romeo. Aku mencintaimu, seperti kau mencintai puisi-puisi kekasihmu, puisi yang dia curi dariku."



Pagi di beranda rumah kita. Kulihat kau tersenyum, senyummu, selalu saja mampu meredakan semua hal di dadaku, sambil kau mengurusi taman di depan beranda rumah yang di penuhi bungga-bungga mekar dengan berbagai warna, seperti cinta yang terus mekar di hati kita atau hanya mekar di hatiku saja, entahlah. Kulihat engkau bahagia ketika mengurusi taman ini, kau memang menyukai keindahan taman ini selain kau juga sangat suka dengan puisi yang selalu kucipta dan kubacakan di malam-malammu.

Tak terasa satu tahun sudah kita bersama, tertawa dan bahagia. Membangun sebuah keluarga, membuat kehidupan baru,kehidupan kita berdua, jauh dari orang-orang yang mengenal kita, atau lebih tepatnya, melarikan diri dari mereka.

***

Aku ingat, ketika dua tahun yang lalu kau datang ke desaku, di karenakan usaha orang tuamu bangkrut di kota. sebagai gadis yang cantik dan gadis kota, hampir semua pemuda di desa ini tergila-gila dan ingin menjadi kekasihmu, dan aku salah satu dari mereka, juga termasuk sahabatku.Tapi, bukan itu yang membuatku jatuh hati kepadamu, kecantikan tingkah lakumu yang begitu mempesonaku.

Mulai saat itu aku seperti keranjingan untuk menulis puisi untukmu, sebagai penganti ungkapkan hatiku yang tak pernah berani untuk kukatakan secara langsung, tepatnya, aku menjadi pengagum rahasiamu, seperti tak pernah habis akal di otakku untuk mengirimkan lembaran-lembaran puisi yang ku tulis agar selalu sampai kepadamu tanpa pernah kau ketahui siapa penulisnya, karena memang tak pernah berani aku menuliskan nama di lembar itu. Sampai satu saat aku mendengar sahabatku mengakui, bahwa dialah penulis puisi itu.

Ya, sahabatku adalah lelaki yang mungkin sangat pantas untuk kau jadikan kekasihmu, sebagai anak bupati, dia menjadi orang terkaya di desa, dia punya segalanya, kecuali satu, puisi. Dan tentu orang tuamu dengan sangat setuju menjadikan ia menantunya. Tapi, aku tak pernah bisa menerimanya, sebagai seorang sahabat dari kecil, aku tahu siapa dia dan kebohongan-kebohongan di dirinya.

Sebagai sahabat dari kecil, aku sangat mengenalnya. Aku ingat, beberapa kali aku pernah di ajaknya ke tempat lokalisasi pelacuran di desa tetanga, di sana dia sangat terkenal, setiap wanita selalu ingin diajak tidur olenya karena sudah dapat dipastikan akan mendapat uang yang banyak. Sebagai lelaki aku tak akan munafik untuk tidak mengakui bahwa terkadang aku suka ke tempat ini, terkadang suka meminum minuman keras, secukupnya, suka melihat wanita-wanita yang ada di tempat ini, tapi hanya sebatas itu, karena untuk tidur dan bercinta dengan seseorang tidak hanya menggunakan nafsu tetapi yang paling penting adalah menggunakan perasaan, dengan bercinta dengan perasaanlah kita bisa mendapatkan kenikmatan yang benar-benar nikmat. Percintaan tak hanya sekedar pertemuan dua kelamin, tapi lebih dari itu, bercinta adalah penyatuan dua rasa cinta yang di lebur dengan kasih sayang, belaian dan sentuhan atas perasaan di hati. bercinta bukan saja sentuhan fisik tapi sentuhan jiwa.

