Senin, 30 Agustus 2010

Bidadari Hati

Malam menyimpan seribu rahasia tentang hati, tentang luka, tentang cinta, tentang kita. dan juga tentang ketakberanian untuk mengakui rasa di dadaku dan mu.



Bidadari Hati.




lewat parau suara angin malam

kubisikkan kata “kau bidadari hatiku.”

Terselubung gelap kata tak terucap

Makna sisakan harap yang kian lelap



Sengketakan rasa

Tentang pantas atau tak

Kita samasama meluka

Ketika fajar sirnakan harapan



Menyusuri remang-remang malam

Warna-warni bermunculan

Kunang-kunang

Dan rinduku mewarnai matamu



Mungkin kau tak percaya

Tentang rasa yang aku katakan

Jadi, kututup puisi ini dengan jujur

bahwa kau bidadari di hatiku.



Planet Senen

Kamis, 26 Agustus 2010

Sebuah Surat di pinggir kali.

Oleh : F. Pratama Fauzan

Biasanya gambaran dari sungai adalah air yang jernih, beriak mengalir, ikan-ikan kecil yang berenang kesana-kemari, berlawanan dengan apa yang sedang ada di depanku, air yang kotor, tak ada ikan yang hidup kecuali mungkin satu jenis ikan, yaitu ikan sapu-sapu, tak ada riak karena airnya telah dangkal oleh sampah-sampah sisa pembuangan sembarangan yang tak terurus dan berwarna kehitaman. Mungkin inilah gambaran dari keputusan yang telah ku ambil, dimana keputusan adalah aliran sungai yang mengalir ke muara tanpa pernah bisa berpulang ke hulu, sementara kotor dan sampahnya adalah gambaran dari resiko yang harus kutanggung dari sebuah keputusan yang salah.
Sudah tiga bulan belakangan ini aku tinggal di sini, di bawah kolong jembatan di pinggiran kali ciliwung , tepatnya sejak penyakit ini semakin mengerogoti tubuhku, tak terhitung biaya telah kukeluarkan bahkan tabungan yang telah kukumpulkan, tak ada yang bersisa, tak ada teman, tak ada saudara, tak ada siapapun yang aku kenal di sini, hidup dalam penyesalan dan kesendirian, hari ke hari hanya meratapi nasib.
Panggil saja aku Nadya, karena nama inilah yang aku pakai selama sepuluh tahun belakangan ini dan biarkan kalian mengenalku dengan nama itu saja, untuk nama asliku tak mungkin aku sebutkan, dikarenakan di belakang nama asliku ada nama keluarga yang mengikuti dan tak mungkin kubuat mereka malu dengan apa yang telah aku lakukan, cukup aku saja yang menangung semua ini, akibat dari keputusanku sendiri. Aku berasal dari keluarga yang sangat sederhana di kampungku, tak kekurangan dan tak juga berlebihan. Bicara tentang masalalu aku sangat merindukannya, kampungku, hidup sederhana dan damai, dan juga ingatan tentang seseorang yang begitu mencintaiku dengan tulus, Indra, sebut saja seperti itu, seorang pemuda desa yang sederhana, jujur dan lugu, ahh, betapa aku merindukannya dengan sangat. Seandainya saja waktu bisa diulang aku akan bersedia hidup di kampung dengannya tanpa mengetahui kehidupan kota dengan kekejamannya, aku rela, tapi, nasi telah menjadi bubur.

