Jumat, 30 Juli 2010

Aku Rindu Wajahmu, Ibu.

Sebagai seorang anak, kami adalah harapan dan pengharapan, sumber kebahagian, mempererat keutuhan sebuah keluarga. Kehadiran kami selalu di nanti-nantikan sebagai penerus sebuah keturunan, penerus nama keluarga. Tanpa kami sebuah hubungan akan menjadi kosong, seperti sayur tanpa garam, begitulah kata-kata orang arti sebuah anak. Tapi sayangnya tidak semua dari kami mendapat perlakuan seperti itu, termasuk aku.
Aku terlahir tanpa pernah di harapkan kehadiranku. Terkadang harapan bisa berubah menjadi sebuah aib, ketika sebuah tanggung jawab dari sebuah perbuatan tak lagi relevan, dan janji menjadi sebuah kata tanpa arti ketika norma masyarakat ikut mengambil peran.
Aku tercipta dari penyatauan cinta sepasang jiwa, cinta yang memabukkan mereka dalam usia muda. Tetapi ketika mimpi terenggut sebuah keharusan pilihan menjadi senjata yang memakan diri sendiri.

***
“ibu, aku ada karena kau yang membuatku ada.”
Di rahimmu, aku berlindung dari luka yang kau tanggung ketika ayahku meniggalkanmu dalam kesendirian, kesepian dan keterpurukan.
“Apa ini salahku ibu?”
Karena aku tak bisa memilih siapa yang akan menjadi ayahku, dan kaulah yang memilihkannya untukku.
“Ibu, kini hapuslah airmatamu.”
Sembilan bulan sepuluh hari, kau menangis tanpa henti, meratapi semua yang pernah terlewati. Dan aku mendengar dan menanggis bersamamu.
“Oh ibu, aku tak bisa melihat, meraba, dan berlari.”
Sekian lama aku menunggu untuk melihat, meraba wajahmu dan berlari kepangkuanmu. Aku sangat merindukannya ibu, sunguh. tapi, obat yang sering kau minum waktu aku masih di kandungan telah mengambil mata, tangan dan kakiku. Hanya jiwaku dan semangat untuk melihat dan meraba wajahmu dan berlari kearahmu yang tak bisa dia rengut dariku.

***
“Ibu, kaukah ini, yang memelukku dengan kedua sayap di punggung.”
Dengan kaki mungilku aku berlari kearahmu, meraba wajahmu.
“Ibu, aku bisa melihat dan berlari, Aku bahagia.”
Ketika aku dilahirkan semalam, aku tak bisa melihat bahkan untuk mengeluarkan suara tangis pun aku tak mampu sehingga aku manangis dengan hatiku dan sampai membawanya ke tidurku.
“Kau sangat cantik ibu, kau tersenyum, sudah selesaikah tanggismu?”
“Tunggu dulu, apa benar kau ibuku?”.


F. Farian Pratama.
Bekasi 31 juli 2010 5:10

Kamis, 29 Juli 2010

Airlangga

Raja Airlangga (Bali, 990 – Kahuripan, 1049)