***

Enam bulan berlalu sejak kau menjadi kekasih sahabatku dan memutuskan untuk bertunangan dengannya, mungkin atas desakan orangtuamu, Tentu, orang tuamu punya kepentingan atas pertunanganitu. Di tengah acara pesta pertunanganmu, kulihat bibirmu tersenyum, tapi tidak dengan matamu, kulihat kekosongan disana, tak ada binar-binar yang biasanya memancar dari kedua bola matamu, sebuah binar harapan dan kegairahan hidup.hari ini mata itu kosong, seperti matinya sebuah harapan. Melihat semua itu,hatiku seperti ikut mati, seperti matinya puisi-puisiku yang tak pernah sampai lagi ke dirimu, ya, sejak kau memutuskan untuk menjadi kekasih dari sahabatku, aku memutuskan untuk berhenti menulis puisi untukmu, atau mungkin itukah yang membuat binar-binar di matamu menghilang? Aku tak tahu pasti.

Namun, sejak hari itu, akuberniat untuk mencari seorang dukun yang telah menjadi legenda di tempat kita, seorang dukun yang sangat sakti menurut kabar orang-orang, seorang dukun yang hidup menyendiri di dalam hutan, dan tidak di ketahui dimana tempat pastinya dia tinggal. Seminggu lebih aku menggarungi hutan belantara ini, bergelut dengan dingin dan lelah, keluar masuk gua, tapi tak kunjung kutemukan. Dan ketika semangatku semakin luntur, pandangan kosong matamu di hari pertunanganmu, membuatku kembali bangkit dan berjanji akan terus mencari dukun itu hingga ketemu. Jujur, aku tak akan pernah mampu untuk memandang kesedihan di wajahmu, apapun itu akan kulakukan untuk membuat senyum selalu terhias dibibirmu, bahkan sekalipun harus kutukar dengan nyawaku.

Akhirnya, aku menemukan dukun itu, setalah perjalanan panjang yang sangat melelahkan fisik dan pikiranku. Mendengar alasanku mencarinya, dukun itu menertawaiku dan mengatakan aku bodoh, dan ia malah mengusirku, tapi, niat telah membatu di hatiku dan tak bisa ditawar lagi, hingga akhirnya dukun itu menyerah dan mau menerimaku menjadi muridnya dan mangajarkan semua ilmu yang ia punya kepadaku termasuk ilmu untuk memelet wanita, dan ilmu inilah tujuanku. Dimana ada kemauan dan mimpi, alam akan selalu membantu untuk mewujudkannya, tapi sejauh mana usaha kita untukmewujudkannya, suara hatiku berbisik kepadaku. Empat bulan lamanya aku belajar kepadanya, banyak ilmu yang telah kupelajari dan laku yang harus kujalani, dan aku berhasil mempelajarinya dengan sangat cepat.

***

Semalam sebelum hari pernikahanmuaku datang kembali ke desa, berusaha untuk dapat menemuimu, diantara keramaianaku menyelinap ke kamarmu tanpa kau sadari. Di dalam kamar kulihat kau diranjang sedang tertidur, terbaring menghadap samping membelakangiku, aku terus melangkah dengan sangat hati-hati mendekat, tapi, samar ku dengar suara isak tangis dari arahmu, oh, rupanya kau belum tidur. Aku diam terpaku diantara dinding dan ranjangmu, dan secara tiba-tiba kau berbalik, memandang kearahku, badanku bergetar kencang dan kakiku seperti tertancap ke lantai. Sepertiku, kaumemandang ke arahku tanpa bersuara, hanya memandang, tak ada suara yang keluar dari mulut, tapi, aku lihat binar-binar kembali menghiasi ke dua bola matamu.

Setelah sunyi kita taklukkan, kau mempersilahkanku duduk di atas ranjang tepat di sampingmu, kaupun mulai bercerita tentang kehidupan dan kesedihanmu, harapan dan mimpimu dan juga tentang bagaimana kau telah mengetahui puisi itu ternyata di tulis olehku, karena diberitahukan oleh teman wanitamu yang juga temanku, teman yang selalu kuminta bantuan untuk menyelipkan puisi itu ke tempatmu, tentang betapa salahnya kauselama ini dan tentang betapa rindunya kau untuk bertemu denganku. Mendengar ceritamu membuatku mengerti ucapan dukun itu waktu aku masih menjadi muridnya, dia bicara kepadaku tentang "betapa beraninya aku mencarinya, tapi, betapa sangat takutnya aku hanya untuk mengungkapkan perasaanku kepadamu.".