***

Ceritaku bermula dari dua belas tahun yang lalu, ketika aku baru menamatkan sekolah menengah tingkat atas di desaku, terbesit di pikiranku untuk melanjutkan ke bangku kuliah di kota Jakarta, tapi, keadaan orang tuaku tak memungkinkan untuk melanjutkan, dan tak tega juga hatiku untuk memaksa mereka, karena masih ada tiga adikku yang masih bersekolah. Sebagai anak pertama aku sangat mengerti keadaan itu, apalagi waktu itu sedang terjadi krisis moneter di Indonesia dan akhirnya berpengaruh juga terhadap perekonomian keluargaku.
Enam bulan berlalu sejak kelulusanku, impian masih melekat di dadaku untuk bisa melanjutkan kuliah dan mengadu nasib di ibukota Jakarta, seperti yang aku lihat di sinetron-sinetron televisi, dimana kehidupan Jakarta sangat indah dan mewah. Dengan wajahku yang cantik, bukan karena aku percaya diri, tetapi, teman-temanku banyak yang mengatakan seperti itu, bahkan mereka menjulukiku dengan sebutan kembang desa, sangat banyak juga pemuda-pemuda desa yang tertarik denganku dan mereka berusaha dengan keras untuk menjadi kekasihku, tapi, sejak kelas tiga SMA aku telah jatuhkan hatiku kepada seorang teman sekolahku, Indra, ya, seorang pemuda yang baik dan sangat jujur. Sudah satu tahun kami berpacaran dan tak pernah ia membuatku marah. Dia selalu memberi semangat untukku, tapi satu yang tak pernah ia setujui, ialah cita-citaku untuk pergi ke Jakarta. Aku menerimanya saat itu.
Hingga suatu hari seorang mahasiswa tingkat akhir dari sebuah universitas besar di Jakarta datang ke desaku untuk mengumpulkan data untuk skripsinya, ia mengamati sistem perairan sawah yang kami gunakan dan membantu memperbaiki saluran irigasi itu. Memang, ia cukup pintar dan mampu membantu warga desa dalam perairan sawahnya, jadi desa kami tidak mengandalkan musim hujan lagi, karena aliran air sudah bisa di nikmati kapanpun.
Ya, nama mahasiswa itu adalah Adrian, ini memang benar nama aslinya, sengaja tak kusembunyikan nama aslinya, karena aku memang ingin orang-orang tahu siapa dia sebenarnya, agar setelahku tak ada lagi gadis-gadis yang mengalami nasib sepertiku saat ini.
Sebagai mahasiswa yang datang dari Jakarta, aku sering menanyakan kepadanya tentang Jakarta dan kehidupan masyarakatnya, dan bagaimana rasanya kuliah atau bekerja di sana, Adrian selalu menceritakan tentang keindahan kota Jakarta, hanya keindahannya saja, tak pernah kudengar dia berbicara tentang hal-hal yang jelek tentang Jakarta. Dan membuat impian yang sempat meredup kembali menyala di dadaku. Hari ke hari aku semakin akrab dengannya, hal ini membuat Indra cemburu dan melarangku untuk menjauhinya, ahh, seandainya saat itu aku mengikuti saran Indra mungkin keadaan seperti ini tak akan pernah ku alami, tetapi saat itu, aku tak pernah mendengarkan ucapan Indra, di dalam hatiku selalu mengatakan, mana mungkin tahu dia tentang Jakarta, dia hanya tahu tentang sawah dan ladang saja, sebuah kehidupan yang sangat membosankan, kata hatiku saat itu.
Seminggu sebelum Adrian mengakhiri praktek kerja lapangannya, dia tawarkan kepadaku untuk ikut bersamanya ke Jakarta dan mau menanggung biayaku selama di Jakarta, selama aku belum bekerja. Pertama kali aku menolak tawaran itu, tapi, dengan mulutnya yang manis dia terus merayuku, hingga akhirnya aku setuju ikut dengannya, juga di karenakan impian indah tentang Jakarta mulai membakar dadaku.
Aku berangkat ke Jakarta tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk kedua orangtuaku dan Indra, karena sudah dapat dipastikan mereka tak pernah akan mengizinkan. Aku dan Adrian bertemu di terminal antar-kota, karena memang Adrian tak ingin berangkat bersama-sama dari desa, yang kini baru aku ketahui alasannya, agar orang-orang desa tak menaruh curiga terhadapnya atas kepergianku dari desa.

***

Di Jakarta aku tinggal bersama Adrian di kontrakkannya, sebulan sudah aku di sini, Adrian memperlakukanku dengan begitu baik, ia juga menyuruhku untuk kursus bahasa inggris dan membiayai semua keperluanku, termasuk memberi uang jajanku perhari. Aku semakin terlena olehnya dan bayangan tentang orangtua dan Indra telah hilang di ingatanku.
Karena tinggal bersama dalam kontrakan, akhirnya kami menjalani kehidupan seks bebas, kami sudah selayaknya seperti suami istri tanpa surat nikah, yang rupanya kehidupan seperti itu di kota Jakarta sudah menjadi sangat biasa, malah sudah terlalu sangat biasa sepertinya, saat itu tak pernah ada kata menyesal di diriku dan dunia sepertinya memang begitu adanya, tapi, itu hanya sebuah kebahagian sementara saja, kebahagian di saat penyesalan masih menjadi belati yang sangat tumpul dan waktu terus mengasahnya hingga suatu hari nanti akan menjadi senjata yang sangat tajam untuk menyayat setiap detik dalam kehidupan yang akan terjalani.
Waktu terus berlalu, tak terasa sudah enam bulan aku di sini, dan juga mulai kurasakan akan perubahan sikap dari Adrian, dia menjadi kasar, sangat perasa dan suka marah tanpa alasan, dan rupanya itulah sifat aslinya. Hingga akhirnya tiba pada hari yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku, hari dimana Adrian menjualku kepada seorang germo seharga sepuluh juta rupiah. Ya, mungkin manusia sudah tak punya rasa, sehingga sudah jadi barang dagangan, dimana sistem perbudakan telah dihapus ratusan tahun yang lalu atau mungkin ribuan tahun yang lalu, tapi sepertinya itu hanya sebuah aturan yang tertulis saja, karena pada kenyataannya saat ini masih banyak terjadi perdagangan manusia.
Sejak saat itu tak pernah kulihat lagi keindahan Jakarta, nasibku menjadi seperti sapi perahan saja, setiap hari hanya melayani nafsu para lelaki hidung belang, aku memasuki dunia pelacuran tingkat atas, di karenakan kecantikanku dan keindahan tubuhku, banyak tamu yang menjadi pelangan, semuanya adalah orang-orang penting dan semuanya adalah orang kaya, tidak jarang juga para pejabat negara membokingku untuk menemani perjalanannya, para pejabat yang di televisi kulihat selalu bicara tentang kebenaran dan nasib rakyat, aku selalu tersenyum pahit ketika kulihat mereka di layar televisi.
Aku tidak tinggal di kontrakan bersama Adrian lagi, sejak dia menjualku tak pernah sekalipun aku bertemu dengan dia lagi karena tak pernah ingin kulihat wajahnya lagi, sudah terlalu besar dendamku kepadanya, sekarang aku tinggal di sebuah apartement di daerah kemayoran, seiring dengan pekerjaanku gaya hidupkupun ikut berubah, sebagai pelarian dari penderitaan di hatiku, akhirnya aku mulai suka mabuk-mabukkan, hari-hariku hanya di isi dengan melayani pelangan-pelanganku dan pesta-pesta di klub malam.
Tujuh tahun ku jalani hidup seperti itu hari ke hari, hingga suatu hari aku di diagnosa terkena penyakit, sebuah penyakit sampai saat aku menceritakan ceritaku ini, belum ditemukan obatnya, penyakit yang di sebabkan oleh penularan seksual ketika hubungan intim dengan berganti-ganti pasangan, mungkin aku ditulari oleh salah satu pelanganku, dikarenakan tidak semua dari pelanganku mau mengunakan alat kontrasepsi kondom ketika berhubungan, tidak enak kata mereka.
Setelah mengetahui aku terjangkit penyakit itu, germoku tak mau mengurusiku lagi, malah dia mencampakkanku seperti seorang yang tak punya arti sama sekali, padahal tak sedikit uang kuhasilkan untuknya selama aku menjadi pelacurnya, tapi inilah kehidupan, di dunia yang ku geluti saat itu, jika seseorang sudah tak bisa menguntungkan lagi, dibuang begitu saja.
Sempat beberapa kali aku menjalani pengobatan dan rehabilitasi, tapi semua itu tak ada yang dapat menyembuhkan penyakitku, malah menguras habis uang yang sempat aku tabung dan tak menyisakannya sama sekali. Sedikit demi sedikit tubuhku berubah, daging yang dulu menempel di badanku pergi entah kemana, seakan ikut jijik untuk melekat di tulangku, mukaku mulai terlihat seperti tua mendadak, aku menjadi hidup mengelandang, hidup dari belas kasihan orang-orang, tidur di sembarang tempat hingga akhirnya tak ada semangat di hidupku dan tak ada kekuatan untuk melanjutkan hidup lagi, dan belati penyesalan itu telah terasah dengan sangat tajam terus menghujam setiap sisi di hatiku, dan semua kejadian itu mengantarkan aku ke pinggir kali ciliwung ini.

