Senin, 31 Januari 2011

Sebuah Pengharapan

; x-andria.


x-andria. Di perkenalan ini tak perlu kita basabasi yang ternyata memang sudah basi untuk dicicipi oleh para pencari kejujuran hati seperti puluhan puisi yang kusimpan di almari dan tak lagi punya arti. Malam ini, kita berdua samasama tahu tak ada cinta antara kau dan aku karna terlalu larut malam dan kita samasama lelah akan keberpurapuraan.

x-andria. Dari pesan yang kau kirim lewat kedipan matamu dapat kubaca tentang benih yang diamdiam mulai tumbuh di kepala, sebuah bibit pengharapan dari tak sempurna kisah masalalu.

x-andria. Di zaman ini dimana kemunafikan lebih lacur daripada cinta, kita coba menyusun sebuah asa, tetap menjaga kesucian arti dari sebuah perkenalan, yang kini mungkin telah menjadi sebuah pengharapan. Maka, nikmati saja bunyi detak waktu tak perlu buruburu karna memang kita tak lagi ikut lomba kecepatan waktu.

keberpurapuraan hati.

Gelap mulai pupus terganti, semburat cahaya jingga di ujung timur mulai menampakkan kuasanya, udara dingin masih tersisa meraba kedinginan hati para pemimpi yang baru saja menyelesaikan mimpi-mimpinya dan kembali bangun untuk menampaki kenyataan yang memang harus ia jalani.

“dan semua sudah berakhir.” Kata terakhir yang kudengar sebelum pembicaraan melalui telepon gengam ini berakhir.

***
“hai sayang, nanti makan siang bareng ya, aku tunggu di tempat biasa.” Sebuah pesan singkat masuk ke telpon gengamku. Pukul sebelas lewat dua puluh tiga menit ketika kulirik jam di samping kanan laptop, sebentar lagi, aku mulai merapikan pekerjaan kantor yang belum selesai untuk kukerjakan, ini bisa menunggu, setelah selesai aku langsung keluar dari kantorku dan menitipkan pesan untuk sekretarisku, jika ada yang mencari dan menghubungiku katakan aku sedang ada urusan di luar dan suruh untuk melakukannya lagi setelah jam makan siang.

Aku melangkah cepat keparkiran mobil, karna tak ingin nantinya menghabiskan waktu lama di jalan, adalah hal yang sangat biasa ketika jam makan siang jalanan di penuhi oleh mobilmobil yang memaksa orang untuk bersabar dalam kemacetan. Sangat kontras memang yang terjadi dengan situasi di Negara ini, dimana sebagian banyak orang berpikir untuk makan apa hari ini dan sebagian lagi malah pusing memikirkan akan makan di restoran mewah yang mana hari ini. Apa urusanku, itu urusan pemerintah untuk memikirkan nasib mereka dan terserahlah mereka mau atau tidak untuk memikirkan kesejahteraan rakyat mereka, yang penting aku telah membayar pajak yang sudah menjadi kewajibanku sebagai penduduk yang tinggal di Negara ini untuk membayar gajigaji mereka, walau terkadang yang kudengar di berita mereka tak pernah perduli akan nasib rakyat dan malah sibuk memperkaya diri sendiri. Semua perbuatan akan dipertanggung jawabkan nanti setelah kematian.

***
“hi sayang, kamu udah datang duluan.” Lalu sebuah kecupan lembut mendarat di bibirku.
“iya aku sengaja datang lebih cepat, menghindari macet.”
“kalo aku tahu kamu datang lebih awal, tadi aku juga akan keluar lebih cepat.”
“gak papa kok, aku juga memang hari ini ingin datang lebih cepat aja.” Ucapku yang membuat ia mengembangkan senyuman di bibirnya. Mungkin ia pikir aku datang karna aku merindukannya.
“udah pesan makanan belum?”
“belum, hanya segelas juice jambu ini.” Sambil kuangkat gelas yang sudah kosong, tadi berisi juice jambu yang memang sangat kusukai.
“ya udah, kamu mau makan apa?” dengan hanya sedikit anggukan seorang pelayan datang dengan cepat kemeja kami.
Setelah melihat daftar menu, aku memilih memesan stik ikan dan segelas juice jambu lagi.
“kamu kelihatan capek banget?”
“iya, tadi malam tidur agak larut, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Jawabku dengan kebohongan yang tak kuperlihatkan.
“jangan terlalu memaksakan diri, nanti kamu sakit lagi, lagian kenapa kamu gak menyuruh karyawab kamu aja untuk menyelesaikan pekerjaanmu?”
“mereka sudah mempunyai pekerjaan yang harus mereka urus, lagian bukan karna aku pemilik perusahaan aku harus seenaknya.”
“ya sudah, terserah kamulah.”
Tak lama kemudian pelayan mengantarkan makanan yang kami pesan tadi.
Waktu terasa berjalan begitu lama, cukup lama untuk berpura-pura memperhatikan dan menjawab pertanyaannya, sementara pikiranku melayang kekejadian tadi malam.
“oh ya, hari minggu temenin aku ke acara pernikahan ya.”
“siapa yang menikah?”
“aldi.”
“oo, sahabatmu itu, kenapa ia tak memberitahukanku juga ya.”
“mungkin ia sibuk, mengatur acara pernikahannya.”
“baiklah.”