Malam itu, aku menawarkan kepadamu tentang rasa di hatiku dan kau bilang, sudah sangat terlambat untukkita bersama dan juga kau bilang, bahwa kau lebih memilih kebahagian keluargamu walau harus mengorbankan kebahagian dirimu sendiri.

Setelah mendengar jawabanmu, diam-diam aku merapal mantra pelet untuk menaklukan hati wanita yang di ajarkan dukun itu kepadaku, mengusap-usap telapak tanganku dan meniupnya sebanyak tiga kali, Lalu, dengan gerakan cepat kuusapkan ke wajahmu.

Malam itu, kau kubawa kabur meninggalkan desa, meninggalkan keluarga dan orang-orang yang kita kenal, meninggalkan kesedihanmu, meninggalkan tatapan kosong matamu, meningalkan penjara seumur hidupmu yang mereka buatkan untukmu dengan sebuah pesta perkawinan, kita terus berlari menuju kearah kebahagian dan kemerdekaan rasa di hati kita.

***

Di taman bunga ini, kulihat kau menari dan bernyanyi, tersenyum bahagia, binar-binar kebahagian memancar dari kedua bola matamu. ah, aku tak peduli lagi, keadaan ini akibat mantra atau memang hatimu menginginkannya, karena puisiku telah hidup kembali di hari-harimu.



Farian Pratama Fauzan

Bekasi 17/08/10.