***

Kembang desa ini telah tumbuh menjadi kembang hitam yang tak lagi wangi, sehitam kali di depanku. Belati itu terus menyayat tipis setiap sisi hatiku, tak ada lagi kekuatan dan semangat untuk menghadapi dunia ini, aku telah kalah, benar-benar kalah.
Dengan sisa kekuatan di hati, walau sebenarnya aku tak pantas untuk mengucapkannya, aku ingin meminta maaf kepada kedua orangtuaku, bukan kalian yang salah mendidik, tapi akulah yang salah melangkah.
Dan untuk laki-laki yang mencintaiku dulu, Indra, semoga engkau bahagia dan menemukan seseorang yang mencintaimu, dan cintailah wanita itu seperti kau mencintaiku dulu, dan sungguh aku tak pantas untuk mendapatkan cintamu.

***

Kutulis kisah perjalanan hidupku ini tanpa bermaksud apa-apa, hanya inginku, tak ada lagi wanita yang terjerumus sepertiku, hanya karena keinginan, kita buta akan yang lain. Terkadang, karena sebuah keinginan berlebih akan “sesuatu” kita lupa bahwa kita sebenarnya telah memiliki “sesuatu” yang terbaik di hidup kita.

Siapapun yang menemukan surat ini, sungai ini telah membawaku ke muara, ke akhir hidupku, ke akhir penyesalanku.

Sabtu, 21 Agustus 2010

Menjadikanmu Aku

Mengingatmu, ada angan tak berkesudahan

Rindu terkebiri keadaan

Bunga mekar berguguran

Di ranting-ranting harapan



Mengingatmu, kata bersilangsengketa

Di dada gemuruh menegur nyata

langit lupa membaca tanda

Dan hujan turun di kelopak mata



Menjadikanmu aku, adalah laku tak berlaku

Tangan meraih diputus waktu

Terlambat,terlambat, terlambat

Ucapmu, ketika rasaku telah melekat erat



Tak pindah gunung

Tak surut laut

tetap setetap yang telah tertetapkan

Dan harap hanya kesia-sian jalan



Kau aku berdiri berseberangan

Bertatap dengan kesamaan rasa

Namun tangan tak mampu mengapai

Sementara hati terus terkhianati mimpi







bogor 20/08/10

Jumat, 20 Agustus 2010

Perjalanan Mengenang kenangmu.