***
Laju mobil kupacu begitu lamban, seakan tak ingin sampai ketempat yang akan membuatku kehilangan selamanya.
Di sebuah gedung yang cukup ternama dibilangan jalan gatot soebroto, aku memakirkan mobilku. Ternyata cukup ramai juga yang datang sampaisampai aku cukup lama berputarputar agar bisa memakirkan mobilku.
“tunggu sebentar ya, aku ingin merokok sebatang dulu.”
“ya sudah, tapi jangan terlalu banyak merokok ya, gak baik buat kesehatanmu.”

***
Langkah kaki terasa begitu berat untuk dilangkahkan langkah demi langkah. Cukup meriah pestanya, terbukti dengan design panggung, makanan yang beraneka ragam dan mahal pula tentunya dan juga para tamu yang cukup banyak. Dan terlebih lagi banyak para pejabat penting di Negara ini yang hadir dan aku cukup sering melihatnya tampil di acaraacara televisi.
Kaki terus melangkah dan kusadari semakin jauh aku melangkah kedalam pesta semakin dekat akhir dari cerita, yang telah lama kujalani, itulah di saat dimana aku bisa merasakan kebahagian sejati, kebahagian yang memang hanya dimiliki oleh hati, karna hatilah sumber kebahagian sejati bukan yang lain.
Berpasang-pasang mata tampak mengarah kepadaku, tetapi, tepatnya bukan kearahku karna mata mereka liar menatap seorang wanita yang sangat cantik berjalan di sampingku sambil mengandeng lenganku. Betapa beruntungnya lelaki itu. Ada keirian ditatapan mata mereka, padahal aku tahu bahwa banyak diantara mereka yang memiliki istri atau kekasih simpan lebih dari satu, tetapi memang seperti itulah kenyataan, harta, jabatan dan wanita selalu membuat kita lupa akan semuanya.
Perasaanku bercampuk aduk, ketika langkah kakiku mulai menaiki panggung, sepertinya, aku sangat mengutuki diriku sendiri karena telah memutuskan untuk datang ketempat ini, dan berjanji tak akan pernah memaafkannya. Satu per satu aku mulai menyalami keluarga para pengantin, kulihat tatapan kebahagian di mata mereka, betapa harapan mereka yang telah tersimpan sejak lama, mungkin sejak para pengantin belum menghirup udara dunia ini untuk pertama kalinya, sebuah perjanjian yang tak mengikuti para pengantin, sebuah kebahagian yang sampai saat ini sangat sulit untukku mengerti. Bukankah kebahagian itu adalah apa yang dirasakan dari hati.
Dari semua mata yang berdiri di atas panggung ini, hanya matamu yang memancarkan pandangan yang berbeda, pancaran mata yang terbebani oleh keterpaksaaan, katakmampuan melawan sebuah keadaan dan ketakberanian memperjuangkan keinginan, pancaran mata dengan kemengertian bahwa akan menjalani hidup keberpurapuraan sampai nafas terakhir di hidupnya. Adakah penderitaan melebihi keberpurapuraan seumur hidup.
Setelah menyalami semua yang ada diatas panggun, kakiku terasa bergerak dengan cepat untuk meninggalkan pesta pernikahan ini, dan mengengam tangan wanita yang berjalan di sampingku lebih erat, ia pun membalas gengam itu semakin erat. Mungkin ia berpikir aku setelah melihat pesta ini aku akan segera menikahinya.
Tapi, pikiran berkecamuk lain di kepalaku, pikiranku melayang pada pembicaraan di telpon gengam tadi malam. Dan kini dengan sangat aku mengertinya, aku membebaskanmu, apaun itu yang kaupilih untuk hidupmu, termasuk keberpurapuraan seumur hidupmu.
“maafkan aku untuk tak bisa lagi bersamamu, semua sudah berbeda kini, dan kita tak bisa lagi memeperjuangkan perasaan kita, mereka tak akan pernah mengerti tentang apa yang terjadi antara kita, termasuk apa yang dirasakan oleh hati kita, tapi, ketahuilah sampai kapanpun kau tetap kekasihku. Dan semua sudah berakhir.” Ucap lelaki yang menjadi pengantin hari ini kepadaku tadi malam.

Sabtu, 29 Januari 2011

Kali ini biarkan aku menghujat.

