Senin, 01 November 2010

Pagi ini aku ingin meminum arak


Pagi ini aku ingin meminum arak
Agar terlupa sejenak sesak
Lama sudah kuhindari kelupaan
Sejak sepi dan kesendirian menjadikanku tawanan

Pagi ini aku tak ingin meminum kopi
Membuatku selalu terjaga akan luka ini
Setelah kepergianmu, aku tahu luka ini abadi
Seabadi pagiku yang tak lagi bermentari

Oh, beranda yang dulu menjadi saksi
Ketika kata perpisahan, membuat rindu jadi kuburan kesepian
Lelapkanlah aku sejenak
Seperti kau menidurkan setiap mimpi
yang kutanam di tanah harapan dari masalalu

dan adalah aku
kehilangan diriku sendiri
ketika sepi dan kesendirian
menanam keegoisan

dan adalah aku
terus bertanyatanya, kapankah kau bawa kembali?
jiwaku yang kau curi ketika pertama kali
kau rebahkan tubuhmu di dadaku, di beranda hatiku

pagi ini aku ingin meminum arak
agar terlupa sejenak sesak
dan bila terbangun nanti
aku kembali siap dengan semua luka ini


Bekasi.

Kamis, 28 Oktober 2010

Tentang Merindumu


berungkali kita tulis sejarah kesendirian, kelak menjadi riwayat airmata yang tumpah di matamu dan bermuara di dadaku. serupa hujan malam ini, dingin.
sekilas kenang tertangkap di ingatan, tentang kita yang bermandi peluh, bertukar dekap dan tatap, nafas begitu memburu seakan detik tak ingin terlewat sia-sia.
malam itu kuletakkan bintang dan bulan di langit kamarmu, semoga kau ingat itu, sayang.

lalu, petir menyambar dan gemuruh bergema di langit, membuncahkan kerinduan yang sangat, ketika kita memilih bermalam dalam kesendirian. dan aku merindumu.

ketika merindumu, di mana sepi semakin sunyi adalah aku yang menjadi pendusta ketika kukatakan aku ingin sendiri, sementara, aku tahu kesendirian adalah luka yang teramat perih.

malam kian memanjang, sapamu kembali hilang, lindap di bawa angin. dan kini kutahu, tak ada yang abadi tentang kau dan aku, selain ingatanku tentangmu.


Bekasi.

Senin, 25 Oktober 2010

Menungumu


Di setiap pagi setelah kepergianmu, kuganti secangkir kopiku dengan segelas susu, agar ketika kau kembali, masih ada aku di sini, menungumu..

Label Harga

Dan aku mulai menghitung seberapa banyak cinta di dadaku, setelah kulihat cintamu terpajang di etalase dan berbandrol harga.

setelah cukup kukumpulkan uang untuk menebus cintamu yang berlabel harga, akupun bingung untuk memilih warna, tak ada warna merah yang kusuka, hanya ada warna putih, hitam dan abuabu, warna yang tak ada gairah kehidupan, kosong.

akhirnya, kutentukan untuk memilih warna puith, yang begitu suci katamu, tapi, sungguh tak kutemukan kehidupan dan gairahnya, hingga harus kupikir ulang kembali untuk membeli cintamu.

Tak Tercatat

kelak, ketika kau berjanji setia kepadaku
jangan kau ucapkan, cukup kau tuliskan saja
karna bahasa ucap tak pernah meningalkan jejak
hingga aku tak bisa menagih apaapa kepadamu

di perkataan terakhirmu, kau tinggalkan tanya
serupa kata yang selalu kau ingkari dan merubahnya menjadi aku
bukankah telah kucatat di dadaku?
kau pun tahu itu, tapi, kita samasama bengal
khianati semua telah terucap dan memilih melupa dan dilupakan

lalu, ketika waktu beranjak menjauh
menghitung jarak diantara janji
kita mulai menghitung seberapa besar rindu dan dendam
mempermainkan catatan kecil di hatiku dan mu
tentang kenangan, yang selalu menjadi jalan buntu untuk memilih langkah
akhirnya, kita kembali menagih apa yang tak pernah tercatat.

Jumat, 22 Oktober 2010

karena Aku Mencintaimu

; Linie Maharani

karena aku mencintaimu
maka tak ingin kubuatkan sangkar
terbang tinggilah, kepakkan sayapmu
beritahu dunia keindahan warnamu

karena aku mencintaimu
sesempurna purnama malam ini
kesempurnaan yang abadi
dan tempat segala kecantikan mengembara

karena aku mencintaimu
lebih dari apa yang kau ketahui
tentang cinta
tentang rindu
tentang mimpi
yang hidup di dadaku
yang mengatur detak di jantungku

karena aku mencintaimu
seperti anak kecil yang merindukan air susu ibunya
seperti nyanyian para bidadari surga
seperti aku dan diriku

kaulah puisi yang ingin kupeluk
begitu erat, seperti memeluk hatiku sendiri
karna aku mencintaimu...


Bogor,

Selasa, 19 Oktober 2010

kau tahu?

kau tahu?
di setiap detak jantungku ada namamu berdetak.
dialiran darahku ada jiwamu mengalir.
lalu, kenapa tak kau indahkan resah?
akulah sang penunggu, menunggumu didetik risau senjaku.
janganlah bertanya sampai kapan?
karena akan kutunggu sampai senja tak lagi merupa luka.