Bekasi – Bandung. Jalan raya cianjur begitu lengang malam ini, hanya lampu jalan dan sesekali bis-bis antar kota menemani kesendirian perjalanan, terasa kadang angin sampaikan aroma wangi tubuhmu, sebentar saja, lalu kembali lindap di sampingku. Masih bisa kurasakan, pelukan tanganmu erat di pinggangku, seakan tak pernah ingin kau lepaskan, serupa cinta yang ada di dada kita. Namun takdir beri arti lain kepada harapan.
Vespa berjalan dengan kecepatan tak kencang, mengerti setiap pergelutan kenangan di ingatanku. Setiap jarak yang terlewat adalah kebersaman kenang, tertawa dan menangis dan debu jalanan yang terlipat rapi di kantong saku jaketku sebagai tanda engkau ada bersamaku. Sayang, ingatkah kau waktu kita memilih warna untuk vespa ini? Kita pilih warna putih dan biru karena biru adalah warna kesukaanmu dan putih adalah tanda kesucian cinta kita, tapi kita binggung untuk warna biru mana, ternyata terlalu banyak jenis warna biru, hingga suatu hari kita lewat di depan kuburan dan menemukan pecahan keramik dari salah satu makam kawanku, biru laut muda, ya, akhirnya kita setuju dengan warna itu. Saat itu, aku melupa bahwa itu adalah pertanda kepergianmu.
Malam telah beranjak dewasa ketika aku memasuki kota Bandung, se-dewasa pedih yang tumbuh subur di hati, ketika kesunyian tak mampu mengajarkan arti kegaduhan sementara kenanganmu tetap abadi di dada. “ aku mencintaimu, mencintai segala yang telah ada, yang baru, yang kau ajarkan padaku, dan di sinilah aku untuk pertama kali, memandang kota dan mu.” Masih kuingat dengan jelas kalimat yang pertama kali kau ucapkan untukku dan kota ini, dan untuk pertama kali juga kau pecahkan keperawanan kota Bandung di perjalanan hidupmu.
Waktu terus berdetak dan roda terus berputar, Meninggalkan semua dan menjadikannya kenangan. Udara malam terasa begitu dingin menusuk ke badan, tapi, ingatan tentang dirimu yang membuat hatiku beku. Dari tempat ini, Lembang, lampu-lampu kota tampak menari-nari, rerimbun daun teh seakan menyimpan abadi kenangan kita, rapat, hanya kau dan aku yang tahu dimana tersimpan, hati kita. Di sini, kita pernah menikmati segarnya udara perbukitan, memanaskan badan dengan segelas wedang jahe dan jagung bakar, mengunyah kehidupan dalam bahagia dan tawa, senyummu selalu menjadi purnama tak berkesudahan, malam itu.
Hujan mulai mengumbar kerinduannya akan bumi dan malam semakin tua di pelupuk mata, di keriputnya aku selipkan doa-doa kerinduan untukmu. Ingin sekali aku ikut berdansa di dalam hujan, ketika di derasnya hujan kulihat kau menari, seperti yang sering kau lakukan dulu, menari di dalam hujan, wajahmu begitu lugu, begitu gembira, dan kau tertawa bersamanya, dan aku suka melihat hujan dan tawamu. Udara semakin dingin dan hatiku semakin membeku.
Hujan selesai tepat setelah wajahmu memudar dan tarimu berhenti. Di depan penginapan yang dulu menjadi tempat kau dan aku mengakhiri malam, tempat kita saling menyentuh dan bertukar nafas agar terselaras detak di jantung , kita menyatu untuk pertama kali. sesudah itu, kau rebahkan mimpi dan citamu di bidang dadaku, dan kuletakkan semua di kepalan tangan, kuucapkan selamat malam dikeningmu, kau dan aku memiliki mimpi yang sama malam itu. aku hentikan vespa, merekam kembali semua itu di dada dan ingatanku.
***
Bandung – Bekasi. Kali ini arah kepulangan terasa sangat jauh, sejauh kepergian harapan yang telah kita ucapkan di kota ini, putaran roda vespa seperti tak beraturan, mengerti gundah yang telah menjadi dewa di pikiranku dan batas kota Bandung melambaikan tangannya sambil meneriakan kata-kata perpisahan yang terdengar begitu memuakkan di telinga. Aku suka kota ini dan aku suka kenangan indah bersamamu di kota ini dan aku benci ketika kenyataan mengharuskan berpisah dengan kalian.
Matahari sudah mulai mengurangi keangkuhannya, dan cahayanya tak begitu keras lagi menegur para pemimpi. Vespa terus melaju, liukan jalan di bukit kapur, Padalarang, mengingatkanku akan hidup yang tak selalu lurus dan tak selalu sesuai keinginan, setiap kelokan adalah irisan perih di hati, karena di sisi dinding bukit pernah kita tulis mimpi dan harapan, bahkan gambar wajahmu masih terlukis jelas di sana. Di sini pernah kita nikmati manisnya air kelapa muda, semanis kisah kita dahulu dan semuda kisah kita.
Jalan semakin menanjak dan menurun ketika aku sampai di daerah Jonggol, kanan kiri hutan membuat pemandangan yang begitu indah, mengingatkanku akan lembat rambutmu, tempat kau sembunyikan resahku dan di teduhnya hutan kutemukan matamu yang selalu saja mampu memberi harap ketika semangatku mulai lesap.
Roda vespa mulai semakin goyah ketika memasuki jalan Cicariu, di sebuah tikungan tajam kuhentikan laju roda dan kupakirkan vespa, sejenak aku berdiri menikmati pemandangan sawah di kanan kiri jalan, melihat petani menanam bibit-bibit harapan di sawah mereka, pemandangan yang sangat indah dan terasa sangat kontras dengan panorama di hatiku, selama lima tahun ini. Lima tahun sudah kuulang perjalanan ini di tanggal yang sama, setiap melakukan satu kali perjalanan ini, maka aku butuhkan satu tahun lagi untuk memberanikan diri melewati jalan ini, jalan yang dulu kita lewati bersama.
Badanku bergetar, kakiku seakan menancap ke dasar bumi, bulir-bulir airmata mulai deras membasahi pipiku, bukan karena aku cengeng, tapi, aku tak pernah sanggup menatap tempat ini, tempat terakhir kau di pelukanku. Di sini, lima tahun yang lalu, kau menghembuskan nafas terakhirmu dalam pelukanku, Masih ku ingat jelas kejadian itu, ketika dari arah berlawanan sebuah bis melaju dalam kecepatan tinggi, bis itu melaju dengan oleng karena sopirnya berkendara dalam keadaan mengantuk dan kita sedang menikmati pemandangan persawahan yang indah dan kebahagian canda diantara kita, ketika tiba-tiba kulihat bis itu melaju tepat kearah kita, sempat ku hindari bis itu, tapi, sebuah lobang besar di pinggir jalan yang rusak membuat kita terlontar, aku terhempas ke dalam selokan sementara kau tergelatak di tengah jalan, sempat kau berdiri namun seketika sebuah mobil sedan yang melaju dengan kecepatan tinggi menyambarmu dan membuatmu terpental ke pingir jalan, mobil terus melaju tanpa memperdulikan tubuhmu yang tergelatak, aku berlari kearahmu, memelukmu, menanggis, tapi kau sama sekali tak bergerak, terus-menerus kuteriakkan namamu berulang kali tanpa pedulikan sekitar kita, sempat kau membuka mata, memandang kearahku, merintih kesakitan, namun bibirmu tersenyum diantara darah yang keluar, sampai saat ini aku masih tak tahu apa yang membuatmu tersenyum waktu itu, dan waktu itu juga kau paksa bibirmu untuk mengucapkan sebuah kata yang tak pernah bisa kulupakan dan terus terngiang di telinggaku, “aku mencintaimu dan aku bahagia, terima kasih, sayang.” Kata terakhirmu di hembusan terakhir nafasmu.
Senja mulai melukis warna merah di ufuk barat, setelah kepergianmu entah kenapa aku tak suka ketika senja hari tiba, kulihat di merahnya isyaratkan luka dan perpisahan. Dari dalam tas kukeluarkan semua barang kenangan tentang kita, mengusap lembut semua, karena ku tahu tanganmu pernah singgah disana, orang-orang yang lewat memperhatikanku, meraba-raba apa yang aku lakukan di sini, tapi aku tak peduli karena kutahu kau ada di sini, di sampingku, mengengam tanganku.
“sayang, aku datang.” Ucapku, dan aku tahu kau mendengar dan menjawabnya, walau dalam bahasa sepi, bahasa angin yang lindap di telingaku.
“sayang, banyak hal yang terjadi lima tahun ini, ingin kubagi semua bersamamu, semua telah berubah, kecuali rasaku untukmu. Ketahuilah sayang, mereka seperti mengerti apa yang aku inginkan, tapi, sesunguhnya mereka tak pernah tahu, karena yang aku inginkan hanya bersama dirimu dan bersama dirimu. mereka bisa mengobati luka di ragaku, tapi, mereka tak akan pernah bisa mengobati luka di hatiku.”aku terus berkata, sementara airmata terus mengucur di pipiku dan aku tahu kau juga ikut menangis bersamaku.
“sayang, hari ini kubawakan semua barang kenangan tentang kita, kuletakkan di tempat terakhir kita bersama, terimalah, kuberikan semua barang kenangan kita bukan untuk melupakanmu, karena kau telah abadi di hatiku, selamanya.” Ucapku sambil meletakkan barang kenangan itu di tempat terakhir kita bersama.
“sayang, ini terakhir kali aku menemuimu, sungguh, bukan untuk melupakanmu, tapi, hidup terus berjalan dan aku tak bisa selamanya terdiam akan kenangan kita, karena hidup bukan aku dan kau saja, ada kebahagian orang lain yang berhubungan dengan diri kita dan itu orang tuaku. Sayang, orang tuaku telah memilih seseorang untuk menjadi pendamping hidupku, mereka bilang aku akan bahagia, tetapi sesunguhnya mereka tidak pernah tahu bahwa kebahagianku telah mati bersama kematianmu.”
“aku mencintaimu dan aku bahagia, terima kasih, sayang.” kudengar halus suara angin di samping telingaku seakan kau menjawab kata-kataku.
Malam baru saja terlahir dari rahim hari, vespa berjalan pelan meningalkan jalan Cicariu, meninggalkan semua kenangan kita dan sepi mengambil alih hidupku untuk selamanya.