Kali ini akan kuhujat terik matahari yang menghitam-legamkan kulit anakanakku ketika siang membakar pikiran di kepala mereka di perempatan-perempatan lampu merah untuk berbelas iba dan mencuri rejeki dari pengendara kuda besi yang tak lagi mempunyai nurani, mencuri sesuatu yang mungkin sebagian adalah hak mereka.

Di Negeri yang tak mempunyai pemimpin ini adalah para aktor-aktor hebat yang memainkan kuasa persis pemeran bintang senitron di sinetron murahan yang setiap hari ditayangkan di layar kaca milik orang kaya di negeri sandiwara ini.

Tak ada yang peduli nasib mereka, para pemimpin menutup mata, hanya memikirkan berapa banyak nominal uang ketika akhir bulan slip gaji diselipkan di kantong celana dekat kemaluan mereka yang memang sudah tak punya malu.

Kali ini biarkan aku terus menghujat hingga nafasku lewat seperti syahwat para penguasa yang memilih tidur di hotel mewah ditemani modelmodel cantik yang wajah dan dadanya disumpal silikkon buatan para pekerja salon daripada pulang ke rumah dimana para nyonya sedang sibuk berlomba untuk mendapatkan perjaka di sebuah acara arisan yang memang menghadiahkannya.

Jumat, 28 Januari 2011

Menunggu pagi membunuhku.

Bila esok pagi kau terbangun
Sapalah endapan embun di kelopak mawar
Kuberharap, ia mampu berimu kelembutan
Sepercik kasih mewangikan harimu

Hati tak selamanya berjabat
Musim berganti
Tunastunas mulai tumbuh
Semua berubah, karna ialah yang abadi

Bila esok pagi tak kau temukan aku lagi
Mungkin mimpi membawaku pergi
Sepertimu, yang telah dicuri waktu dariku
Diculik ke-tak-berani-anmu

Sementara Sepingan sajak hatiku di meja makan
telah kau biarkan basi dalam sepi


kita samasama tahu
waktu adalah pisau bermata dua
dimana setiap sisinya selalu mencipta luka

kau tahu sayang,
malam ini begitu sunyi
udara dingin bekukan rindu di hatiku
lampulampu kota mematung dalam diam
dan aku berjalan dalam kesendirian
menanti pagi membunuhku.

Kamis, 27 Januari 2011

Dia, wanita dengan luka di dada

Dia berjalan ketika matahari baru saja bangun dari tidur
Terus berjalan kearah barat
Berjalan kearah berlawanan dengan tujuan hatinya
Ada ragu ketika ia melangkahkan kaki
Desahnya, angin berhembus dengan hembusan yang sama

Dia, wanita bergaun merah
Ketika matahari tegak lurus,
dia berhenti di sebuah sungai
Sekedar untuk minum, pelepas dahaga
Katanya. “walau tak memuaskan dahaga, tapi cukup untuk menantang senja.”

Dia, wanita dengan luka di dada
Kemudian ia mulai mencuci debu yang hinggap di lukanya
Menganti bening sungai dengan warna merah
“semoga darahku cukup memberi makan ikan-ikan.”

Matahari sudah mulai condong kearah barat
Ia mulai melanjutkan perjalanan
Langkahnya semakin goyah
Ketika gundah tak berkesudah
Rupanya, senja semakin berwarna merah
“itukah warna senja, di mana terlalu tersirat keabadian luka di merahnya.”
Inikah jalan yang kutuju?

Dia, wanita yang kucinta
Wanita yang melangkahkan kaki kearah barat
Sementara aku adalah timur

Selasa, 18 Januari 2011

Aku kehilangan jantungku

seperti buaya tangkar di mangar
ada debar risau di jantung
yang terjaring di jala nelayan berpunggung hitam legam
di pantai lamaru
alunan ombak kian meragu
sebab sajak membuat jarak
di retak telapak kaki

ini senja, purnama datang tergesa
mengintip lewat pucuk dahan kelapa
berpasangpasang kekasih sedang bermandikan air laut
ketika seorang lelaki berteriak
"aku kehilangan jantungku, aku kehilangan jantungku."

tak jauh dari sana, di reot gubuk kayu
nelayan berpunggung hitam legam dan istri serta dua orang anaknya
baru saja selesaikan doa
"terima kasih, telah Kau beri kami makan hari ini. amien"



pantai lamaru, mangar. 18/01/11

buah ranum

; untukmu sahabat, neny apriyani
keep figthing sist...



belum matang benar
nasib membuat ia terlepas dari dahan
buah ranum dengan kulit sangat halus
terlempar dan terombangambing di deras arus

dalam hati
satu doa terucap pasti

"Tuhan, buatlah arus deras ini
lontarkan tubuhku ke tanah di pinggir
sebagai tempat biji kumekar, nanti
maka, kubiarkan panas matahari keringkan tubuhku."