Kamis, 12 Agustus 2010

Stasiun Senen dan Kenanganku

Stasiun senen pagi ini. Orang-orang lalulalang, pergi dan pulang, seakan rutinitas yang membuat aku tak pernah berhenti mengunyah isi di otak mereka, diantara seribu wajah yang tak pernah bertukar sapa antara mereka, kehidupan seakan membawa mereka lupa akan sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Aku berada diantara mereka, disini, setiap hari menikmati detik akan kenangan bersamamu di tempat ini adalah kebahagian bagiku.
Aku terlahir bernama Ariyani, atau orang-orang yang tingal disini suka memangilku nyai Ani, tujuh puluh tahun yang lalu tepatnya, disebuah desa di daerah perbatasan jawa barat - tengah. Aku masuk ke stasiun senen ini ketika usiaku menginjak tujuh belas tahun. stasiun senen dahulu belum sebagus ini, dulu di sini masih banyak rumput-rumput liar tumbuh, bangunan stasiun pun tak sebagus sekarang hanya sebuah bangunan kecil yang berbentuk kotak dan tidak terlalu besar. Disini dulu juga banyak bangunan-bangunan liar atau biasa di sebut warung remang-remang atau tenda biru, tempat para lelaki hidung belang melepaskan hasratnya, tak perduli masih bujangan atau sudah punya istri. Dan di situlah aku pertama kali mencoba peruntungan hidup.
Orang-orang yang lewat sering mengangap aku pengemis, mereka suka melemparkan uang receh kepadaku tapi tak pernah ada yang menanyakan kenapa aku di sini, mereka hanya meliha aku seorang wanita tua dan perlu dikasihani. ah, memang sifat manusia sekarang, mereka suka melihat sesuatu dari tampilannya saja, Padahal aku tak butuh uang mereka. Untuk uang aku tak pernah kekurangan, anak-anakku semua sudah berhasil, anak pertamaku sekarang sudah lulus S2 untuk jurusan Manajemen dan bekerja sebaga pengusaha yang cukup sukses di Jakarta dan anak ke duakupun telah menjadi PNS dan mempunyai jabatan yang cukup tinggi. Telah kubesarkan mereka seperti apa yang suamiku pesankan kepadaku, untuk selalu menjaga anak-anak dan sekolahkan mereka yang tinggi agar tak menjadi anak yang bodoh.
Ya, suamiku, orang yang paling kucintai seumur hidupku.
***
Lima puluh tiga tahun yang lalu aku datang ke stasiun, dengan hanya bermodal keberanian dan keyakinan untuk dapat merubah keuangan keluarga aku merantau ke Jakarta, alih-alih mencari pekerjaan aku malah hanya bisa menjadi pelacur di stasiun ini, dikarenakan memang aku tak pernah mengecap pelajaran sekolah, jadi hanya pekerjaan inilah yang mampu aku lakukan atau yang terseda untukku. Tapi dengan bermodal wajah yang lumayan cantik dan supel dalam pergaulan aku menjadi kembang di sini, hingga membuat aku menjadi rebutan para pelangan.
Suatu hari di tengah pertengkaran aku melihatmu untuk pertama kali, ketika seseorang yang mabuk tidak mau membayar atas jasa yang telah kulakukan, dan ia malah menghina dan mencaci-makiku, dan kau pun datang untuk melerai perkelahian itu, karena memang itu tugasmu sebagai petugas pengaman atau jawara yang menjaga tempat ini. Tapi, pertemuan itu telah membuat hari-hariku berubah, aku jadi suka menghayal dan mencari-carimu, hanya untuk melihat wajahmu, dan aku tahu kau pun begitu kepadaku.
Akhirnya, hari-haripun kita lalui berdua, bersembunyi dari germo yang merasa telah memilki diriku dan berhak melakukan apa saja atas diriku, hingga akhirnya aku hamil darimu karena denganmu aku tak pernah memakai pengaman saat berhubungan badan. Mendengar tentang kehamilanku kau pun mendatangi germo yang memilikiku, memintanya untuk melepaskan aku dari pekerjaan yang harus aku lakukan. Di depanmu dia tidak dapat menolak kemauanmu, karena sebagai seorang jawara tempat ini tak ada yang berani berurusan denganmu termasuk anak-anak buahnya, jadi dia persilahkan aku kau bawa, tapi, aku tahu dari sorot matanya dia menyimpan dendam, karena aku adalah lumbung penghasilannya dan setelah kepergianku pelangan yang biasanya ke tempat ini pasti akan pergi ke tempat lain.
Waktu terus berjalan, kau selalu berusaha membuatku bahagia, tak pernah memperdulikan masalaluku. Bersamamu seakan semua mimpiku telah tercapai, aku hidup dalam kebahagian sebagai seorang ibu dan seorang istri. Hingga kehamilanku atas anak kedua kita, ketika itu banyak para jawara-jawara baru datang dan mau melakukan apa saja demi uang.
Suatu malam di hari aku melahirkan putra kita yang ke dua, di tengah pertaruhan nyawaku untuk anak kita, kaupun sedang mempertaruhkan nyawamu untuk keluarga kecil kita. Menurut cerita orang-orang, malam itu kau berkelahi melawan lima jawara yang ingin merebut pekerjaanmu, pekerjaan yang menghidupi keluarga kita, aku tahu, kenapa kau mempertahankan pekerjaan itu walau harus kau tukar dengan nyawamu sekalipun, karena hanya itu pekerjaan yang mampu kau lakukan untuk menghidupiku dan anak-anak kita. Melawan lima orang sendirian, karena tak ada yang membantumu karena anak buah telah di beri uang oleh mantan germoku untuk tidak membantumu, di tengah pertarungan itu kau berhasil membunuh dua orang dari mereka pertanda kegigihanmu melawan mereka, kegigihanmu membela kebahagian keluargamu, walau akhirnya nyawamu tak dapat di selamatkan.
***
Stasiun senen pagi ini. Di lorong dekat taman patung tekad merdeka, orang-orang ramai berkumpul, membentuk setengah lingkaran karena memang di depan mereka ada pagar yang menghalangi, dari tempat aku berdir tak bisa kulihat apa yang mereka kerubungi, penasaran, aku ingin menghampirinya ketika sebuah tangan menarik tanganku, sebuah tangan yang sangat aku kenal, sebuah tangan kasar yang sentuhannya terasa lembut di kulitku, sebuah tangan yang sangat aku rindukan memeluk tubuhku.
“istriku, aku sangat merindukanmu, telah lama aku menanti kedatanganmu di sini, kedatanganmu menemuiku untuk menjadi milikku utuh kembali, menikmati kerinduan dan cinta kita yang telah cukup lama tertahan.”
Seketika jiwaku dan jiwa suamiku melayang ke angkasa, meninggalkan ragaku yang tengah di pandangi orang-orang.