Beny Fauzan
Bogor, 20/08/10

Rabu, 18 Agustus 2010

Cinta Nyata


Kau wanita yang telah menjadi sundal di hatiku

Memperkosa setiap ingatan di hariku

Yang setubuhi setiap hembusan dan tarikan di nafasku

Hingga orgasme dalam kata; AKU CINTA KAU




Sengaja tak kutulis puisi romantis kali ini untukmu, sebagai pengingat nyata.

Lihatlah, sayang. Di perempatan lampu merah dan di bawah kolong jembatan, anak kecil bertelanjang kaki menertawai luka, membilas badan dengan airmata, setelah debu jalan hinggap di nasib mereka. Tak ada tempat untuk bermain, karena tanah lapang hanya salahsatu bidang di dada mereka. Dan itu, anak kita.

Untukmu, Kutegaskan! Bukan tak mampu kutulis puisi puitis romantis.

Tapi, cinta adalah nyata, nyata adalah lingkaran bulat di pinggir luka, di luar mimpi dan di dalamnya nestapa.


Beny Fauzan
Planet Senen 19/08/10

Selasa, 17 Agustus 2010

Juliet

"Juliet, akulah yang membunuh Romeo. Aku mencintaimu, seperti kau mencintai puisi-puisi kekasihmu, puisi yang dia curi dariku."