Airlangga atau sering di sebut Erlangga adalah pendiri kerajaan Kahuripan pada tahun 1019 dan memerintah sampai dengan tahun 1045, kerajaan Kahuripan di bangun sebagai kelanjutan dari kerajaan Medang yang runtuh tahun 1006 oleh serbuan Sriwijaya.
Airlangga merupakan putera pasangan Mahendradatta (puteri dari Dinasti Isyana, Medang) dan Udayana (raja Dinasti Warmadewa, Bali). Ia dibesarkan di istana Watugaluh (Kerajaan Medang) di bawah pemerintahan raja Dharmawangsa.
Ketika kerajaan Medang diserang Sriwijaya pada tahun 1006, Airlangga masih berusia 16 tahun. Pada penyerangan itu sekutu Sriwijaya, Wurawari membakar kerajaan Medang, Raja Dharmawangsa beserta bangsawan kerjaan Medang tewas dalam serangan itu. Namun, Airlangga mampu melarikan diri ke hutan bersama pengawalnya yang bernama Narotama, dan menjadi pertapa beberapa tahun kemudian.
Dan pada tahun 1019 setelah beberapa tahun menjadi pertapa, Airlangga mampu menyatukan kembali kerjaan Medang yang sudah terpecah-belah dan membangun kerajaan Kahuripan, yang wilayahnya membentang dari Pasuruan di timur hingga Madiun di barat.
Selama pemerintahan Raja Airlangga seni sastra berkembang pesat di kerajaan Kahuripan. MPU Kanwa seorang penyair yang hidup di masa Raja Airlangga, menulis kitab kakawin arjunawiwaha. Kakawin ini menceritakan sang Arjuna ketika ia bertapa di gunung Mahameru. Lalu ia diuji oleh para Dewa, dengan dikirim tujuh bidadari. Bidadari ini diperintahkan untuk menggodanya. Nama bidadari yang terkenal adalah Dewi Suprada dan Tilottama. Para bidadari tidak berhasil menggoda Arjuna, maka Batara Indra datang sendiri menyamar menjadi seorang brahmana tua. Mereka berdiskusi soal agama dan Indra menyatakan jati dirinya dan pergi. Lalu setelah itu ada seekor babi yang datang mengamuk dan Arjuna memanahnya. Tetapi pada saat yang bersamaan ada seorang pemburu tua yang datang dan juga memanahnya. Ternyata pemburu ini adalah batara Siwa. Setelah itu Arjuna diberi tugas untuk membunuh Niwatakawaca, seorang raksasa yang mengganggu kahyangan. Arjuna berhasil dalam tugasnya dan diberi anugerah boleh mengawini tujuh bidadari ini. Oleh para pakar ditengarai bahwa kakawin Arjunawiwaha berdasarkan Wanaparwa, kitab ketiga Mahābharata.
Pada akhir pemerintahan Raja Airlangga kerajaan dibagi menjadi dua kerajaan, Kerajaan Janggala dan Kerajaan Kadiri untuk kedua putranya pada tahun 1045. Dan ia memilih untuk menjadi pertapa hingga akhir hayatnya tahun 1049.

*Data diambil dari berbagai sumber.


Beny Fauzan
Balikpapan, 30 juli 2010 03:00

Selasa, 27 Juli 2010

purnama di balikpapan.


; malam ini bulan begitu angun, se-purnama dirimu di hatiku


purnama di balikpapan.

bulan terjaga di kota ini
ketika malam menjadi tawar
di angkasa lusinan walet menari
tertawai luka yang semakin memar
inikah purnama, bisik ombak kepada pantai
setelah sekian lama mengalun rindu dalam gelombang
dan pendar cahaya merah melukis awan
luka dan pengkhianatan merajam dadaku.

wahai purnama, biarkan aku mati di sini.



Beny Fauzan
balikpapan 28 juli 2010 3:21

Kamis, 22 Juli 2010

Rusukku yang Kau Rampas

Mencintaimu tak akan melukaiku bukan tentang memiliki tetapi tentang senyum di bibirmu, cinta ikhlas memberi bukan menerima.

Kucintai kau selayaknya, seperti siang berganti malam, matahari bertukar tempat dengan bulan, musimmusim berganti dan ku gengam tanganmu diantaranya. Daun berguguran ketika senja mulai merah jingga serupa cinta yang kusematkan di dada, memberi irama kepada malam yang akan menemanimu. bukan aku.

Kutitipkan rindu pada angin yang menerpa wajah. semoga, berbisik di telingamu, membacakan alamat tentang arah kepulangan, harapan dan ketulusan; di hatiku.

Di bidang dadaku, dulu pernah kau ukir sajaksajak tentang riwayat sejarah luka dan airmata. Lalu, kau kembali melupa setelah percakapan pertama, menutup pintu dalam pertemuan pungung.