Beny Fauzan
Senen, 13/08/2010 00.53 WIB

kekuatan cinta

Siang ini matahari seperti malu-malu untuk menampakkan wajahnya, dia lebih memilih bersembunyi di balik awan. Di jalan yang tak terlalu ramai, mungkin karena hari libur para penghuninya memilih liburan keluar kota atau bersantai di rumah dengan keluarga setelah lelah satu minggu bekerja atau terjebak dalam kemacetan. Di jalan itu sebuah mercedez benz yang berwarna putih dengan dihiasi pita dan karangan bunga di sekelilingnya berjalan pelan namun pasti.
Aku dan kamu berada dalam mobil ini, mengingat kembali cerita-cerita indah, mengingat setiap waktu yang kita lalui penuh dengan cinta dan bahagia. Aku masih ingat ketika pertama kali melihatmu, aku begitu terpesona dengan senyummu, dengan mengunakan kaos merah, celana jeans dan sepatu kets membuat tampak begitu angun, menurutku.
Sejak pertemuan kita pertama kali itu, tak satu hari pun terlewat tanpa ada dirimu di pikiranku, ah, aku sangat mencintaimu. Apalagi, setelah aku tahu kau juga mempunyai perasaan yang sama kepadaku, dan akhirnya kita memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih.
Tak terasa sudah 3 tahun aku dan kamu menjadi kekasih, walau kita menjalaninnya secara sembunyi-sembunyi dari orangtuamu, karena meraka tak pernah setuju aku menjadi kekasihmu apalagi untuk menjadi suami, Tapi, kau tetap bertahan dan berjuang untuk cinta kita, karena kita yakin suatu saat nanti pasti cinta kita menang.
“Ya, wajar mereka tak menyetujui hubungan kita saat ini, karena kondisiku keuangan keluaragaku dan aku, tapi, aku akan terus berusaha untukmu.”ucapku sambil mengengam jemarimu.
“aku pun akan berjuang untuk mempertahankan cinta kita, karean aku tak bisa hidup tanpamu dan hatiku memilih untuk menjalani kehidupan ini bersamamu selamanya.”ucapmu membalas ucapanku sambil memeluk tubuhku. Dan aku sangat bahagia mendengar ucapanmu, sungguh aku sangat bahagia.
Mercedez benz terus menyusuri jalan, semakin dekat ke tempat peraduan terakhir untuk menjalani kehidupan bersama. Aku masih mengingat hari-hari yang kita lewati bersama, mengingat jalan ini, jalan yang menyimpan seribu kenangan tentang kita. Dan taman di pinggir jalan ini adalah tempat janjian kita bertemu karena tak mungkin aku menjemputmu ke rumahmu, orangtuamu pasti akan mengusirku. Di ayunan itu kita sering bertukar cerita tentang hari-hari yang kita lalui, membagi tawa dengan bunga-bunga yang mekar dengan indah di taman ini, dan juga membagi tangis ketika kita bicara tentang orang tuamu.
“kamu jangan nyerah ya, karena aku tak akan pernah menyerah untuk mempertahankan cinta kita. Dan yang lebih penting aku tak bisa hidup tanpamu.”ucapan yang selalu membuatku bertahan dan berusaha untuk menunjukkan kepada orangtuamu bahwa kita mampu.
Perjalanan mercedez benz ini tinggal satu kelokan di depan, aku dan kamu duduk di dalam mobil yang bisa menandakan kedudukan sosial seseorang di mata masyarakat, kedudukan yang selalu menjadi jurang pemisah antara si kaya dan si miskin. Walau sebenarnya kita selalu diajarkan di mata Tuhan semua manusia itu sama, tak ada bedanya. Tapi, itu hanya teori dari sebagian orang karena di dunia sebenarnya tak pernah berlaku hal seperti itu, dan jurang pemisah itu adalah realita sebenarnya.
Akhirnya, mercedez benz sampai di tujuan akhir perjalanan di sebuah rumah baru, rumah yang sangat mewah, rumah yang berada di antara lingkungan elit diantara tetangga yang tak pernah saling bertukar sapa, mungkin juga tak pernah saling mengenal.
“tuan dan nyonya, kita sudah sampai.”ucapku.
Dan kulihat airmata menetes di pipimu.