Pagi di beranda rumah kita. Kulihat kau tersenyum, senyummu, selalu saja mampu meredakan semua hal di dadaku, sambil kau mengurusi taman di depan beranda rumah yang di penuhi bungga-bungga mekar dengan berbagai warna, seperti cinta yang terus mekar di hati kita atau hanya mekar di hatiku saja, entahlah. Kulihat engkau bahagia ketika mengurusi taman ini, kau memang menyukai keindahan taman ini selain kau juga sangat suka dengan puisi yang selalu kucipta dan kubacakan di malam-malammu.

Tak terasa satu tahun sudah kita bersama, tertawa dan bahagia. Membangun sebuah keluarga, membuat kehidupan baru,kehidupan kita berdua, jauh dari orang-orang yang mengenal kita, atau lebih tepatnya, melarikan diri dari mereka.

***

Aku ingat, ketika dua tahun yang lalu kau datang ke desaku, di karenakan usaha orang tuamu bangkrut di kota. sebagai gadis yang cantik dan gadis kota, hampir semua pemuda di desa ini tergila-gila dan ingin menjadi kekasihmu, dan aku salah satu dari mereka, juga termasuk sahabatku.Tapi, bukan itu yang membuatku jatuh hati kepadamu, kecantikan tingkah lakumu yang begitu mempesonaku.

Mulai saat itu aku seperti keranjingan untuk menulis puisi untukmu, sebagai penganti ungkapkan hatiku yang tak pernah berani untuk kukatakan secara langsung, tepatnya, aku menjadi pengagum rahasiamu, seperti tak pernah habis akal di otakku untuk mengirimkan lembaran-lembaran puisi yang ku tulis agar selalu sampai kepadamu tanpa pernah kau ketahui siapa penulisnya, karena memang tak pernah berani aku menuliskan nama di lembar itu. Sampai satu saat aku mendengar sahabatku mengakui, bahwa dialah penulis puisi itu.

Ya, sahabatku adalah lelaki yang mungkin sangat pantas untuk kau jadikan kekasihmu, sebagai anak bupati, dia menjadi orang terkaya di desa, dia punya segalanya, kecuali satu, puisi. Dan tentu orang tuamu dengan sangat setuju menjadikan ia menantunya. Tapi, aku tak pernah bisa menerimanya, sebagai seorang sahabat dari kecil, aku tahu siapa dia dan kebohongan-kebohongan di dirinya.

Sebagai sahabat dari kecil, aku sangat mengenalnya. Aku ingat, beberapa kali aku pernah di ajaknya ke tempat lokalisasi pelacuran di desa tetanga, di sana dia sangat terkenal, setiap wanita selalu ingin diajak tidur olenya karena sudah dapat dipastikan akan mendapat uang yang banyak. Sebagai lelaki aku tak akan munafik untuk tidak mengakui bahwa terkadang aku suka ke tempat ini, terkadang suka meminum minuman keras, secukupnya, suka melihat wanita-wanita yang ada di tempat ini, tapi hanya sebatas itu, karena untuk tidur dan bercinta dengan seseorang tidak hanya menggunakan nafsu tetapi yang paling penting adalah menggunakan perasaan, dengan bercinta dengan perasaanlah kita bisa mendapatkan kenikmatan yang benar-benar nikmat. Percintaan tak hanya sekedar pertemuan dua kelamin, tapi lebih dari itu, bercinta adalah penyatuan dua rasa cinta yang di lebur dengan kasih sayang, belaian dan sentuhan atas perasaan di hati. bercinta bukan saja sentuhan fisik tapi sentuhan jiwa.

***

Enam bulan berlalu sejak kau menjadi kekasih sahabatku dan memutuskan untuk bertunangan dengannya, mungkin atas desakan orangtuamu, Tentu, orang tuamu punya kepentingan atas pertunanganitu. Di tengah acara pesta pertunanganmu, kulihat bibirmu tersenyum, tapi tidak dengan matamu, kulihat kekosongan disana, tak ada binar-binar yang biasanya memancar dari kedua bola matamu, sebuah binar harapan dan kegairahan hidup.hari ini mata itu kosong, seperti matinya sebuah harapan. Melihat semua itu,hatiku seperti ikut mati, seperti matinya puisi-puisiku yang tak pernah sampai lagi ke dirimu, ya, sejak kau memutuskan untuk menjadi kekasih dari sahabatku, aku memutuskan untuk berhenti menulis puisi untukmu, atau mungkin itukah yang membuat binar-binar di matamu menghilang? Aku tak tahu pasti.

Namun, sejak hari itu, akuberniat untuk mencari seorang dukun yang telah menjadi legenda di tempat kita, seorang dukun yang sangat sakti menurut kabar orang-orang, seorang dukun yang hidup menyendiri di dalam hutan, dan tidak di ketahui dimana tempat pastinya dia tinggal. Seminggu lebih aku menggarungi hutan belantara ini, bergelut dengan dingin dan lelah, keluar masuk gua, tapi tak kunjung kutemukan. Dan ketika semangatku semakin luntur, pandangan kosong matamu di hari pertunanganmu, membuatku kembali bangkit dan berjanji akan terus mencari dukun itu hingga ketemu. Jujur, aku tak akan pernah mampu untuk memandang kesedihan di wajahmu, apapun itu akan kulakukan untuk membuat senyum selalu terhias dibibirmu, bahkan sekalipun harus kutukar dengan nyawaku.