Dan kau tulis puisi tentang kemunafikan sebagai penganti rusukku yang kau rampas.

“Aku terluka,” katamu. dan belati masih tergengam erat di tanganmu sementara darah mengucur dari dadaku yang kau tinggalkan.


Beny Fauzan
Planet Senen 22/ juli / 2010 20.30

Rabu, 21 Juli 2010

Setelah Kepergianmu

setelah kepergianmu
detik berhenti berdetak
angin berhenti bertiup
jantungku berhenti berdenyut

setelah kepergianmu
siang menjadi malam
malam menjadi siang
dan aku terperangkap diantaranya

airmata jadi pelepas dahaga
ketika luka semakin nganga
hidup dan mati tak ada arti
setelah kepergianmu..

Apa Kabar Surga Pagi Ini, Sayang?

Malam hampir berganti pagi. kutuliskan kerinduan untukmu, karena hanya dengan menulislah aku bisa menyampaikan kerinduan ini. Sayang, setelah kepergianmu aku sangat suka memandang langit malam, diantara bintangbintang itu, aku tahu, kau tersenyum kepadaku. Apa kabar surga pagi ini, sayang?
Saat ini hidupku tak lagi seperti ketika kau ada di sampingku. Berbagi cerita, tertawa, bercinta, menangis dan memaki norma dunia. Ketahuilah, Ketika kau pergi, pun jiwaku ikut bersamamu, aku ingin segera menyusulmu, tapi kau tahu ini belum waktuku. Bersabarlah, sayang.
Aku masih suka ketempat terakhir kau memilih untuk mengakhiri perjuanganmu, menabur bunga dan membawa sekotak ice cream kesukaanmu dan aku merasakan kau hadir mengengam tangan dan hatiku. Di pohon besar yang rindang ini, dulu kita selalu menghabiskan hari dalam sejuta senyuman dan kebahagian, di sini kau pernah berkata ingin menjadi burung, terbang bebas kemana pun ia mau. Kini, kau telah menjadi burung itu.
Mungkin saat ini kau membenciku, benci atas kepengecutanku untuk memperjuangkan cinta kita. Aku menyerah dan memilih kebahagian cara mereka, kebahagian yang tak memperdulikan hati. tapi, setelah kepergianmu aku tersadar dan kau benar, kebahagian adalah hati.
Sayang, kau kenalkan dengan wanita yang menjadi istriku saat ini, dia wanita yang sangat baik, malah terlalu baik mungkin. tapi, cinta tak pernah bisa memaksa atau dipaksa, dan ia adalah misteri yang tak bisa di tebak kedatangannya. Ketahuilah sayang, ketika aku bersamanya adalah wajahmu yang ada dimataku, bahkan saat kami bercinta.
Selamat tidur sayang. Matahari sudah hampir terbit di ufuk timur dan wajahwajah para pememakai topengpun telah terbangun hingga tak ada tempat untuk ketulusan cinta kita lagi, dan akupun harus memakai topeng kembali, topeng kemunafikan.

Yang selalu mencintaimu,


(***** ***** *****)


NB : sayang, aku tak akan pernah bisa berhenti untuk menuliskan kerinduanku untukmu, seperti aku tak akan pernah bisa berhenti untuk mencintaimu.

Jumat, 16 Juli 2010

untuk kita, sahabat. "Revolusi Diri"

secarik kertas kehidupan menulis namanama kita dengan hurufhuruf yang tak beraturan, hingga kita harus menyusun kembali dan menjadikannya utuh.

kawan, luka selalu meninggalkan bekas sebagai tanda hidup bukanlah mimpi. tak ada kebahagian tanpa merasakan kesakitan.

ingat, kawan. jalan tak selalu lurus, kelok dan simpangan kadang menipu, harapanharapan palsu butakan tujuan.

tapi, nasib milik kita sendiri, garis tangan hanya sebuah alasan dari ketakmampuan. dan ini perjuangan kita, revolusi diri.

bekasi, 17/juli/2010 3:45.