Beny Fauzan
Bekasi

Jumat, 30 Juli 2010

Aku Rindu Wajahmu, Ibu.

Sebagai seorang anak, kami adalah harapan dan pengharapan, sumber kebahagian, mempererat keutuhan sebuah keluarga. Kehadiran kami selalu di nanti-nantikan sebagai penerus sebuah keturunan, penerus nama keluarga. Tanpa kami sebuah hubungan akan menjadi kosong, seperti sayur tanpa garam, begitulah kata-kata orang arti sebuah anak. Tapi sayangnya tidak semua dari kami mendapat perlakuan seperti itu, termasuk aku.
Aku terlahir tanpa pernah di harapkan kehadiranku. Terkadang harapan bisa berubah menjadi sebuah aib, ketika sebuah tanggung jawab dari sebuah perbuatan tak lagi relevan, dan janji menjadi sebuah kata tanpa arti ketika norma masyarakat ikut mengambil peran.
Aku tercipta dari penyatauan cinta sepasang jiwa, cinta yang memabukkan mereka dalam usia muda. Tetapi ketika mimpi terenggut sebuah keharusan pilihan menjadi senjata yang memakan diri sendiri.

***
“ibu, aku ada karena kau yang membuatku ada.”
Di rahimmu, aku berlindung dari luka yang kau tanggung ketika ayahku meniggalkanmu dalam kesendirian, kesepian dan keterpurukan.
“Apa ini salahku ibu?”
Karena aku tak bisa memilih siapa yang akan menjadi ayahku, dan kaulah yang memilihkannya untukku.
“Ibu, kini hapuslah airmatamu.”
Sembilan bulan sepuluh hari, kau menangis tanpa henti, meratapi semua yang pernah terlewati. Dan aku mendengar dan menanggis bersamamu.
“Oh ibu, aku tak bisa melihat, meraba, dan berlari.”
Sekian lama aku menunggu untuk melihat, meraba wajahmu dan berlari kepangkuanmu. Aku sangat merindukannya ibu, sunguh. tapi, obat yang sering kau minum waktu aku masih di kandungan telah mengambil mata, tangan dan kakiku. Hanya jiwaku dan semangat untuk melihat dan meraba wajahmu dan berlari kearahmu yang tak bisa dia rengut dariku.

***
“Ibu, kaukah ini, yang memelukku dengan kedua sayap di punggung.”
Dengan kaki mungilku aku berlari kearahmu, meraba wajahmu.
“Ibu, aku bisa melihat dan berlari, Aku bahagia.”
Ketika aku dilahirkan semalam, aku tak bisa melihat bahkan untuk mengeluarkan suara tangis pun aku tak mampu sehingga aku manangis dengan hatiku dan sampai membawanya ke tidurku.
“Kau sangat cantik ibu, kau tersenyum, sudah selesaikah tanggismu?”
“Tunggu dulu, apa benar kau ibuku?”.


F. Farian Pratama.
Bekasi 31 juli 2010 5:10

Senin, 12 Juli 2010

Saudara (sesusu)

Pagi ini, udara dingin seperti menusuk sampai ke tulang. Bis yang kutumpangi semakin terus melaju ke depan tanpa menoleh sedikitpun kebelakang, semakin jauh meninggalkan desa kelahiran, sepertinya mengerti apa yang ada di pikiranku, takkan pernah ada jalan pulang. Siguntur muda, ya, desa yang tak pernah kutinggalkan sekalipun kecuali untuk bersekolah setiap hari ke kota Padang, karena di desaku tak ada sekolah menengah atas.