Akhirnya, aku menemukan dukun itu, setalah perjalanan panjang yang sangat melelahkan fisik dan pikiranku. Mendengar alasanku mencarinya, dukun itu menertawaiku dan mengatakan aku bodoh, dan ia malah mengusirku, tapi, niat telah membatu di hatiku dan tak bisa ditawar lagi, hingga akhirnya dukun itu menyerah dan mau menerimaku menjadi muridnya dan mangajarkan semua ilmu yang ia punya kepadaku termasuk ilmu untuk memelet wanita, dan ilmu inilah tujuanku. Dimana ada kemauan dan mimpi, alam akan selalu membantu untuk mewujudkannya, tapi sejauh mana usaha kita untukmewujudkannya, suara hatiku berbisik kepadaku. Empat bulan lamanya aku belajar kepadanya, banyak ilmu yang telah kupelajari dan laku yang harus kujalani, dan aku berhasil mempelajarinya dengan sangat cepat.

***

Semalam sebelum hari pernikahanmuaku datang kembali ke desa, berusaha untuk dapat menemuimu, diantara keramaianaku menyelinap ke kamarmu tanpa kau sadari. Di dalam kamar kulihat kau diranjang sedang tertidur, terbaring menghadap samping membelakangiku, aku terus melangkah dengan sangat hati-hati mendekat, tapi, samar ku dengar suara isak tangis dari arahmu, oh, rupanya kau belum tidur. Aku diam terpaku diantara dinding dan ranjangmu, dan secara tiba-tiba kau berbalik, memandang kearahku, badanku bergetar kencang dan kakiku seperti tertancap ke lantai. Sepertiku, kaumemandang ke arahku tanpa bersuara, hanya memandang, tak ada suara yang keluar dari mulut, tapi, aku lihat binar-binar kembali menghiasi ke dua bola matamu.

Setelah sunyi kita taklukkan, kau mempersilahkanku duduk di atas ranjang tepat di sampingmu, kaupun mulai bercerita tentang kehidupan dan kesedihanmu, harapan dan mimpimu dan juga tentang bagaimana kau telah mengetahui puisi itu ternyata di tulis olehku, karena diberitahukan oleh teman wanitamu yang juga temanku, teman yang selalu kuminta bantuan untuk menyelipkan puisi itu ke tempatmu, tentang betapa salahnya kauselama ini dan tentang betapa rindunya kau untuk bertemu denganku. Mendengar ceritamu membuatku mengerti ucapan dukun itu waktu aku masih menjadi muridnya, dia bicara kepadaku tentang "betapa beraninya aku mencarinya, tapi, betapa sangat takutnya aku hanya untuk mengungkapkan perasaanku kepadamu.".

Malam itu, aku menawarkan kepadamu tentang rasa di hatiku dan kau bilang, sudah sangat terlambat untukkita bersama dan juga kau bilang, bahwa kau lebih memilih kebahagian keluargamu walau harus mengorbankan kebahagian dirimu sendiri.

Setelah mendengar jawabanmu, diam-diam aku merapal mantra pelet untuk menaklukan hati wanita yang di ajarkan dukun itu kepadaku, mengusap-usap telapak tanganku dan meniupnya sebanyak tiga kali, Lalu, dengan gerakan cepat kuusapkan ke wajahmu.

Malam itu, kau kubawa kabur meninggalkan desa, meninggalkan keluarga dan orang-orang yang kita kenal, meninggalkan kesedihanmu, meninggalkan tatapan kosong matamu, meningalkan penjara seumur hidupmu yang mereka buatkan untukmu dengan sebuah pesta perkawinan, kita terus berlari menuju kearah kebahagian dan kemerdekaan rasa di hati kita.

***

Di taman bunga ini, kulihat kau menari dan bernyanyi, tersenyum bahagia, binar-binar kebahagian memancar dari kedua bola matamu. ah, aku tak peduli lagi, keadaan ini akibat mantra atau memang hatimu menginginkannya, karena puisiku telah hidup kembali di hari-harimu.



Farian Pratama Fauzan

Bekasi 17/08/10.



