Kamis, 11 Agustus 2011

Pemujamu

dan ingin kukenal kau

sebagai debar risau

tak kusentuh tak kujamah

tentangmu, tak akan usai sudah



Bekasi, 12/08/11

Jumat, 05 Agustus 2011

yang terlewati

; kepadamu IF

barangkali benar katamu dulu; tak akan ada yang bisa mencintaiku seperti kau mencintaiku. dan juga tak akan ada yang mengertiku kecuali kamu.
waktu berjalan, ribuan kilometer kisah telah kulewati, bahkan telah kujamah daerah-daerah hati yang tak terjamah.
dan dari sekian banyak itu, akhirnya juga aku sadari; tak ada orang yang bisa begitu sangat membenciku seperti kau membenciku, kini.

untittled

; kepada L



deru suara nafasmu membuat irama indah pada jantungku malam itu, di bidang sebelah kiri dadaku kau rebah, memberi kehangatan tersalur dari payudara sebelah kananmu.

malam itu dingin sekali, sayang.



sayang, entah mengapa aku selalu suka menggelus payudara sebelah kananmu, ada semacam keberanian yang kau simpan disana dan itu membuatmu merasa bebas bersinar seperti bintang terang yang pernah kau tunjukkan kepadaku.



dan tentang payudara sebelah kirimu sayang, bukannya aku tak suka sayang, tapi di payudara sebelah kirimu ketika tanganku memegangnya, ada semacam getar ketakutan yang kau simpan diam-diam, ketakutan yang beranak pinak dirahim logikamu.

Rabu, 03 Agustus 2011

annelies

Sebab kesucian bukanlah yang tak bernoda
Tetapi, dari nodalah ia bercahaya


Annelies,

Tak perlu kau resah akan waktu
Atau yang telah menjadi masa di masalalu
Karna semua telah tergurat
Tak akan pernah bisa diralat

Annelies,
Annelies,

Padamu aku datang
Telanjang
Setelah takdir buat kita mengerang
Sisakan puing-puing di antara tulang

Setibaku, sambutlah aku
Tak perlu kau malu
Tak perlu jua kau ragu
Karna padamu, segala aku tertuju

Sebab kesucian bukanlah yang tak bernoda
Tetapi, dari nodalah ia bercahaya


Annelies,
Annelies,

Aku bawakan kau buah tangan;
Jantungku, ---yang selalu berdetak menyebut namamu
Sesekali mungkin juga ia lupa
Karna diantara bunyi detak
Selalu tercipta jeda

Dan selain itu,
Tak ada lagi yang bisa kuberi
Jalan kehidupan telah menjadi pencuri
Yang memperkosa kesucian hati

Sebab kesucian bukanlah yang tak bernoda
Tetapi, dari nodalah ia bercahaya

Senin, 30 Mei 2011

hati dan kata; padanya aku berserah..

Berhenti membaca hati dan menulis..

Senin, 25 April 2011

Malam Yang Kautakuti.

Di ujung hari, semakin cemas tak lepas kau tatap senja seperti waktu-waktu lalu, seiring semburat merah semakin cerah diufuk barat, debar detak di jantungmu semakin bergema tak teratur. Kepadaku pernah kau katakan “aku tak suka senja, merahnya isyaratkan luka dan perpisahan.”. namun, tetap saja kau pandangi lekat semburat di kaki langit barat itu, seakan tak ingin melepas cahya matari ke keperaduannya.
“bukanlah malam kutakutkan, tetapi, sepi yang terbawa dalam gelapnya itulah menyimpan gelisah.”. Begitulah ucapmu, setelah malam mencuri kembali keriuhan dan membawa sepi, dan sendiri, dan kenangan.
Ya, kenangan. Menurutmu, adalah sebuah belati pengkhianatan diri terhadap diri sendiri, walaupun kau tahu waktu tak akan menghapusnya, tetap saja kau tusukkan belati itu berulang-ulangkali ke jantungmu ketika gelap merampas keperawanan malam. Begitulah, kita tak bisa memilih atas kenangan, karna pada dasarnya hati dan pikiran adalah dua kehidupan yang hidup dalam satu wadah, dan kenangan selalu ada di-antara-nya.
Sebenarnya kaupun tahu, tak ada alasan untuk kautakuti sepi malam serta kenangan yang merajam ingatanmu, selayaknya ingatan, adalah guratan yang telah tercatat dalam lembaran buku kehidupan dengan tinta-tinta keabadian. Kau pun tahu, masing-masing kisah yang terlewat adalah judul-judul bab dalam buku kehidupanmu ---yang menjadikannya cerita utuh.
Malam takkan hilang walau kau tutup seluruh pintu dan jendela, menyalakan suar dan seribu lilin dalam ruang serta mengambar matahari dilangit-langit kamar. Karna malam yang sesungguhnya adalah urat di lehermu, jalur kehidupan antara hati dan pikiran, seimbangkan masalalu, saat ini dan masa akan datang.
Ingin sekali kutemani kau meretas malam yang kautakuti dengan cahyaku, mendekapmu dengan kehangatan, namun, waktu mempunyai detaknya sendiri, sepertiku ---yang siang.

Kini di kotaku

Di kota ini, kini udara kian asing
Pertemuan dua arus jadi batas
Arus yang mungkin akan membanjiri matamu
Dan aku. serupa udara, kian asing
Bergerak bebas dalam kesendirian

Lalu jalan-jalan di kota ini
bukan lagi penentu arah kepergian-kepulangan
Setelah simpang begitu mengoda
Memberi tujuan baru dari mimpimimpi
Yang dulu kita bangun dari pinggir
Ketika udara meniup lembut gengam tangan kita

Sebab Kini, di kota ini
Udara kian asing
Jalan-jalan sepi
Sesepi gerak bebas kesendirian

Maka, kubiarkan saja
Segala percakapan menjadi udara
Dan jalan-jalan semakin bersimpang
Karna segala janji bukanlah akhir mimpi; lagi.


Villa nusa indah 23/04/11