Didesa ini kita lahir dan besar bersama, bahkan orang tua kita sering berkata bahwa kita adalah saudara sesusu, karena sewaktu bayi ketika orangtuaku pergi ibumu yang menyusuiku dan begitupun sebaliknya ketika orang tuamu pergi maka ibukulah yang menyusuimu.
Dari kecil kita selalu bersama, berangkat dan pulang sekolah selalu bersama dan duduk di bangku kelas yang sama, belajar mengaji di suraupun kita selalu bersama dan bahkan melakukan kenakalan-kenakalan pun selalu bersama, dimana kau ada maka di situpun aku ada. Dari dulu, apapun yang aku miliki berarti kaupun memilikinya dan begitupun sebaliknya, ya, hingga suatu hari kita tersadar bahwa ada satu hal yang kita tak bisa memilikinya secara bersama dan itulah yang mengakhiri semuanya.
***
Dengan langkah agak sempoyongan kau mendatangiku, matamu merah, tak ada senyum di bibirmu dan bau minuman keras menyeruak dari tubuhmu.
“Aldi!” kau memangil namaku dengan suara yang sangat keras dan dengan penuh kemarahan.
“begini caramu membalas persaudaraan kita selama ini.” kau terus berteriak sambil menunjuk-nunjukkan jarimu ke mukaku.

“Maaf, saat itu aku mabuk dan tak sadarkan diri, bahkan sampai sekarangpun aku masih tak ingat kejadian sebenarnya.”ucapku, membela diri karena aku benar-benar tak pernah ingat kejadian semalam.
“Ah, alasan saja kau.” katamu dengan raut muka yang tak percaya.
“Benar, kau tahu setelah kita minum-minum semalam aku mabuk berat dan bukankah kaupun sama mabuk denganku. lalu, kita sama-sama pulang, setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi, dan aku baru sadar setelah paginya aku terbangun sudah ada di dalam kamarnya dan dia tidur di sampingku.”aku masih terus mencoba memberi penjelasan karena hanya memang itu yang aku ingat.

“enak sekali kau bicara, kau tahukan dari dulu aku sangat mencintainya dan sekarang kau telah mengkhianati semuanya, kini kita bukan saudara lagi karena aku tak pernah sudi punya saudara sepertimu.” Nada suaramu semakin meninggi.

Tiba-tiba aku merasakan keheningan malam yang semakin hening, aku masih terus mencoba menginggat-ingat kejadian semalam dan tadi pagi dan sekaligus mencerna kata-kata yang kau ucapkan barusan. Begitu mudahkah sebuah ikatan persaudaraan yang telah kita jalin dari kecil bahkan ketika kita belum mengerti apa-apa putus hanya dikarenakan sebuah kesalahan yang mungkin aku lakukan tanpa sadar.

“Heh…” tiba-tiba kau berteriak memecah keheningan diantara kita dan kau memanggilku tanpa menyebut namaku lagi, satu hal yang tak pernah kau lakukan dari dulu.
“mulai sekarang, di desa ini hanya akan ada salah satu saja diantara kita, kau atau aku yang hidup.”

Aku terpaku mendengar kata-katamu, keringat dingin mulai muncul dari seluruh pori-pori kulitku, kakiku gemetar seakan tak mampu menahan berat badanku. Dan tanpa kusadari kau telah menggengam pisau lipat yang selalu kau selipkan di pinggangmu kemanapun kau pergi. Matamu semakin merah menyala, amarah atau kemabukkan yang membuatmu bertindak seperti ini, tak sempat aku berpikir apa yang mendorongmu berbuat seperti ini ketika tiba-tiba aku tersadar pisau lipatmu telah mengarah langsung ke dadaku.
***
Sepagi ini terminal di kota padang begitu sepi, hanya ada beberapa calon penumpang dan beberapa bis antar kota saja. Aku merasakan gemuruh di dadaku begitu hebat, masih kurasakan badanku gemetar dan keringat dingin itu tak pernah mau berhenti. Pisau lipatmu telah terselip, berpindah tempat ke pinggangku, sebagai tanda kau tetap ada bersamaku kemanapun aku pergi, karena bagiku kau akan terus menjadi saudaraku.

Di desa kelahiran kita tentu orang-orang akan selalu melihat kita bersama-sama, bukan salah satu dari kita, karena tak ada kata akhir bagi sebuah hubungan persaudaraan. Dan malam tadi adalah malam terakhir untuk kita di desa kelahiran kita, desa yang tak pernah kita tinggalkan sekalipun. Tapi, sekarang aku harus meninggalkan desa itu untuk selamanya dan meninggalkan semua yang kumiliki kecuali persaudaraan kita.

Selamat jalan saudaraku, dimanapun kau berada kini, aku akan selalu menjadi saudara bagimu.


BF
Bekasi, 27-06-2010