Kamis, 12 Agustus 2010

Stasiun Senen dan Kenanganku

Stasiun senen pagi ini. Orang-orang lalulalang, pergi dan pulang, seakan rutinitas yang membuat aku tak pernah berhenti mengunyah isi di otak mereka, diantara seribu wajah yang tak pernah bertukar sapa antara mereka, kehidupan seakan membawa mereka lupa akan sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial. Aku berada diantara mereka, disini, setiap hari menikmati detik akan kenangan bersamamu di tempat ini adalah kebahagian bagiku.
Aku terlahir bernama Ariyani, atau orang-orang yang tingal disini suka memangilku nyai Ani, tujuh puluh tahun yang lalu tepatnya, disebuah desa di daerah perbatasan jawa barat - tengah. Aku masuk ke stasiun senen ini ketika usiaku menginjak tujuh belas tahun. stasiun senen dahulu belum sebagus ini, dulu di sini masih banyak rumput-rumput liar tumbuh, bangunan stasiun pun tak sebagus sekarang hanya sebuah bangunan kecil yang berbentuk kotak dan tidak terlalu besar. Disini dulu juga banyak bangunan-bangunan liar atau biasa di sebut warung remang-remang atau tenda biru, tempat para lelaki hidung belang melepaskan hasratnya, tak perduli masih bujangan atau sudah punya istri. Dan di situlah aku pertama kali mencoba peruntungan hidup.
Orang-orang yang lewat sering mengangap aku pengemis, mereka suka melemparkan uang receh kepadaku tapi tak pernah ada yang menanyakan kenapa aku di sini, mereka hanya meliha aku seorang wanita tua dan perlu dikasihani. ah, memang sifat manusia sekarang, mereka suka melihat sesuatu dari tampilannya saja, Padahal aku tak butuh uang mereka. Untuk uang aku tak pernah kekurangan, anak-anakku semua sudah berhasil, anak pertamaku sekarang sudah lulus S2 untuk jurusan Manajemen dan bekerja sebaga pengusaha yang cukup sukses di Jakarta dan anak ke duakupun telah menjadi PNS dan mempunyai jabatan yang cukup tinggi. Telah kubesarkan mereka seperti apa yang suamiku pesankan kepadaku, untuk selalu menjaga anak-anak dan sekolahkan mereka yang tinggi agar tak menjadi anak yang bodoh.
Ya, suamiku, orang yang paling kucintai seumur hidupku.
***
Lima puluh tiga tahun yang lalu aku datang ke stasiun, dengan hanya bermodal keberanian dan keyakinan untuk dapat merubah keuangan keluarga aku merantau ke Jakarta, alih-alih mencari pekerjaan aku malah hanya bisa menjadi pelacur di stasiun ini, dikarenakan memang aku tak pernah mengecap pelajaran sekolah, jadi hanya pekerjaan inilah yang mampu aku lakukan atau yang terseda untukku. Tapi dengan bermodal wajah yang lumayan cantik dan supel dalam pergaulan aku menjadi kembang di sini, hingga membuat aku menjadi rebutan para pelangan.
Suatu hari di tengah pertengkaran aku melihatmu untuk pertama kali, ketika seseorang yang mabuk tidak mau membayar atas jasa yang telah kulakukan, dan ia malah menghina dan mencaci-makiku, dan kau pun datang untuk melerai perkelahian itu, karena memang itu tugasmu sebagai petugas pengaman atau jawara yang menjaga tempat ini. Tapi, pertemuan itu telah membuat hari-hariku berubah, aku jadi suka menghayal dan mencari-carimu, hanya untuk melihat wajahmu, dan aku tahu kau pun begitu kepadaku.
Akhirnya, hari-haripun kita lalui berdua, bersembunyi dari germo yang merasa telah memilki diriku dan berhak melakukan apa saja atas diriku, hingga akhirnya aku hamil darimu karena denganmu aku tak pernah memakai pengaman saat berhubungan badan. Mendengar tentang kehamilanku kau pun mendatangi germo yang memilikiku, memintanya untuk melepaskan aku dari pekerjaan yang harus aku lakukan. Di depanmu dia tidak dapat menolak kemauanmu, karena sebagai seorang jawara tempat ini tak ada yang berani berurusan denganmu termasuk anak-anak buahnya, jadi dia persilahkan aku kau bawa, tapi, aku tahu dari sorot matanya dia menyimpan dendam, karena aku adalah lumbung penghasilannya dan setelah kepergianku pelangan yang biasanya ke tempat ini pasti akan pergi ke tempat lain.
Waktu terus berjalan, kau selalu berusaha membuatku bahagia, tak pernah memperdulikan masalaluku. Bersamamu seakan semua mimpiku telah tercapai, aku hidup dalam kebahagian sebagai seorang ibu dan seorang istri. Hingga kehamilanku atas anak kedua kita, ketika itu banyak para jawara-jawara baru datang dan mau melakukan apa saja demi uang.
Suatu malam di hari aku melahirkan putra kita yang ke dua, di tengah pertaruhan nyawaku untuk anak kita, kaupun sedang mempertaruhkan nyawamu untuk keluarga kecil kita. Menurut cerita orang-orang, malam itu kau berkelahi melawan lima jawara yang ingin merebut pekerjaanmu, pekerjaan yang menghidupi keluarga kita, aku tahu, kenapa kau mempertahankan pekerjaan itu walau harus kau tukar dengan nyawamu sekalipun, karena hanya itu pekerjaan yang mampu kau lakukan untuk menghidupiku dan anak-anak kita. Melawan lima orang sendirian, karena tak ada yang membantumu karena anak buah telah di beri uang oleh mantan germoku untuk tidak membantumu, di tengah pertarungan itu kau berhasil membunuh dua orang dari mereka pertanda kegigihanmu melawan mereka, kegigihanmu membela kebahagian keluargamu, walau akhirnya nyawamu tak dapat di selamatkan.
***
Stasiun senen pagi ini. Di lorong dekat taman patung tekad merdeka, orang-orang ramai berkumpul, membentuk setengah lingkaran karena memang di depan mereka ada pagar yang menghalangi, dari tempat aku berdir tak bisa kulihat apa yang mereka kerubungi, penasaran, aku ingin menghampirinya ketika sebuah tangan menarik tanganku, sebuah tangan yang sangat aku kenal, sebuah tangan kasar yang sentuhannya terasa lembut di kulitku, sebuah tangan yang sangat aku rindukan memeluk tubuhku.
“istriku, aku sangat merindukanmu, telah lama aku menanti kedatanganmu di sini, kedatanganmu menemuiku untuk menjadi milikku utuh kembali, menikmati kerinduan dan cinta kita yang telah cukup lama tertahan.”
Seketika jiwaku dan jiwa suamiku melayang ke angkasa, meninggalkan ragaku yang tengah di pandangi orang-orang.


Beny Fauzan
Senen, 13/08/2010 00.53 WIB